Sebulan, Tercatat 8 Kecelakaan Kerja di Kota Probolinggo

KANIGARAN, Radar Bromo – Angka kecelakaan (laka) kerja di Kota Probolinggo sepanjang Januari 2020, dinilai tinggi. Total, ada delapan laka kerja yang terjadi.

Seperti yang dicatat pengawas tenaga kerja Subkorwil Probolinggo, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Timur. Dari delapan laka kerja itu, dua di antaranya menyebabkan korban meninggal dunia, dan enam lainnya mengalami luka-luka.

“Secara keseluruhan, selama Januari ini ada delapan kecelakaan kerja di Kota Probolinggo. Dua di antaranya meninggal dunia dan enam korban luka-luka,” terang Daya Wijaya, Koordinator wilayah Probolinggo, Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur setelah rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi 3 DPRD Kota Probolinggo, Kamis (23/1).

Dari enam orang yang luka-luka, lima di antaranya menjalani rawat jalan. Dan satu orang mendapat perawatan khusus.

Daya mengungkapkan, kecelakaan kerja ini banyak dialami oleh orang-orang atau pekerja di luar perusahaan atau pihak ketiga. Seperti kecelakaan kerja di PT KTI dan sopir ekspedisi supplier PT AFU.

“Penyebab banyak orang luar yang menjadi korban kecelakaan kerja, karena mereka tidak memahami standar keselamatan kerja di sana. Kalau karyawan pabrik sudah memahami K3. Tapi pihak luar yang masuk ke pabrik ini kemungkinan tidak tahu soal itu,” ujarnya.

Karena itu, pengawas tenaga kerja menyarankan agar perusahaan intensif memberikan informasi mengenai standar keselamatan kerja di perusahaan. Informasi harus diberikan kepada semua pihak yang berada di lingkungan pabrik.

Ninuk Sri Lestari, pengawas tenaga kerja Subkorwil Probolinggo mengaku prihatin dengan terjadinya delapan kecelakaan kerja di kota. Jumlah itu menurutnya termasuk tinggi.

“Jumlah itu termasuk tinggi. Karena kecelakaan kerja itu terjadi dalam waktu berdekatan, hanya beberapa hari. Dan ada korban meninggal dunia,” tuturnya.

Di sisi lain, laka kerja ini justru terjadi pada dilaksanakannya bulan K3. Yaitu tanggal 12 Januari sampai 12 Februari.

“Setelah dianalisa, kecelakaan kerja ini terjadi karena dua faktor. Yaitu unsave action atau perilaku tidak aman dan unsave condition atau kondisi tidak aman. Kebanyakan laka kerja ini  karena unsave action atau perilaku tidak aman dari pekerja itu sendiri,” ujarnya.

Tari –sapaan Ninuk Sri Lestari menambahkan, UU Nomor 1/1970 tentang Keselamatan Kerja menjelaskan, perusahaan harus menjamin keselamatan tenaga kerja serta setiap orang yang berada di tempat kerja. Baik itu  tamu, maupun pihak ketiga harus terlindungi.

Safety-nya jarus betul-betul dijalankan. Karena kejadian kecelakaan kerja ini kebanyakan terjadi pada vendor atau pihak ketiga. Seperti di PT KTI dan PT AFU, ” ujarnya.

Tari berharap setiap orang yang masuk ke pabrik diberi penjelasan terlebih dahulu tentang lokasi-lokasi yang berbahaya. Termasuk penggunaan apar, baik itu masker atau helm.

“Kami berharap perusahaan dengan minimal tenaga kerja 100 harus punya panitia pembina K3 (P2K3),” tambahnya. (put/hn)