Warga Mangunharjo Arak Hewan Kurban sebelum Disembelih, Ini Alasannya

PROBOLINGGO – Kemeriahan hari raya Idul Adha Rabu (22/8), terasa di Kota Probolinggo dengan beragam cara. Di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, tradisi unik digelar warga. Yaitu, tradisi Telasan.

Tradisi ini berupa penghormatan terakhir bagi hewan yang akan dikurbankan. Baik kambing, juga sapi. Sebelum disembelih, hewan kurban diarak keliling kampung.

Tidak hanya diarak. Hewan kurban dihias, seperti dikalungi dengan bunga. Lalu, perut hewan diberi sabuk putih dari kain.

Sambil diarak, warga mengabarkan bahwa ada hewan yang akan dikurbankan. Warga yang menyaksikan kemudian bergantian mengelus hewan yang akan dikurbankan.

Arak-arakan juga dilengkapi dengan penampilan grup rebana di bagian depan. Lalu, hewan kurban. Dan, di bagian belakang warga yang mengikuti arak-arakan.

Arak-arakan baru berhenti di tempat penyembelihan. Baru setelah itu, atribut yang dikenakan hewan dilepas. Hewan pun lantas disembelih.

Basori, salah seorang tokoh masyarakat setempat  mengatakan, tradisi ini adalah tradisi tahunan yang berasal dari tradisi pendalungan Jawa- Madura. “Ini, merupakan tradisi yang diwariskan oleh leluhur warga yang berada di Kampung Sentono, Kelurahan Mangunharjo,” katanya.

Menurutnya, tradisi ini biasa dilakukan masyarkat sekitar setelah salat Idul Adha. “Ini sudah turun temurun dilakukan warga. Bahkan, sudah ada sebelum saya lahir,” ujarnya.

Menurut Basori, kegiatan ini digelar untuk memberikan penghormatan terakhir bagi hewan kurban yang hendak disembelih. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai petanda bahwa di desanya ada yang berkurban.

“Selain penghormatan terakhir, juga untuk memberitahu warga bahwa akan ada penyembelihan hewan kurban. Selain itu, juga bentuk rasa syukur kami kepada yang Mahakuasa,” tandasnya.

Arak-arakan, menurutnya, juga bertujuan untuk memancing warga yang berkecukupan. “Harapannya, warga yang mampu bisa untuk melaksanakan  kurban di tahun mendatang,” tandasnya.

Jidan, seorang pengguna jalan yang kebetulan lewat di daerah itu mengatakan, tradisi itu cukup unik. Ia tidak pernah melihat sebelumnya di daerah lain. “Cukup unik. Saya sebelumnya tidak pernah melihat tradisi seperti ini,” katanya.

Menurutnya, tradisi semacam ini harus terus dilestarikan. “Tentunya harus terus dilakukan setiap tahun. Harus dilestarikan oleh anak cucu agar tidak musnah dimakan zaman,” ujarnya. (sid/hn)