Cerita Pengusaha Kuliner Merugi Imbas Penundaan Resepsi Pernikahan

Merebaknya pandemi Covid-19 atau virus korona di Indonesia, membuat hampir semua aktivitas terhenti. Salah satunya, menunda dan meniadakan semua kegiatan yang mengundang kerumunan. Termasuk di antaranya, menunda resepsi pernikahan.

———————-

Pandemik korona telah mempengaruhi hampir semua kegiatan, bahkan hajat hidup orang banyak. Demi mencegah penyebaran virus yang berasal dari Tiongkok itu, pemerintah pusat hingga daerah melakukan beragam kebijakan yang boleh dikata ekstrem.

Salah satu yang sedang terus menerus disosialisasikan yaitu melarang semua kegiatan yang bisa mendatangkan kerumunan. Mulai kegiatan keagamaan, termasuk resepsi pernikahan.

Hal itu sesuai dengan Maklumat Kapolri Nomor: Mak/2/III/2020 tanggal 19 Maret 2020, masyarakat diminta tidak mengadakan kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang atau massa dalam jumlah besar. Baik di tempat umum maupun lingkungan sendiri.

Kondisi ini membuat banyak resepsi pernikahan dibatalkan. Baik di Probolinggo, maupun di Pasuruan. Imbasnya pun dirasakan oleh katering dan persewaan peralatan pernikahan.

Di Probolinggo, Lila Catering bahkan harus merugi sampai Rp 1 miliar, akibat puluhan resepsi pernikahan yang ditunda. Sebab, bukan hanya satu atau dua resepsi pernikahan yang ditunda. Namun, mencapai puluhan.

Terhitung mulai tanggal 20 Maret hingga akhir April, ada 72 acara pernikahan yang dibatalkan. Memang, masih ada 21 acara pernikahan pada April yang kateringnya menggunakan Lila Catering. Namun, diprediksi 21 acara pernikahan itu juga akan dibatalkan.

Lila Umami, pemilik Lila Catering mengatakan, pihaknya memang menerima pesanan katering untuk puluhan resepsi pernikahan selama bulan Maret sampai April. Namun, puluhan pesanan itu dibatalkan. Penyebabnya, karena pemerintah melarang semua kegiatan yang bisa mengundang massa dalam jumlah banyak.

Terhitung mulai 20-31 Maret, ada 10 resepsi pernikahan yang dibatalkan. Selanjutnya, pada bulan April, ada 52 resepsi pernikahan yang batal. Sisanya, yakni 21 resepsi pernikahan di bulan Maret masih belum ada keputusan.

“Tapi, saya yakin dengan kondisi seperti ini, besar kemungkinan yang 21 nikahan itu juga akan dibatalkan,” beber perempuan yang akrab disapa Bu Lila itu.

Lila bahkan menegaskan, pesanan katering untuk 72 resepsi pernikahan itu dibatalkan total. Bukan ditunda atau dijadwal ulang.

Sebab, hingga kini belum ada konfirmasi atau komunikasi lebih lanjut dari pemesan untuk menjadwal ulang pesananya. Di sisi lain, hingga akhir 2020, pesanan katering di tempatnya sudah penuh. Karena itu, sulit untuk menjadwal ulang atau memindah jadwal.

“Kalau mau dipindah atau dijadwal ulang, kan harus melihat jadwal yang lainnya. Soalnya kan bulan selanjutnya hingga akhir tahun sudah penuh,” beber perempuan yang tinggal di Jl Deandels, RT 02/RW 01, Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo itu.

Akibat pembatalan tersebut, Lila mengaku mengalami kerugian hingga Rp 1 miliar. Bukan tanpa alasan. Menurutnya, dua bulan sebelum acara resepsi pernikahan berlangsung, ia sudah membeli semua bahan pokok yang dibutuhkan untuk resepsi. Seperti beras, gula, sirup, dan bahan yang lain. Karena ditunda, maka semua bahan pokok itu mangkrak di rumahnya.

“Saya ada 200 karyawan. Dan saya pastikan karyawan saya tidak akan kekurangan untuk makan. Karena semua bahan itu bisa dimakan sendiri. Walaupun, tidak mungkin habis untuk makan kami. Namun, untuk yang lain ini, saya bingung. Soalnya dompet kan juga menipis,” terangnya.

