alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Penyidik Polresta Probolinggo Dilaporkan ke Mabes Polri

MAYANGAN– Proses penyidikan dugaan pengancaman pada Sahriya, 31, sudah berlangsung hampir tiga tahun. Namun, proses itu mandek di meja penyidik Polres Probolinggo Kota (Polresta). Karena kondisi itu, Supriyono, kuasa hukum Sahriya, mengadukan penyidik Polresta ke Mabes Polri.

Supriyono, Kamis (17/1) siang menyebut, pihaknya mengadukan profesionalitas penyidik Satreskrim Polresta. Aduan dibuat tujuh buah yaitu disampaikan ke Kepolisian RI, Kabareskrim RI, Kadiv Propam Mabes Polri, Kapolda Jatim, Kabid Propam Polda, Kapolresta dan Kasi Propam Polresta.

Disebutkan, surat tertanggal 17 Januari 2019 tersebut dilayangkan pada Kamis (17/1) melalui JNE. Supriyono menyebut, dugaan pengancaman pada kliennya terjadi pada April 2017 di Toko Bangunan Rahman Jaya 2, Jalan Mastrip, Kota Probolinggo atau hampir tiga tahun lalu.

Saat itu, menurut Supriyono, Sahriya melayani pembeli seorang pria. Tiba-tiba datang Sunar membawa senjata tajam. Sunar adalah kakak kandung suaminya, Imam Sugiyanto, yang kini sudah berpisah dengan Sahriya.

Sunar menuduh kliennya selingkuh. “Sebenarnya, Sunar mengancam klien saya karena waktu itu tidak ada saksi, yang kami laporkan membawa senjata tajamnya,” pungkasnya

LAPOR: Supriyono, kuasa hukum Sahriya menunjukkan bukti laporan ke Mabes Polri. (Foto: Zainal Arifin/ Radar Bromo)

Kasus itu pun ditangani penyidik Polresta. Bahkan, penyidik sempat memanggil dan memeriksa sejumlah saksi. Di antaranya, orang tua, kakak, dan keponakan korban Sahriya. “Klien kami juga sudah diperiksa. Nggak tahu kok mandek sampai sekarang. Hampir tiga tahun,” terangnya.

Bahkan, kliennya tidak pernah menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP). Kuasa hukum yang berkantor di Situbondo tersebut mengaku, beberapa kali menghubungi dan berkomunikasi dengan penyidik. Namun, kesanggupan untuk menyelesaikan kasus tersebut hanya janji dan retorika saja.

“Buktinya, sampai hampir tiga tahun nggak selesai-selesai. Dan, bahkan tidak ada kejelasannya,” imbuhnya.

Terpisah, Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal menyebut, pihaknya langsung mengumpulkan anggota dan cek ulang semua kasus yang menjadi tanggungan jajaran.

“Kami respons dengan cepat diadukannya anggota jajaran ke divisi propam Mabes Polri. Kami kumpulkan anggota dan cek ulang semua kasus yang menjadi tanggungan jajaran. Termasuk di dalamnya, kasus yang dilaporkan ke divisi propam yang stagnan selama tiga tahun,” ujar AKBP Alfian.

Menurutnya, selama belum keluar SP3, artinya secara de facto kasus ini masih berjalan dan belum kedaluwarsa. Mengingat, waktu penyelesaian penyidikan selalu mengacu pada bobot perkara.

Khusus pada kasus ini, pelaporan kepemilikan sajam dan ancaman mengunakan sajam, cukup riskan untuk dikategorikan sebagai perkara mudah. Sebab, saksi dan alat bukti belum cukup.

“Untuk saksi, agak riskan mengingat hubungan pelapor dan tersangka mantan kakak ipar. Masih ada hubungan keluarga meski terkategori mantan,” imbuhnya.

Selain itu, dari segi alat bukti, senjata tajam yang dilaporkan berupa celurit. Celurit masih riskan dibilang senjata untuk melukai pelapor. Mengingat celurit berdasarkan UU 12/1951 tentang Senjata, termasuk barang yang digunakan untuk pertanian, rumah tangga, atau kepentingan pekerjaan.

