Begini Prosesi Ritual Lima Tahunan Unan-unan Warga Tengger

SUKAPURA – Ritual lima tahunan yakni Unan-unan digelar masyarakat Suku Tengger di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jumat (23/11). Dalam ritual tersebut, warga berebut Tamping. Yakni, nasi dan darah kerbau. Tamping itu nantinya akan diletakkan di ladang. Harapannya, lahan tersebut menjadi subur.

Unan-unan merupakan tradisi selamatan desa sekaligus penentuan awal kalender Tengger. Ritual yang digelar di sebuah punden bernama Punden Mbah Agung Kejayan ini dimulai sekitar pukul 10.00. Lokasinya sekitar 100 meter dari kantor desa setempat.

Sebelum dimulai, seluruh warga berkumpul di kantor desa setempat. Mereka bersama-sama mengarak kepala kerbau yang akan dipersembahkan dalam ritual. Selama membawa sesaji itu, iringan musik tradisional membahana. Kepala kerbau yang akan menjadi sesembahan dalam ritual, dipikul oleh beberapa orang.

Saat sampai di Punden Mbah Agung, sudah ada sebuah pentas dengan beberapa sesaji di atasnya. Kepala kerbau itu kemudian diletakkan di sisi paling timur. Baru setelah itu, dukun membaca mantra Unan-unan. Mantra dibacakan sekitar 10 menitan. Saat mantra itu dibacakan, warga berada di depan pentas seraya menunggu pembagian sesaji.

“Mantra ini dibacakan setiap lima tahun sekali. Namanya yaitu mantra Unan-unan. Mantra ini berbeda dengan mantra ritual lain. Untuk Unan-unan ya khusus,” ujar Ngatik, salah seorang dukun yang memimpin ritual itu.

Tujuan dari ritual ini sendiri, menurut Ngatik, tak lain adalah selamatan bulan dan desa. Sebab, dalam setahun ini ada 6 hari yang hilang selama enam bulan. Hilangnya enam hari dalam enam bulan pada tahun ini, terjadi setiap lima tahun sekali.

“Unan-unan itu berasal dari kata Nunasasi. Nuna itu kurang, sasi itu bulan. Jadi, dalam enam bulan tahun ini ada enam hari yang hilang. Karena itu, kemudian digelar selamatan. Ritual ini juga sebagai sedekah bumi agar dihindarkan dari bala. Warga lima tahun mendatang diberi keselamatan dan juga diberi rezeki yang melimpah,” tuturnya.

Warga yang berada agak jauh dari pentas, kemudian beringsut ke panggung setelah mantra selesai dibacakan. Mereka berebut Tamping, yakni sajian nasi dan darah kerbau. Sebab, Tamping ini nantinya diletakkan di ladang. Menurut warga, Tamping membantu menyuburkan tanah.

“Saya dapat sepuluh Tamping ini. Iya nanti akan saya sebar di ladang agar subur. Tidak dimakan, cuma ditaruh di ladang,” ungkap Suminah, 39, salah seorang warga.

Hal senada disampaikan Kades Sapikerep Siwandi. “Ini merupakan awalan. Penentuannya akan dilakukan oleh dukun se-Tengger,” tuturnya. “Semoga warga semuanya bisa terhidar dari segala musiba. Dan, juga bisa diberikan kelimpahan rezeki,” jelasnya.

Acara ini sendiri berakhir dengan ritual tayuban. Hal ini dilakukan untuk memberikan hiburan dari roh leluhur yang ikut dalam ritual tersebut.

Sementara itu, pelaksanaan tradisi Unan-unan di Desa Pandansari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, berlangsung meriah. Ribuan warga mengikuti ritual yang ditunggu-tunggu warga Tengger di Pandansari.

Tampak hadir Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur dr Mufti Aimah Nurul Anam, yang diundang oleh kelompok warga untuk menyaksikan tradisi tersebut. (sid/rf/mie)