Pelaku yang Sodomi Siswa Dulunya Pernah Jadi Korban, Psikolog Sebut Punya Kelainan

BANGIL, Radar Bromo – Mustofa alias Musdalifa, tersangka pelaku sodomi, ternyata memiliki kelainan seks. Pria kemayu itu mengaku, kalau dirinya memang memiliki ketertarikan dengan seorang laki-laki. Ia tidak memiliki kriteria khusus terhadap seorang laki-laki yang menjadi incarannya. Apakah ia seorang pelajar ataupun tidak. Selama ia suka, ia akan berusaha untuk memikatnya.

“Tidak ada kriteria khusus. Memang saya suka sama laki-laki. Kalau sama perempuan, saya tidak punya rasa,” tutur warga Dusun Kenayan, Desa Sumberagung, Kecamatan Grati.

Mustofa menambahkan, kelainan seksual yang dialaminya sudah dirasakan sejak kecil. Bahkan, saat kecil, ia juga pernah menjadi korban, pencabulan dan sodomi oleh guru tempatnya mengaji.

Berangkat dari situ pula, ia pernah hijrah ke Jakarta untuk menjadi PSK laki-laki. “Saya pergi ke Jakarta, saat berusia 14 tahun,” ungkap lelaki yang punya sifat kewanita-wanitaan ini.

Lelaki yang belum menikah tersebut mengaku, kalau belajar ilmu guna-guna dari salah seorang gurunya yang tak disebutkan namanya. Ia mengaku, ilmu itulah yang digunakan untuk memperdaya korban. Termasuk mengancam korban, bila tidak melayaninya. “Saya ancam tidak akan menyapanya, kalau tidak mau melayani,” bebernya.

KEMBALI KE PENJARA: Tersangka Mustofa alias Muzdalifa yang kini sudah mendekam di sel tahanan mapolres Pasuruan. (Foto: Iwan Andrik/Radar Bromo)

 

Psikolog dari RSUD Bangil, Yulis Rahmawati mengungkapkan, kelainan seksual yang dialami tersangka, bisa jadi merupakan dampak trauma yang menimpanya sebelumnya. Ia pernah menjadi korban seksual saat masih kecil. Sehingga hal itu mempengaruhi pola pikirnya.

“Ada dampak trauma dari masa lalu. Dampak pengaruh kelam masa lalu, membuatnya menjadi seseorang yang memiliki kelainan seksual. Mungkin ada perasaan dendam atau hal lain, yang membuatnya memiliki kelainan seksual tersebut,” beber dia.

Sementara itu, Kapolres Pasuruan, AKBP Rofik Ripto Himawan mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada, dalam mengawasi anaknya. Karena tindak kejahatan, tidak hanya bisa terjadi pada korban perempuan. Anak laki-laki pun bisa menjadi sasaran.

“Pengawasan terhadap anak-anak, harus menjadi perhatian. Karena tindak kejahatan seksual, ternyata tidak melulu menimpa anak perempuan. Anak laki-laki pun bisa menjadi sasaran,” tandasnya.

Karena ulahnya itu, tersangka dijerat pasal berlapis. Ia dikenai pasal 328 KUHP tentang penculikan, pasal 333 KUHP tentang penyekapan serta pasal 289 KUHP tentang pencabulan. Ia terancam hukuman 12 tahun penjara.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mustofa alias Musdalifa kembali berulah, dengan melakukan tindak kejahatan serupa. Lelaki 47 tahun tersebut, tidak hanya sekadar menculik seorang remaja. Tetapi, ia juga melakukan penyekapan, pencabulan hingga melakukan sodomi terhadap korban.

Remaja malang yang menjadi budak seks tersangka, menimpa STN, 18, seorang pelajar asal Kota Pasuruan. Ia disekap selama tiga hari di rumah tersangka. Selama itu pula, korban menjadi pelampiasan nafsu jahat tersangka. (one/fun)