alexametrics
28.5 C
Probolinggo
Saturday, 21 May 2022

Eks Kabid Dispora Menangis saat Ditahan, Mengaku Diperintah Atasan, Sebut Nama Munif

BANGIL, Radar Bromo– Sejak ditetapkan tersangka 1 Agustus silam, Lilik Wijayanti akhirnya ditahan di Rutan Bangil. Eks Kabid Olahraga di Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan itu, ditahan setelah berkas perkaranya rampung dan tinggal pelimpahan ke PN Tipikor Surabaya.

Sebelum ditahan, Kejari lebih dulu melakukan pemeriksaan lanjutan di ruang khusus. Pemeriksaan Lilik itu berlangsung lebih dari lima jam.    Lalu sekitar pukul 16.00, Lilik dikeler dari ruangan penyidik Pidsus untuk diantar ke Rutan Bangil. Lilik digiring keluar kantor Kejari dengan dipapah oleh dua penasihat hukumnya. Ia juga dikawal petugas Kejari untuk dibawa ke mobil tahanan.

Saat dikeler, Lilik sempat ‘bernyanyi”. Meski menutupi wajahnya dengan masker, suaranya masih terdengar jelas. Dengan isak tangis Lilik mengaku, bahwa yang dilakukannya atas perintah atasannya.

“Saya tidak bersalah, Mas. Saya hanya menjalankan perintah atasan, Mas,” aku Lilik saat digelandang menuju mobil tahanan Kejari.

Siapa atasan yang dimaksud? Lilik dengan gamblang menyebutkan nama Munif. Munif tak lain adalah mantan kepala Dispora Kabupaten Pasuruan yang saat ini menjabat Sekretaris DPRD Kabupaten Pasuruan.

Menurut PNS yang kini menjabat Kabid Politik dan Demokrasi di Kesbang Kabupaten Pasuruan itu, atasannya itulah yang meminta dia memotong anggaran setiap kegiatan di Dispora Kabupaten Pasuruan sepanjang tahun 2017. Besarnya potongan anggaran untuk setiap kegiatan, mencapai 10 persen. “Ada potongan 10 persen, Mas. Semua kegiatan,” tambahnya.

Penasihat Hukum Lilik, Elisa mengaku, kliennya tidak bersalah. Ia hanya menjalankan tugas sesuai dengan perintah atasannya. Bahkan, kliennya tidak menikmati sepeser pun hasil dari dugaan korupsi tersebut.

Ia menambahkan, kliennya seharusnya tidak dipenjara. Kalaupun dipenjara, harus ada orang lain yang juga dipenjara. “Dia tidak menyebut siapa atasannya. Tapi, ia mengaku kalau diperintah atasannya,” jelas Elisa.

Disampaikan Elisa, pihaknya bakal berusaha untuk mengajukan penangguhan. Supaya, kliennya bisa “dikeluarkan” dari penjara. “Kami akan berusaha untuk melakukan penangguhan,” ulasnya.

Sementara itu, Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan Denny Saputra menyampaikan, penahanan terhadap Lilik dilakukan lantaran berkas perkaranya sudah rampung. Pihaknya tinggal menyerahkan berkas tersebut ke PN Tipikor Surabaya. “Berkasnya sudah selesai dan tinggal pelimpahan. Kami menahan salama 20 hari dan selanjutnya, kewenangan pengadilan,” jelas dia.

Denny menambahkan, masih mendalami perkara tersebut. Karena bukan tidak mungkin ada tersangka lain yang bisa dijerat. “Masih kami dalami lebih lanjut,” ungkapnya.

DIPAPAH: Lilik Wijayanti saat keluar dari ruang penyidik Kejari Kabupaten Pasuruan, Kamis (19/9) sore. Saat hendak dibawa ke Rutan Bangil, Lilik menangis dan mengaku perbuatannya lantaran diperintah atasannya, yakni Eks Kepala Dispora (foto kiri). (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Kabupaten Pasuruan membidik kasus dugaan korupsi di Dispora Kabupaten Pasuruan. Kegiatan keolahragaan sepanjang tahun 2017, ditengarai ada mark up anggaran.

Salah satunya Pormadin yang digelar di Candra Wilwatikta Pandaan. Dampaknya, ada kerugian negara yang dinikmati sejumlah orang.

Berdasarkan penyidikan yang dilakukan, ditemukan kerugian negara hingga Rp 918 juta. Atas temuan itulah, pihak Kejari menetapkan Lilik sebagai tersangka.

Lilik dijadikan tersangka karena menjadi orang yang menyebabkan kebocoran anggaran dalam kegiatan di Dispora selama 2017.  Ia merupakan pemegang anggaran. Posisinya itu, membuatnya leluasa memanfaatkan uang negara hingga ada indikasi korupsi.

