Pawai Budaya: Penonton Membeludak, Rute Pendek

BUDAYA: Peserta Kirab Budaya Semipro yang mendapat sambutan luar biasa dari penonton. Sayangnya, rute yang terlalu pendek untuk ukuran acara pawai, membuat penonton tak bisa menyaksikan secara maksimal. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PROBOLINGGO – Setelah melalui proses panjang terkait penentuan rute, Kirab Budaya Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro) digelar Minggu (27/8). Jumlah penonton yang membeludak, membuat acara ini tak luput dari keluhan. Betapa tidak, penonton harus uyel-uyelan.

Jalannya pawai budaya yang dimulai sekitar pukul 12.30, sejatinya sangat meriah. Ribuan masyarakat mendatangi lokasi, sejak pagi hari. Sayangnya, mereka tak bisa maksimal menonton pawai karena padatnya penonton.

Dari pantaua Jawa Pos Radar Bromo, pawai diikuti 33 rombongan yang menampilkan ragam budaya Indonesia. Rombongan pertama diisi oleh Wali Kota Probolinggo Rukmini beserta kepala OPD. Rombongan ini diiringi oleh marching band Korsip Manggala Praja Pemkot Probolinggo.

Selain atraksi marching band, beberapa rombongan menampilkan tari-tarian tradisional. Seperti dari Disdikpora menampilkan tarian Gurung Manalagi. Ada juga penampilan tarian kreasi baru seperti Tari Ronggeng Nyentrik, Rama Shinta, serta Tari Kembang Setaman.

Sayangnya, masing-masing kesenian hanya mendapat kesempatan tampil selama maksimal 3 menit di depan tenda VIP. Waktu tersebut rupanya sengaja ditentukan panitia.

Sementara itu, Moch Maskur,  ketua Kirab Budaya Semipro mengungkapkan bahwa kegiatan kirab ini dalam rangka memeriahkan HUT RI ke 73 serta rangkaian kegiatan Semipro. “Selain itu, juga melestarikan budaya bangsa,” ujarnya.

Wali kota Probolinggo Rukmini dalam sambutannya mengungkapkan perasaan bangga dengan gelaran Kirab Budaya Nasional Semipro 2018. “Mudah-mudahan penonton tertib dalam rangka mengikuti rangkaian Kirab Budaya Nusantara Semipro,” ujarnya.

Meskipun pelaksanaan Kirab Budaya Semipro berjalan lancar, tidak sedikit masyarakat yang mengeluhkan jarak lokasi pawai yang dekat. Sehingga, masyarakat yang menonton tidak bisa puas melihat pawai budaya.

“Susah sekali cari tempat buat nonton. Lokasi pawainya pendek sekali. Kasihan anak-anak gak bisa lihat karena desak-desakan,” keluh Destiana, 28, warga Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.

Menurut ibu 2 anak ini, jarak lokasi pawai yang pendek membuat penonton bergerombol di satu titik saja. Yakni, di depan kantor Pemkot Probolinggo sampai Jatiluhur. “Kasihan anak-anak harus uyel-uyelan karena lokasinya sempit,” ujarnya.

Akhirnya, Destiana dan 2 putranya memilih keluar dari barisan penonton. Pasalnya kerap anak-anak terdorong ke depan karena dari barisan belakang ada penonton yang memaksa untuk maju. “Saya mundur saja daripada anak-anak terinjak penonton,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Raihan, 35. Warga Kabupaten Probolinggo ini hanya sebentar melihat pawai budaya karena kesulitan untuk melihat langsung. “Datang pukul 11 sudah penuh yang berdiri di pinggir pagar. Anak saya juga ndak bisa lihat. Sempat lihat sebentar karena anak saya naikkan di bahu, tapi capek juga. Akhirnya milih mundur saja wes,” ujarnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, desak-desakan penonton terjadi di sepanjang rute pawai yang berjarak sekitar 500 meteran. Sebagian penonton berdesakan di balik pagar yang disiapkan panitia sampai depan Kodim.

Namun, selepas Kodim tidak tampak pagar sehingga penonton pun menumpuk berdesakan. Bahkan, ada juga orang tua yang sengaja mengangkat anaknya untuk dipindah ke depan pagar agar bisa melihat langsung pawai. (put/fun)