Yang lebih memprihatinkan, menurut Lila, para pedagang kecil pun saat ini kesulitan mencari makan. Banyak pedagang yang mengeluh kepadanya akibat daganganya tidak laku.

“Banyak pedagang yang datang ke sini, mengeluh dagangannya tidak laku. Lalu minta agar saya membelinya. Saya sampaikan bahwa saya juga tidak punya uang. Tapi, karena mereka minta ditukar dengan beras dan gula, akhirnya saya berikan. Sekarang barang dagangan dari mereka numpuk di rumah. Ada bawang merah, pisang, dan yang lain. Bahkan semua kulkas saya penuh dengan ikan,” tambahnya.

 

Omzet Terjun Bebas

Di Kota Pasuruan, juga ada Suci Mahardiko, pemilik Artaboga Katering yang mengalami hal serupa. Selama bulan Maret, menurutnya, bisnisnya menurun 30-40 persen dibanding biasanya.

“Imbas larangan kerumunan, juga berimbas pada bisnis food and beverage .Termasuk hajatan, baik pernikahan dan rapat juga banyak dibatalkan di bulan Maret ini,” terangnya.

Tercatat ada lima event di Maret ini yang dibatalkan juga ditunda. Sedangkan, bulan April belum ada konfirmasi. Untuk hajatan pernikahan bahkan sudah ada yang membatalkan.

“Ada pernikahan yang memilih tidak menggelar resepsi, akad nikah saja, sehingga katering dibatalkan. Dari pihak kami karena pengantin sudah bayar uang muka atau DP 25 persen, kami memilih mengembalikan atas dasar situasi saat ini,” jelas pria yang juga politisi PKS ini.

Dengan 20 karyawan, saat ini bisnis kulinernya masih bertahan. “Saat ini masih bertahan, belum tahu bulan depan. Apakah mulai ada pengurangan jam kerja atau malah bergantian kerja. Tapi, semoga wabah virus korona ini bisa segera selesai. Sehingga, bisnis bisa kembali normal,” ujarnya.

 

Photo Wedding Juga Terdampak

Hal serupa dialami Aminudin, pemilik Hidden Photography di Kota Pasuruan. Untuk Maret sampai awal April, ada dua pasang pengantin yang menunda acaranya. “Karena ada penundaan, nanti akan dijadwal ulang. Pengantin sudah membayar uang muka 50 persen. Dan kami mempersilakan menjadwal ulang nantinya sampai situasi aman,” terangnya.

Dengan situasi sekarang, Aminudin mengatakan, permintaan prewedding masih bisa dikerjakan. Sehingga, 6 karyawan masih bisa digaji. Sedangkan penundaan event wedding memang akan mengganggu pemasukan.

“Kami berusaha memaksimalkan, segera menggarap event pernikahan dan prewedding sebelumnya agar bisa selesai dan segera dibayar. Hal ini untuk operasional selama penundaan ini,” terangnya.

 

Berlakukan Protokol Kesehatan

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Pasuruan AKP Hardi menegaskan, sejak keluar larangan kerumunan oleh Presiden dan Maklumat Kapolri 19 Maret, Polsek sampai Polres Pasuruan rutin patroli siang malam untuk mengimbau warga membubarkan kerumunan. Imbasnya memang pemilik usaha banyak yang mengeluh usahanya sepi.

“Kami sifatnya ajakan dan imbauan. Kalau ada kerumunan, kami imbau segera bubar dan menerangkan bahayanya korona. Selama ini masyarakat menurut. Hanya saja dari pemilik usaha yang mengeluh usahanya jadi sepi,” terangnya.

Namun, memang ini salah satu upaya agar menekan penyebaran virus korona. Termasuk saat ini makin getol, apalagi Kapolres Pasuruan juga tidak mengeluarkan izin keramaian. Sehingga, jika ada kegiatan yang mendatangkan massa, maka sebelumnya atau H-1, polisi sudah datang ke lokasi agar membatalkan acara.

“Jika ternyata masih diselenggarakan, seperti beberapa hari lalu ada akad nikah yang tetap digelar, Polwan kami kerahkan untuk datang dan memberikan protokol kesehatan. Seperti membatasi jarak undangan, dan wajib memakai hand sanitizer,” terangnya.

Dengan situasi saat ini, diharapkan masyarakat juga lebih waspada dan juga menghindari kegiatan kerumunan. Ini agar penyebaran virus korona juga tidak makin tinggi dan demi keamanan bersama. (rpd/eka/hn)