Utang Rp 60 Juta, Pasutri di Purwoadi Ini Jaminkan Sertifikat Palsu, Akhirnya Dibekuk Polisi

PURWODADI, Radar Bromo – Pasangan suami-istri (pasutri) Nursiati, 44 dan Syamsul Arifin, 41, diamankan Polsek Purwodadi. Mereka diamankan setelah diketahui menjaminkan sertifikat tanah palsu untuk berutang.

Petugas Buser Polsek Purwodadi mengamakan keduanya Selasa (21/1) pukul 18.00 di rumah mereka. Yaitu di Dusun Rejopasang, Desa Gerbo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

Kanit Reskrim Polsek Purwodadi Aiptu Joko Santoso menjelaskan, peristiwa itu berawal pada Mei 2018. Saat itu mereka berutang uang Rp 60 juta pada Sartini, 35, warga Desa Dawuhan Sengon, Kecamatan Purwodadi.

Untuk berutang itu, mereka menjaminkan sertifikat tanah pada Sartini. Namun, ternyata diketahui bahwa sertifikat itu adalah palsu. Karena itu, korban melapor ke Polsek Purwodadi.

“Pelaku pasutri ini pinjam uang ke korban Rp 60 juta dengan jaminan sertifikat tanah yang ternyata palsu. Saat ditagih oleh korban, mereka selalu berbelit. Karena itu, korban melapor pada kami. Dan pelaku kami amankan,” terang Aiptu Joko.

Selain menangkap pelaku, petugas mengamankan tiga sertifikat tanah palsu dari pelaku. Sementara satu lagi, dijaminkan oleh pelaku di sebuah koperasi di Kecamatan Tutur dan belum diambil oleh petugas.

Empat buah sertifikat tersebut semuanya atas nama Nursiati, dengan nomor yang sama. Hak milik nomor: 14-14, Desa Gerbo. NIB: 12.06.02.12.02081 letak tanah dan tanggal akte pendirian tercatat 15-12-1975.

“Pelaku pasutri ini mengaku punya sertifikat tanah palsu empat buah. Tiga sudah kami amankan dan satu masih dijaminkan ke koperasi di Tutur. Sudah kami cek ke BPN, hasilnya palsu semua,” ucapnya.

Atas perbuatannya, pasutri tersebut dijerat pasal 378 KUHP dan 264 KUHP atau 263 KUHP. “Ancaman maksimalnya sembilan tahun penjara,” tegasnya.

Sementara itu, pasutri Nursiati, 44 dan Syamsul Arifin, 41, mengaku memalsukan sendiri sertifikat tersebut. Mereka mendapat sertifikat itu dari Malang. Yakni dari Ponijan, warga Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Ponijan, menurut Nursiati, eks pegawai BPN. Namun, dinas di daerah mana, Nursiati mengaku tidak tahu persis.

PALSU: Sertifikat palsu yang digunakan Nursiati dan Syamsul Arifin untuk jaminan utang. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

 

“Sebelum utang uang ke Ika Rp 60 juta, saya lebih dulu beli sertifikat tanah palsu di awal tahun 2018. Waktu itu saya beli empat sertifikat. Belinya dari Ponijan, orang Jabung, Malang,” bebernya.

Kala itu, Ponijan menawarkan tiap sertifikat tanah palsu sebesar Rp 1 juta. Karena dianggap murah dan menyakinkan, dia dengan ditemani suaminya langsung membeli empat sertifikat ke Ponijan.

“Saya langsung beli empat sertifikat tanah palsu, totalnya Rp 4 juta saja. Setelah itu, kami putus kontak dan informasi terakhir Ponijannya sudah meninggal,” ujarnya.

Sertifikat tanah palsu itu lantas dipakai untuk meminjam uang. Pada Mei 2018, mereka pinjam uang Rp 60 juta ke korban Ika. Kebetulan, keduanya mengenal Ika dengan baik.

Uang sebesar itu lantas digunakan untuk modal warung dan toko kelontong miliknya. Rencana, utang itu akan mereka lunasi apabila modalnya kembali.

Namun, ternyata mereka tidak kunjung bisa melunasi utang pada korban. Bahkan, korban akhirnya tahu bahwa sertifikat itu ternyata palsu.

“Uang Rp 60 juta sudah habis. Selain untuk modal juga kami gunakan buat pemenuhan kebutuhan sehari-hari,” cetus Nursiati.

Secara terpisah, Kanit Reskrim Polsek Purwodadi Aiptu Joko Santoso menegaskan, pihaknya tengah menelusuri pembuat sertifikat tanah palsu ini. Ia menduga, pelakunya seorang profesional.

Diduga juga, pelakunya tidak hanya membuatkan atau menjual sertifikat tanah palsu ke pasutri Nursiati dan Syamsul Arifin saja. Kemungkinan, pembuat sudah menjual ke banyak orang.

“Bentuk fisiknya sepintas memang tampak asli, tapi kalau diperhatikan hologram serta tanda tangannya sangat meragukan. Pelaku pembuatnya informasinya Ponijan asal Jabung, Malang. Saat ini dalam lidik,” terangnya. (zal/hn/fun)