Pertunjukan TK Dibawah Naungan Kodim 0820 Disorot, Ini Komentar Dandim

MAYANGAN – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi, memastikan viralnya bocah-bocah TK Kartika yang mengenakan cadar dan menenteng gambar senjata mainan sudah klir. Insiden itu disebutkan sudah bukan jadi persoalan.

Mendikbud RI, Muhadjir Effendi saat mendatangi Mapolres Probolinggo Kota, Minggu (19/8). (Radfan Faisal/Jawa Pos Radar Bromo)

Muhadjir mengambil kesimpulan itu usai mendapat pemahaman dari Polres Probolinggo Kota dan Kodim 0820 setempat, Minggu (19/8).

Dari pertemuan tersebut, Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal menjelaskan secara terperinci terkait dengan aksi terorisme di Kota Probolinggo. Termasuk, penangkapan 15 orang yang diduga terkait aksi terorisme. 12 diantaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sedang, tiga lainnya masih proses pemeriksaan.

“Untuk masalah terorisme ini, kami sangat responsif. Bahkan, sebagai bentuk deradikalisasi, kami mendekatkan diri pada mereka. Dan tak jarang pula, kami membantu, apa yang menjadi kebutuhan mereka,” terangnya.

Soal potongan gambar yang sampai viral di media sosial (medsos), perwira polisi dengan dua melati di pundaknya itu menjelaskan, kasus itu viral karena gambarnya hanya sepotong saja yang beredar. Jika dilihat secara utuh, TK Kartika disebutkan tak melenceng dari tema besar yang digarap.

TK Kartika sendiri memiliki tema Bersama Perjuangan Rosululloh, Kita Tingkatkan Keimanan dan Ketakwaan kepada Alloh SWT.

Dalan video yang dipaparkan secara utuh, digambarkan dari barisan depan ada gambar atau logo kemerdekaan. Selanjutnya juga ada miniatur kakbah, anak anak yang diibaratkan Raja Salman dan Istrinya. Selanjutnya, ada properti kuda dan unta. Serta ada pula barisan penjaga raja dan ratu.

Untuk prianya memakai baju putih dengan tombak. Sedangkan untuk perempuan memakai cadar dan replika senjata. “Itupun hanya enam anak saja. Artinya tak ada kesengajaan atau maksud lain apalagi sampai dibawa kepada penanaman paham radikalisme,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Dandim 0820 Letkol Kav Depri Rio Saransi. Menurutnya, properti yang digunakan memanfaatkan properti yang ada di sekolahan.

Mengingat, sebelumnya properti itu juga pernah dipakai pada saat lomba drumband serta teaterikal. “Karena kebingungan pengawal kerajaan perempuan, maka browsing. Disana ditampilkan bahwa bercadar dan membawa senjata. Itulah yang ditiru. Artinya, tak ada tendensi atau tujuan lain. Apalagi menanamkan paham radikal,” terangnya.

Sementara itu Ketua MUI Kota Probolinggo Nizar Irsyad menambahkan, kejadian itu, paling tidak ada hikmahnya. Minimal harus ada pemahaman tentang sejarah kebudayaan Islam.

Artinya, baik di tingkat TK hingga SMA, harus ada pembelajaran tentang kebudayaan Islam. Selain itu untuk kedepannya harus ada koordinasi yang lebih baik. “Untuk karnaval kedepannya, paling tidak ada koordinasi yang lebih baik. Mulai dari panitia sampai ke Kepala Disdikpora,” tambahnya. (rpd/mie)