alexametrics
24C
Probolinggo
Saturday, 23 January 2021

Duka Keluarga Korban Kecelakaan Maut Purwodadi, Sejatinya Hendak Sambang Kepulangan Umrah

Di antara tujuh korban meninggal dalam kecelakaan maut di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, lima orang masih bersaudara. Mereka semua naik mobil Daihatsu Ayla, saat kecelakaan terjadi, Minggu (22/12).

—————

Beberapa saat setelah kecelakaan mengerikan terjadi pada Minggu (22/12) siang di Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, pelayat mulai berdatangan di rumah duka. Dua rumah yang ada di Desa Susukanrejo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, mulai dipenuhi ratusan orang.

Lamat-lamat terdengar lantunan tahlil. Seluruh keluarga pasangan suami-istri Abdul Mukti – Sokhibatul Islamiyah dan kakak perempuannya, Lilik, tak kuasa membendung kesedihan. Tangis mereka pecah saat tiga jasad tiba di rumah duka.

Ya, tiga orang itu menjadi korban meninggal dalam kecelakaan maut di jalan nasional jurusan Malang-Surabaya, Minggu (22/12). Mereka adalah pasangan suami-istri, Abdul Mukti – Sokhibatul Islamiyah. Dan kakak perempuan dari Sokhibatul Islamiyah.

Selepas salat Magrib, ketiga jenazah itu dikebumikan berdampingan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Susukanrejo. Sekitar 200 meter dari rumah para korban.

Selain ketiganya, dua korban meninggal yaitu pasangan suami istri Nur Kholis – Luluk. Jenazah keduanya juga langsung dimakamkan malam itu di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Plinggisan. Luluk adalah mantan saudara ipar dari Lilik. Praktis, mereka berlima masih terhitung keluarga.

Mereka berlima saat kecelakaan terjadi berada di satu mobil. Yaitu, Daihatsu Ayla. Diduga Ayla tertimpa ekskavator yang lepas dari bak lantai truk trailer. Sehingga, membuat lima korban di dalam mobil Ayla meninggal.

Pasangan suami-istri, Abdul Mukti – Sokhibatul Islamiyah meninggalkan dua putri. Yakni, Mufid dan adiknya yang bernama Widya. Hingga Senin (23/12), mereka masih begitu terpukul. Betapa tidak, kedua orang tuanya berpulang dalam waktu bersamaan atas insiden yang tak terduga sebelumnya.

Sementara, Lilik Maimunah yang tak lain ialah kakak dari Sokhibatul Islamiyah, selama ini hidup menjanda. Lilik meninggalkan tiga anak, seorang anak lelaki dan dua anak perempuan. Sedangkan mantan saudara iparnya, Luluk meninggalkan dua anak lelaki.

Minggu (22/12) pagi, sebelum insiden tragis itu terjadi, sedianya lima orang tersebut hendak berkunjung ke rumah Didik, kerabatnya di Lawang, Kabupaten Malang. Didik baru saja pulang menunaikan ibadah umrah.

Ada sekitar 39 orang yang ikut dalam rombongan tinjau umrah itu. Seluruhnya juga masih memiliki hubungan keluarga.

Abdul Mukti dan empat orang lainnya yang menumpang mobil Daihatsu Ayla merupakan rombongan yang berangkat lebih awal. Sekitar pukul 09.30.

Disusul dengan rombongan mobil Daihatsu Taruna yang berpenumpang tujuh orang. Mobil itu dikemudikan oleh Nanang Habibi, sepupu Sokhibatul Islamiyah dan Lilik. Kemudian mobil Elf yang memuat 20 penumpang.

Setibanya di daerah Warungdowo, rombongan Abdul Mukti berhenti. Niatnya hendak membeli oleh-oleh untuk tuan rumah yang baru pulang umrah. Mobil rombongan Abdul Mukti itu beriringan dengan mobil Daihatsu Taruna yang dikemudikan oleh Kusaeri. Namun, rombongan Kusaeri berada paling belakang.

Nanang Habibi bercerita, rombongannya dan penumpang Elf tiba di rumah Didik sekitar pukul 10.00. Kala itu, tuan rumah sudah menjamunya. Sembari menunggu kedatangan rombongan Abdul Mukti dan Kusaeri, mereka juga sempat menyantap hidangan. Cukup lama mereka menunggu. Hingga sekitar pukul 11.00, mobil rombongan Kusaeri datang.

Kusaeri sempat mengungkapkan apa yang ia jumpai di perjalanan sehingga kedatangannya sedikit terlambat. Tak lain ialah karena terjebak macet akibat kecelakaan yang terjadi di Sentul, Purwodadi.

“Mas (Kusaeri, Red) cerita bahwa yang kecelakaan mobil Ayla, penumpangnya gemuk-gemuk,” tutur Nanang Abidin.

Sebenarnya, Kusaeri tak menyadari siapa yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas yang dilihatnya saat menuju Lawang. Mendengar cerita kakaknya, Nanang spontan menduga itulah rombongan Abdul Mukti.

SUDAH DIMAKAMKAN: Makam Abdul Mukti yang ada di TPU desa setempat. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

 

“Saya langsung spontan, ‘itu Lek Mukti’, karena sampai sekarang belum datang,” ujarnya.

Beberapa kerabat yang lain menepis Nanang agar tak berpikiran buruk. Akan tetapi, Nanang langsung berinisiatif menelpon ponsel seluruh penumpang Daihatsu Ayla itu. Tak satupun menjawab. Ia semakin panik. Begitu juga kerabat yang lain. Beberapa saat kemudian, telepon Luluk terjawab. Namun ada suara asing di seberang telepon.

“Yang ngangkat telepon orang lain, bukan Mbak Luluk. Dia mengatakan kalau Mbak Luluk kecelakaan,” terang Nanang.

Seketika itu, Nanang dan beberapa kerabat menuju lokasi mengendarai motor. Ia langsung memastikan bahwa kelima penumpang mobil berwarna putih itu merupakan saudaranya.

“Mudah-mudahan tercatat sebagai amal baik karena niat dan tujuannya ke Lawang juga baik, meninjau saudara yang pulang umrah,” harap Nanang.

Nanang sama sekali tak menyangka insiden tragis itu menimpa keluarganya. Ia juga tak merasakan firasat apapun. Hanya saja sepeninggal para korban, banyak cerita terungkap. Pagi hari sebelum berangkat, Lilik memasak lontong dan menyembelih dua ayam.

Kepada anaknya, Mahmud Efendi, Lilik mengaku hendak mayoran sepulangnya dari Lawang. Berbeda dengan Luluk yang pagi itu begitu senang karena mengenakan kerudung hadiah dari anaknya bertepatan dengan Hari Ibu.

Beberapa kerabat Abdul Mukti bercerita saat mereka mengikuti Haul Habib Ali bin Muhammad alHabsy di Solo beberapa waktu lalu. Ketika itu, Mukti bercerita bahwa saat ini telah mendekati liburan sekolah. Mukti sendiri berjualan di kantin sekolah.

“Sama saudara-saudara ditanya, ‘berarti sampeyan juga libur jualannya?’ Lek Mukti menjawab akan libur seterusnya,” terang Nanang.

Jumat (20/12), Mukti dan keluarganya juga sempat ke Malang. Kata Nanang, Mufid bercerita jika ayahnya sempat menghentikan kendaraan di sekitar Purwodadi. Tidak jauh dari lokasi kecelakaan yang dialami Mukti.

“Lek Mukti katanya sempat bilang bahwa kalau ada kecelakaan di sana, korbannya kebanyakan tidak selamat,” jelas Nanang. (tom/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU