Pelaku Dhofir Sempat Kabur saat Warga Temukan Jenazah, Rumahnya Hanya 50 Meter dari Lokasi Penemuan

TEWAS MENGENASKAN: Jenazah Sya’roni saat hendak dibawa ke RS Bhayangkara usai ditemukan tewas bersama jenazah Imam Sya’roni di Desa Jatigunting, Minggu (20/1) pagi. Jenazah kedua korban saat ditemukan tewas mengenaskan. (Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

WONOREJO – Upaya polisi dalam memburu pelaku pembunuhan yang dialami Sya’roni dan Imam Sya’roni tidak berhenti pada tiga tersangka. Yakni, M. Dhofir, 59; Nanik Purwati, 30; serta Zainudin, 30. Diduga, masih ada pelaku lain yang terlibat dalam pembunuhan sadis itu.

TKP: Warga berada di depan rumah Nurul Huda, tempat ditemukannya jenazah kedua korban. (Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Sebelum tertangkap, warga memang curiga pada Dhofir yang tinggal di sebuah rumah tepat di depan rumah Nurul Huda, sebagai pelaku. Kecurigaan warga bukan tanpa alasan. Sebab, beberapa saat setelah kedua korban ditemukan terbakar, Dhofir diketahui kabur. Ia lari tunggang langgang melewati pintu belakang rumahnya.

“Dhofir keluar rumah dari pintu belakang sekitar pukul 04.00. Saat di sini masih ribut dengan kejadian ini,” ungkap Sumbari, salah seorang warga. Antara rumah Nurul Huda dan rumah Dhofir hanya berbatasan jalan perkampungan. Atau sekitar 50 meter dari ujung gang yang menembus jalan pedesaan.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, polisi tak hanya memasang police line di sekitar TKP pembakaran kedua korban. Melainkan juga di sekeliling rumah Dhofir.

Kapolsek Wonorejo AKP I Made Jayantara menuturkan berbagai pertimbangan hingga pihaknya memasang garis police line di sekeliling rumah Dhofir. Ia membeberkan upaya penelusuran dilakukan dari TKP pembakaran. Dari sana, polisi menemukan serpihan botol dalam kondisi hangus.

Made menduga, serpihan botol itu merupakan bekas botol bensin yang dijadikan bahan bakar untuk membakar kedua korban. Upaya itu lalu dilanjutkan dengan menyisir sekitar TKP. Tak jauh dari TKP pembakaran, polisi menemukan tutup botol bensin. Letaknya berada di teras rumah Dhofir. Benda-benda itu kemudian diamankan sebagai barang bukti.

Selain itu, polisi juga mengamankan sejumlah barang yang ada di sekitar rumah pelaku. Di antaranya sebuah pompa angin, bambu, dan kayu sepanjang sekitar 2 meter, serta beberapa helai pakaian. Dari dalam rumah pelaku, polisi juga mengamankan sebotol air mineral serta segelas sisa minuman teh.

Dhofir sendiri memang tercatat sebagai warga Dusun Sumbergentong. Akan tetapi, sejak lima tahun terakhir ia telah menghuni rumah di Dusun Krajan. Di sana, ia tinggal bersama Nanik Purwati dan kedua anaknya.

Di mata para tetangganya, Dhofir selama ini dikenal sebagai dukun. Hampir tiap malam, rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan tamu. “Selalu ada saja tamunya. Sampai malam. Jumlahnya tidak menentu. Kadang tiga orang, tapi pernah juga ramai, mungkin lebih dari sepuluh orang. Dan, itu setiap malam,” kata Latif, warga lainnya.

Namun, pemandangan itu tak terlihat sejak Sabtu (19/1) malam lalu. Rumah Dhofir tampak sepi tak sebagaimana biasanya. Seorang warga lain yang enggan disebutkan namanya mengaku, istri Dhofir sempat membeli bensin di toko miliknya sekitar pukul 20.00.

Sementara, Sumbari yang mengaku tak tidur hingga larut malam juga mengungkap fakta lain. “Sekitar jam 12 malam, saya lihat ada dua orang boncengan motor dari arah Sumbergentong. Kemudian menuju ke rumah itu,” katanya sembari menunjuk ke rumah tersangka.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Warga Dusun Krajan, Desa Jatigunting, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Minggu pagi dihebohkan dengan penemuan dua lelaki yang ditemukan tewas terbakar. Bahkan, kedua leher korban diikat menjadi satu menggunakan tali berbahan karet ban bekas.

Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh Nurul Huda, warga RT 2/RW 2 yang tinggal di sekitar lokasi kejadian. Sekitar pukul 02.30, Nurul Huda terbangun dari tidurnya lantaran mendengar suara berisik. Saat ditelusuri, suara tersebut bersumber dari depan rumahnya. (tom/fun)