Puluhan Pebalap Liar Digelandang Polisi, Saat Diamankan Lempari Petugas

PASURUAN – Meski sering dirazia, aksi balap liar yang kerapkali digelar di jalanan Kota Pasuruan belum benar-benar surut. Minggu (21/10) dini hari, aparat kepolisian terpaksa membubarkan paksa aksi balap liar di Jalan Wahidin Sudirohusono. Puluhan pebalap liar juga digelandang ke Mapolres Pasuruan Kota. Begitu pula dengan puluhan motor protolan, turut diamankan.

PROTOLAN: Motor yang ikut diamankan polisi sebagian protolan. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Kabag Ops Polres Pasuruan Kota, Kompol Sutiswono mengatakan, razia itu dilakukan sejak pukul 22.00. Pihaknya mengerahkan puluhan personel yang bergerak menuju area pelabuhan Pasuruan. Dari sana, ditemukan beberapa pemuda yang berkerumun.

Polisi kemudian melakukan penggeledahan. “Namun tidak kami temukan indikasi kriminalitas. Hanya saja, ada tujuh motor yang kami tindak dengan sanksi tilang karena kondisinya protolan,” tutur Sutiswono.

Selanjutnya, polisi bergeser menuju Jalan Wahidin Sudirohusodo. Sutiswono menyebut, pihaknya memang mendapatkan informasi adanya balap liar yang tengah berlangsung. Tak hanya itu, pebalap liar itu juga menutup jalan. Tak jarang, mereka juga melempari pengguna jalan lain yang melintas di jalan tersebut.

“Ada 21 kendaraan motor protolan yang kami amankan,” tambah Sutiswono. Selain itu, puluhan pemuda yang terindikasi terlibat dalam aksi balap liar itu turut digelandang ke Mapolres.

Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Slamet Santoso mengatakan, ada sebanyak 22 pebalap liar yang diamankan. Saat razia dilakukan, sejatinya ada banyak pemuda yang berkumpul di sepanjang jalan itu. Namun mereka berhasil kabur saat digerebek petugas.

“Bahkan ada sebagian yang melawan petugas saat melakukan penertiban,” kata Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Slamet Santoso.

Puluhan pemuda dari berbagai wilayah itu pun diperiksa secara bergiliran. Slamet menyebut, dari sejumlah pemuda yang diamankan juga banyak yang masih dibawah umur. Rinciannya, sebanyak 11 orang masih dibawah umur. Sedangkan 11 diantaranya sudah berusia dewasa.

Slamet menuturkan, aksi balap liar itu memang mengganggu ketertiban masyarakat. Selain itu, mereka juga berpotensi terlibat dalam aksi kriminalitas. “Apalagi mereka sudah berani melempari kendaraan yang melintas. Begitu pula saat hendak diamankan petugas,” jelas Slamet.

“Mereka yang dibawah umur hanya dilakukan pembinaan. Orang tua mereka dipanggil dan kami beri pengertian agar lebih mengawasi anak-anaknya. Mereka juga dikenai wajib lapor,” ujar Slamet. Sedangkan 11 orang yang sudah dewasa, dijerat dengan tindak pidana ringan.

Menurut Slamet, diterapkannya tindak pidana ringan itu dilakukan agar menjadi terapi kejut bagi para pelaku. Apabila mereka kembali diketahui melakukan pelemparan kendaraan dan pengrusakan, maka polisi akan menjeratnya dengan tindak pidana umum.

“Ini hanya peringatan. Kami harapkan agar tidak terulang lagi. Kalau masih dilakukan di kemudian hari, akan kami terapkan pasal 170 KUHP,” tandasnya. (tom/fun)