alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Ada Konflik dengan TNI AL, Warga Desa Sumberanyar Baru Bisa Nonton TV Jam 24.00

Jika dusun lain terang benderang, tidak demikian dengan Dusun Alas Kerbau dan Dusun Gunung Bukor di Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Di sana, suasana remang-remang. Sebab, PLN tidak bisa masuk resmi.

————-

Polemik agraria yang terjadi antara warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan dengan TNI AL, membuat jaringan listrik tidak bisa masuk ke semua dusun. Ratusan KK di dua dusun di Desa Sumberanyar, terpaksa menggunakan warung listrik (warlis) sampai sekarang.

Ada sekitar 565 kepala keluarga (KK) yang tidak dapat menikmati aliran listrik dari negara. Rinciannya, 245 KK di Dusun Alas Kerbau dan 320 KK di Dusun Gunung Bukor. Kondisi ini disebabkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) menolak untuk melayani warga di sini.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, tidak adanya PLN membuat rumah warga setempat menjadi remang-remang. Warga menggunakan listrik secara terbatas dengan voltase naik turun. Sebab, mereka menggunakan jaringan listrik dengan menumpang jaringan milik warga di Desa Kapasan dan Desa Randuati, Kecamatan Nguling.

Saat wartawan media ini berkunjung pukul 21.00 ke Dusun Alas Kerbau, suasana dusun remang-remang. Lampu tidak bisa menyala normal, karena voltase naik. Turun.

Namun, karena sudah biasa, warga pun beraktivitas normal saja. Beberapa warga malam itu, sedang berkumpul di rumah Misnari, Ketua RT 35. Mereka ngobrol santai dengan penerangan dari warlis yang seadanya.

Misnari mengungkapkan, kondisi ini sudah lama terjadi. Menurutnya, warga menggunakan warlis untuk mendapat aliran listrik.

Karena menggunakan warlis, warga tidak bisa menonton televisi selama enam jam mulai pukul 18.00 sampai pukul 24.00. Jika memaksa, pasti lampu di rumah mati.

Karena itu, antara pukul 18.00 sampai 24.00, warga memang lebih banyak beraktivitas di luar rumah. Kebanyakan, mereka berkumpul dan ngobrol santai.

Pukul 22.00, baru warga beranjak masuk rumah. Jam segitu, listrik mulai agak terang, walau belum normal. Listrik baru terang, pukul 23.00. Dan baru di atas jam 24.00, warga bisa nonton televisi.

“Kami baru bisa menonton televisi setelah pukul 24.00. Sebab, voltasenya naik turun. Tidak pernah di atas 100 volt. Baru bisa menonton di atas pukul 24.00, karena banyak rumah yang sudah mematikan lampu. Apalagi menggunakan kulkas jelas tidak mungkin,” ungkapnya.

Pria yang menjadi ketua RT 35 di dusunnya ini mengaku, dalam setahun terakhir ia kehilangan satu televisi dan beberapa lampu. Semuanya rusak akibat voltase yang naik turun. Bahkan, saat malam dirinya tidak pernah ngecas HP karena khawatir HP rusak.

“PLN menolak membuat jaringan di dusun kami. Otomatis kami menggunakan warlis saat malam. Hanya, ya gitu voltasenya naik turun. Selama malam hari, kami tidak bisa ngecas HP dan menghidupkan televisi. Punya kulkas saja tidak mungkin,” terang Misnari.

Kades Sumberanyar Purwo Eko membenarkan kondisi ini. Ia mengaku ada enam dusun yang masuk daerah konflik agraria di Desa Sumberanyar. Yakni, Dusun Curahtimo, Dusun Wonokaton, Dusun Belung, Dusun Gunung Bukor, Dusun Karanganyar, dan Dusun Alas Kerbau.

Di keenam dusun ini, Pemdes menerima sejumlah larangan dari TNI AL. Salah satunya, melarang jaringan listrik masuk. Larangan ini keluar pada tahun 2015.

Namun, empat dusun seperti Dusun Curahtimo, Wonokaton, Belung, dan Dusun Karanganyar dapat dialiri listrik. Di empat dusun itu, Pemdes beserta warga melakukan swadaya sejak tahun 1999.

Sementara dua dusun lainnya yakni Dusun Gunung Bukor dan Alas Kerbau, sempat hendak swadaya pada 2015. Namun, kesulitan karena ada larangan dari TNI AL.

“Kalau empat dusun lainnya membuat listrik sebelum terbitnya larangan TNI AL pada 2015. Jadi, kami bisa mengupayakan secara swadaya. Namun, tetap membayar tagihan setiap bulannya ke PLN. Otomatis dua dusun lainnya tidak teraliri listrik,” sebut Purwo Eko.

Tokoh masyarakat Desa Sumberanyar, Eko Suryono mengaku sangat menyayangkan kondisi ini. Sebab, Desa Sumberanyar berada di dekat PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Jawa Bali. Namun, sampai saat ini jaringan listrik belum menjangkau.

“PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Jawa Bali malah mengalirkan jaringan listrik ke Kota Surabaya, Kota Malang, dan sekitarnya. Ini sungguh ironis. Mereka ada di dekat Desa Sumberanyar. Tapi, malah yang dekat tidak mendapatkan jaringan listrik,” terang Eko. (tim)

Jika dusun lain terang benderang, tidak demikian dengan Dusun Alas Kerbau dan Dusun Gunung Bukor di Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Di sana, suasana remang-remang. Sebab, PLN tidak bisa masuk resmi.

