Pengoplos Elpiji Dibekuk, Bisa Untung Rp 100 Juta per Bulan, Ada yang Buat Nyicil Mobil

DIPRAKTIKKAN: Muhammad Rusdi, dan Mochammad Ahlal Firdaus, saat dirilis di Mapolres Pasuruan. Nampak keduanya mempraktikkan cara saat mengoplos elipiji 3 kilogram ke tabung 15 kilogram nonsubsidi. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

BANGIL, Radar Bromo – Harga gas elpiji bersubsidi yang lebih murah, dimanfaatkan untuk mencari untung. Caranya, mengoplos gas elpiji bersubsidi ke nonsubsidi.

Inilah yang dilakukan dua warga Kabupaten Pasuruan ini. Yaitu, Muhammad Rusdi, 34, warga Nganglang, Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang dan Mochammad Ahlal Firdaus, 20, warga Genengan, Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo.

Namun, aksi culas keduanya akhirnya terbongkar oleh anggota Satreskrim Polres Pasuruan. Mereka ditangkap polisi Kamis (6/2).

Pada petugas, kedua tersangka mengaku nekat melakukan aksi culas itu untuk membayar utang. Yaitu, cicilan mobil. “Untuk membayar cicilan mobil,” jelas Rusdi dan rekannya, Ahlal Firdaus.

Kapolres Pasuruan AKBP Rofik Ripto Himawan menyebut, pengoplosan itu sudah dilakukan kedua tersangka sekitar 10 bulan belakangan. Mereka mengoplos elpiji di lahan pekarangan milik Muhammad Rusdi, warga Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang.

Caranya, memindahkan isi tabung elpiji bersubsidi 3 kg ke tabung 12 kg atau 50 kg. Elpiji dipindah dengan menggunakan pen besi yang disambungkan hingga tabung 12 kg atau 50 kg terisi penuh.

“Pelaku mengoplos dengan alat pen besi. Tabung elpiji bersubsidi yang terisi gas 3 kg, mereka pindah ke tabung kosong gas elpiji 12 kg dan 50 kg. Berulang kali, hingga tabung 12 kg dan 50 kg penuh,” ujar Rofik-sapaan Rofik Ripto Himawan.

TERSANGKA: Muhammad Rusdi diketahui Nganglang, Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang. Sedangkan Mochammad Ahlal Firdaus berasal dari Genengan, Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo.(Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Dalam sehari mereka bisa mengisi puluhan tabung gas elpiji 12 kg dan 50 kg. Untuk itu, mereka membutuhkan ratusan tabung melon atau tabung gas elpiji 3 kg. Setidaknya, 500 tabung mereka bisa dapatkan dari sebuah pangkalan yang ada di Purwosari.

Menurut Kapolres, bisnis itu mereka jalani karena tergiur untung. Ada selisih harga yang cukup jauh antara gas elpiji bersubsidi dengan nonsubsidi. Per kilogram harga elpiji subsidi ukuran 3 kg hanya berbandrol Rp 6 ribu. Sementara untuk nonsubsidi, yakni untuk ukuran 12 kg dan 50 kg bisa sampai Rp 10 ribu per kilogram.

“Ada selisih harga yang cukup tinggi. Yakni, Rp 4 ribu per kilogram. Ini yang membuat para pelaku tergiur untuk berlaku curang,” sambungnya.

Tabung gas elpiji 12 kg dan 50 kg yang sudah diisi tabung gas untuk jatah masyarakat miskin atau subsidi, kemudian mereka sebarkan ke toko-toko di Kabupaten Pasuruan. Harganya Rp 120 ribu untuk tabung gas elpiji 12 kg dan Rp 562 ribu untuk tabung gas 50 kg.

“Mereka berbagi peran. Tersangka MR (M. Rusdi, Red) adalah pengoplos dan pemilik lahan. Sementara MAF (M. Ahlal Firdaus, Red) berperan tak hanya mengoplos, tetapi juga mendistribusikan dan pemilik modal untuk membeli elpiji 3 kg,” sampainya.

Keuntungan yang didapatkan sangat fantastis. Satu bulannya, rata-rata mereka bisa mendapat untung hingga Rp 100 juta. Hasil yang menjanjikan inilah yang membuat Ahlal Firdaus, yang tercatat sebagai pecatan tentara dan M. Rusdi tergiur untuk menekuninya.

Kapolres menguraikan, praktik nakal kedua pelaku terbongkar setelah polisi mendapatkan informasi dari masyarakat. Dari informasi itu, petugas melakukan penelusuran. Hingga akhirnya kedua tersangka diringkus di pekarangan milik M. Rusdi.

“Kami menangkap mereka saat sedang mengoplos elpiji,” urainya.

Dari penangkapan itu, petugas menemukan sejumlah barang bukti. Selain enam set pen besi, petugas juga mengamankan satu set segel plastik 3 kg dan 50 kg, 850 buah segel tabung elpiji 12 kg, satu pikap, puluhan tabung gas elpiji 3 kg, dan sejumlah barang bukti lainnya.

“Mereka kami jerat pasal 55 atau pasal 53 jo 23 UU RI Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas. Paling lama, hukumannya 6 tahun penjara. Serta denda paling tinggi Rp 50 juta,” sambungnya. (one/hn/fun)