Cegah Sebaran Korona, Naik Lift pun Harus Saling Membelakangi

SALING MEMBELAKANGI: Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari (lihat depan); Wabup Timbul Prihanjoko (kanan, depan); Sekda Soeparwiyono (kiri, depan) dan sejumlah pejabat pemkab saat naik lift di kantor Bupati, Rabu (18/3). (Rosyidi/Radar Bromo)

Related Post

KRAKSAAN, Radar Bromo – Menggelar rapat di tengah pencegahan terhadap penyebaran virus korona, tetap bisa dilakukan. Namun, protokoler khusus berupa penerapan social distancing pun dilakukan.

Inilah yang terlihat saat Pemkab Probolinggo menggelar rapat koordinasi khusus (rakorsus) pencegahan dan percepatan penanganan Corona Virus Disease (Covid-19), Rabu (18/3) pagi. Rapat digelar di ruang pertemuan Tengger Kantor Bupati Probolinggo di Kraksaan.

Dalam kesempatan tersebut, kursi antarpeserta diatur dengan jarak sekitar 1 meter. Penerapan social distancing juga dilakukan saat berada di lift.

Biasanya, lift berisi hingga 10 orang. Kali ini, hanya berisikan enam orang. Masing-masing orang, harus berdiri saling membelakangi.

Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari pun melakukan hal serupa saat naik lift ke lantai 4. Dia menggunakan lift bersama lima pejabat lainnya. Dan semua pejabat berdiri saling membelakangi.

Di sisi barat, ada Sekda Kabupaten Probolinggo H. Soeparwiyono dan Kepala BKAD Dewi Korina. Di sisi timur ada Wabup Timbul Prihanjoko dan Kalaksa BPBD Anggit Hermanuadi. Dan di tengah ada Bupati Tantri, menghadap selatan dan Asisten I Tutug Edy Utomo menghadap utara atau saling membelakangi.

Tantri sapaan akrabnya mengatakan, social distancing adalah sebuah cara yang direkomendasikan oleh ahli kesehatan untuk memperlambat penyebaran penyakit yang ditularkan dari orang ke orang. “Social distancing ini merupakan salah satu penjabaran dari surat edaran agar kita menghindari kerumunan massa. Paling tidak dengan social distancing ini kita bisa menjaga jarak satu sama lain, sehingga virus tidak dapat menyebar dari satu orang ke orang lain,” katanya.

Bupati dua periode ini juga menjelaskan, bukan untuk disepelekan dan diremehkan. Sebab, banyak korban jiwa di Tiongkok. Menurut Bupati Tantri, kegiatan ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan kewaspadaan bersama. Bukan pada kematiannya, tetapi juga angka kesakitannya yang tinggi.

“Harapan saya siapapun pelaku kebijakan hendaknya mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Alhamdulillah, Kabupaten Probolinggo relatif lebih cepat dibandingkan dengan daerah lain,” jelasnya.

Sebagai upaya percepatan penanganan Covid-19, jelas Bupati Tantri, pihaknya telah memerintahkan kepada semua OPD untuk membatalkan seluruh event yang akan digelar menjelang Ramadan dan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakabpro).

Kepada para camat, Tantri meminta agar mem-back up Satgas Penanggulangan Bencana Nonalam dan Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo. Juga berkoordinasi dengan seluruh stakeholder di kecamatan, baik kapolsek maupun Danramil.

“Kami Forkopimda sudah sepakat akan bersama-sama dalam pencegahan dan penanganan Covid-19. Solidkan kembali bersama Kepala Puskesmas masing-masing apa yang harus dilakukan. Oleh karenanya, Satgas harus menyusun alur mulai dari hulu ke hilir, sehingga camat bisa mengkomunikasikan pada kepala desa masing-masing,” tegasnya.

Bupati Tantri menegaskan, camat sebagai mediator di kecamatan harus bisa memberikan contoh yang baik di tingkat kecamatan. Istiqamah lebih terbuka terhadap kesehatan pribadi dan lingkungan. Selain itu, melakukan pengawasan kepada masyarakat, terutama yang baru pulang dari luar negeri.

“Kondisi hari ini memaksa kita semakin menjaga kesehatan. Kalau selama ini hanya minum vitamin, maka sekarang juga harus minum suplemen untuk menambah daya tahan tubuh,” tandasnya. (sid/hn)