————-

Polemik agraria yang terjadi antara warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan dengan TNI AL, membuat jaringan listrik tidak bisa masuk ke semua dusun. Ratusan KK di dua dusun di Desa Sumberanyar, terpaksa menggunakan warung listrik (warlis) sampai sekarang.

Ada sekitar 565 kepala keluarga (KK) yang tidak dapat menikmati aliran listrik dari negara. Rinciannya, 245 KK di Dusun Alas Kerbau dan 320 KK di Dusun Gunung Bukor. Kondisi ini disebabkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) menolak untuk melayani warga di sini.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, tidak adanya PLN membuat rumah warga setempat menjadi remang-remang. Warga menggunakan listrik secara terbatas dengan voltase naik turun. Sebab, mereka menggunakan jaringan listrik dengan menumpang jaringan milik warga di Desa Kapasan dan Desa Randuati, Kecamatan Nguling.

Saat wartawan media ini berkunjung pukul 21.00 ke Dusun Alas Kerbau, suasana dusun remang-remang. Lampu tidak bisa menyala normal, karena voltase naik. Turun.

Namun, karena sudah biasa, warga pun beraktivitas normal saja. Beberapa warga malam itu, sedang berkumpul di rumah Misnari, Ketua RT 35. Mereka ngobrol santai dengan penerangan dari warlis yang seadanya.

Misnari mengungkapkan, kondisi ini sudah lama terjadi. Menurutnya, warga menggunakan warlis untuk mendapat aliran listrik.

Karena menggunakan warlis, warga tidak bisa menonton televisi selama enam jam mulai pukul 18.00 sampai pukul 24.00. Jika memaksa, pasti lampu di rumah mati.

Karena itu, antara pukul 18.00 sampai 24.00, warga memang lebih banyak beraktivitas di luar rumah. Kebanyakan, mereka berkumpul dan ngobrol santai.

Pukul 22.00, baru warga beranjak masuk rumah. Jam segitu, listrik mulai agak terang, walau belum normal. Listrik baru terang, pukul 23.00. Dan baru di atas jam 24.00, warga bisa nonton televisi.

“Kami baru bisa menonton televisi setelah pukul 24.00. Sebab, voltasenya naik turun. Tidak pernah di atas 100 volt. Baru bisa menonton di atas pukul 24.00, karena banyak rumah yang sudah mematikan lampu. Apalagi menggunakan kulkas jelas tidak mungkin,” ungkapnya.

Pria yang menjadi ketua RT 35 di dusunnya ini mengaku, dalam setahun terakhir ia kehilangan satu televisi dan beberapa lampu. Semuanya rusak akibat voltase yang naik turun. Bahkan, saat malam dirinya tidak pernah ngecas HP karena khawatir HP rusak.

“PLN menolak membuat jaringan di dusun kami. Otomatis kami menggunakan warlis saat malam. Hanya, ya gitu voltasenya naik turun. Selama malam hari, kami tidak bisa ngecas HP dan menghidupkan televisi. Punya kulkas saja tidak mungkin,” terang Misnari.

Kades Sumberanyar Purwo Eko membenarkan kondisi ini. Ia mengaku ada enam dusun yang masuk daerah konflik agraria di Desa Sumberanyar. Yakni, Dusun Curahtimo, Dusun Wonokaton, Dusun Belung, Dusun Gunung Bukor, Dusun Karanganyar, dan Dusun Alas Kerbau.

Di keenam dusun ini, Pemdes menerima sejumlah larangan dari TNI AL. Salah satunya, melarang jaringan listrik masuk. Larangan ini keluar pada tahun 2015.

Namun, empat dusun seperti Dusun Curahtimo, Wonokaton, Belung, dan Dusun Karanganyar dapat dialiri listrik. Di empat dusun itu, Pemdes beserta warga melakukan swadaya sejak tahun 1999.

Sementara dua dusun lainnya yakni Dusun Gunung Bukor dan Alas Kerbau, sempat hendak swadaya pada 2015. Namun, kesulitan karena ada larangan dari TNI AL.

“Kalau empat dusun lainnya membuat listrik sebelum terbitnya larangan TNI AL pada 2015. Jadi, kami bisa mengupayakan secara swadaya. Namun, tetap membayar tagihan setiap bulannya ke PLN. Otomatis dua dusun lainnya tidak teraliri listrik,” sebut Purwo Eko.

Tokoh masyarakat Desa Sumberanyar, Eko Suryono mengaku sangat menyayangkan kondisi ini. Sebab, Desa Sumberanyar berada di dekat PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Jawa Bali. Namun, sampai saat ini jaringan listrik belum menjangkau.

“PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Jawa Bali malah mengalirkan jaringan listrik ke Kota Surabaya, Kota Malang, dan sekitarnya. Ini sungguh ironis. Mereka ada di dekat Desa Sumberanyar. Tapi, malah yang dekat tidak mendapatkan jaringan listrik,” terang Eko. (tim)

MOST READ

BERITA TERBARU

/