Penetapan tersangka Lilik dilakukan 1 Agustus 2019. Dan Kamis (19/9), Lilik jadi tahanan Kejari dengan dititipkan di Rutan Bangil. (one/fun)

BANGIL, Radar Bromo– Sejak ditetapkan tersangka 1 Agustus silam, Lilik Wijayanti akhirnya ditahan di Rutan Bangil. Eks Kabid Olahraga di Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan itu, ditahan setelah berkas perkaranya rampung dan tinggal pelimpahan ke PN Tipikor Surabaya.

Sebelum ditahan, Kejari lebih dulu melakukan pemeriksaan lanjutan di ruang khusus. Pemeriksaan Lilik itu berlangsung lebih dari lima jam.    Lalu sekitar pukul 16.00, Lilik dikeler dari ruangan penyidik Pidsus untuk diantar ke Rutan Bangil. Lilik digiring keluar kantor Kejari dengan dipapah oleh dua penasihat hukumnya. Ia juga dikawal petugas Kejari untuk dibawa ke mobil tahanan.

Saat dikeler, Lilik sempat ‘bernyanyi”. Meski menutupi wajahnya dengan masker, suaranya masih terdengar jelas. Dengan isak tangis Lilik mengaku, bahwa yang dilakukannya atas perintah atasannya.

“Saya tidak bersalah, Mas. Saya hanya menjalankan perintah atasan, Mas,” aku Lilik saat digelandang menuju mobil tahanan Kejari.

Siapa atasan yang dimaksud? Lilik dengan gamblang menyebutkan nama Munif. Munif tak lain adalah mantan kepala Dispora Kabupaten Pasuruan yang saat ini menjabat Sekretaris DPRD Kabupaten Pasuruan.

Menurut PNS yang kini menjabat Kabid Politik dan Demokrasi di Kesbang Kabupaten Pasuruan itu, atasannya itulah yang meminta dia memotong anggaran setiap kegiatan di Dispora Kabupaten Pasuruan sepanjang tahun 2017. Besarnya potongan anggaran untuk setiap kegiatan, mencapai 10 persen. “Ada potongan 10 persen, Mas. Semua kegiatan,” tambahnya.

Penasihat Hukum Lilik, Elisa mengaku, kliennya tidak bersalah. Ia hanya menjalankan tugas sesuai dengan perintah atasannya. Bahkan, kliennya tidak menikmati sepeser pun hasil dari dugaan korupsi tersebut.

Ia menambahkan, kliennya seharusnya tidak dipenjara. Kalaupun dipenjara, harus ada orang lain yang juga dipenjara. “Dia tidak menyebut siapa atasannya. Tapi, ia mengaku kalau diperintah atasannya,” jelas Elisa.

Disampaikan Elisa, pihaknya bakal berusaha untuk mengajukan penangguhan. Supaya, kliennya bisa “dikeluarkan” dari penjara. “Kami akan berusaha untuk melakukan penangguhan,” ulasnya.

Sementara itu, Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan Denny Saputra menyampaikan, penahanan terhadap Lilik dilakukan lantaran berkas perkaranya sudah rampung. Pihaknya tinggal menyerahkan berkas tersebut ke PN Tipikor Surabaya. “Berkasnya sudah selesai dan tinggal pelimpahan. Kami menahan salama 20 hari dan selanjutnya, kewenangan pengadilan,” jelas dia.

Denny menambahkan, masih mendalami perkara tersebut. Karena bukan tidak mungkin ada tersangka lain yang bisa dijerat. “Masih kami dalami lebih lanjut,” ungkapnya.

DIPAPAH: Lilik Wijayanti saat keluar dari ruang penyidik Kejari Kabupaten Pasuruan, Kamis (19/9) sore. Saat hendak dibawa ke Rutan Bangil, Lilik menangis dan mengaku perbuatannya lantaran diperintah atasannya, yakni Eks Kepala Dispora (foto kiri). (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Kabupaten Pasuruan membidik kasus dugaan korupsi di Dispora Kabupaten Pasuruan. Kegiatan keolahragaan sepanjang tahun 2017, ditengarai ada mark up anggaran.

Salah satunya Pormadin yang digelar di Candra Wilwatikta Pandaan. Dampaknya, ada kerugian negara yang dinikmati sejumlah orang.

Berdasarkan penyidikan yang dilakukan, ditemukan kerugian negara hingga Rp 918 juta. Atas temuan itulah, pihak Kejari menetapkan Lilik sebagai tersangka.

Lilik dijadikan tersangka karena menjadi orang yang menyebabkan kebocoran anggaran dalam kegiatan di Dispora selama 2017.  Ia merupakan pemegang anggaran. Posisinya itu, membuatnya leluasa memanfaatkan uang negara hingga ada indikasi korupsi.

Penetapan tersangka Lilik dilakukan 1 Agustus 2019. Dan Kamis (19/9), Lilik jadi tahanan Kejari dengan dititipkan di Rutan Bangil. (one/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/