“Dari kasus ini, faktor penguat laporannya hanya pada motif di balik ancaman kekerasan dari tersangka kepada pelapor yang diduga selingkuh. Jadi, menurut saya, menduga penyidik kami mendiamkan kasus ini dengan pertimbangan ancaman yang dilakukan tertuduh bukan terkategori ancaman serius. Hanya sebatas emosional keluarga karena menyangkut adik kandungnya,” tandasnya

Dengan demikian, kasus ini didiamkan penyidik dan tidak dilanjutkan. Tujuannya, menurut Kapolresta, memberi waktu kedua belah pihak untuk introspeksi hingga mampu menyelesaikan kasus ini secara damai dan kekeluargaan. (rpd/hn)

MAYANGAN– Proses penyidikan dugaan pengancaman pada Sahriya, 31, sudah berlangsung hampir tiga tahun. Namun, proses itu mandek di meja penyidik Polres Probolinggo Kota (Polresta). Karena kondisi itu, Supriyono, kuasa hukum Sahriya, mengadukan penyidik Polresta ke Mabes Polri.

Supriyono, Kamis (17/1) siang menyebut, pihaknya mengadukan profesionalitas penyidik Satreskrim Polresta. Aduan dibuat tujuh buah yaitu disampaikan ke Kepolisian RI, Kabareskrim RI, Kadiv Propam Mabes Polri, Kapolda Jatim, Kabid Propam Polda, Kapolresta dan Kasi Propam Polresta.

Disebutkan, surat tertanggal 17 Januari 2019 tersebut dilayangkan pada Kamis (17/1) melalui JNE. Supriyono menyebut, dugaan pengancaman pada kliennya terjadi pada April 2017 di Toko Bangunan Rahman Jaya 2, Jalan Mastrip, Kota Probolinggo atau hampir tiga tahun lalu.

Saat itu, menurut Supriyono, Sahriya melayani pembeli seorang pria. Tiba-tiba datang Sunar membawa senjata tajam. Sunar adalah kakak kandung suaminya, Imam Sugiyanto, yang kini sudah berpisah dengan Sahriya.

Sunar menuduh kliennya selingkuh. “Sebenarnya, Sunar mengancam klien saya karena waktu itu tidak ada saksi, yang kami laporkan membawa senjata tajamnya,” pungkasnya

LAPOR: Supriyono, kuasa hukum Sahriya menunjukkan bukti laporan ke Mabes Polri. (Foto: Zainal Arifin/ Radar Bromo)

Kasus itu pun ditangani penyidik Polresta. Bahkan, penyidik sempat memanggil dan memeriksa sejumlah saksi. Di antaranya, orang tua, kakak, dan keponakan korban Sahriya. “Klien kami juga sudah diperiksa. Nggak tahu kok mandek sampai sekarang. Hampir tiga tahun,” terangnya.

Bahkan, kliennya tidak pernah menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP). Kuasa hukum yang berkantor di Situbondo tersebut mengaku, beberapa kali menghubungi dan berkomunikasi dengan penyidik. Namun, kesanggupan untuk menyelesaikan kasus tersebut hanya janji dan retorika saja.

“Buktinya, sampai hampir tiga tahun nggak selesai-selesai. Dan, bahkan tidak ada kejelasannya,” imbuhnya.

Terpisah, Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal menyebut, pihaknya langsung mengumpulkan anggota dan cek ulang semua kasus yang menjadi tanggungan jajaran.

“Kami respons dengan cepat diadukannya anggota jajaran ke divisi propam Mabes Polri. Kami kumpulkan anggota dan cek ulang semua kasus yang menjadi tanggungan jajaran. Termasuk di dalamnya, kasus yang dilaporkan ke divisi propam yang stagnan selama tiga tahun,” ujar AKBP Alfian.

Menurutnya, selama belum keluar SP3, artinya secara de facto kasus ini masih berjalan dan belum kedaluwarsa. Mengingat, waktu penyelesaian penyidikan selalu mengacu pada bobot perkara.

Khusus pada kasus ini, pelaporan kepemilikan sajam dan ancaman mengunakan sajam, cukup riskan untuk dikategorikan sebagai perkara mudah. Sebab, saksi dan alat bukti belum cukup.

“Untuk saksi, agak riskan mengingat hubungan pelapor dan tersangka mantan kakak ipar. Masih ada hubungan keluarga meski terkategori mantan,” imbuhnya.

Selain itu, dari segi alat bukti, senjata tajam yang dilaporkan berupa celurit. Celurit masih riskan dibilang senjata untuk melukai pelapor. Mengingat celurit berdasarkan UU 12/1951 tentang Senjata, termasuk barang yang digunakan untuk pertanian, rumah tangga, atau kepentingan pekerjaan.

“Dari kasus ini, faktor penguat laporannya hanya pada motif di balik ancaman kekerasan dari tersangka kepada pelapor yang diduga selingkuh. Jadi, menurut saya, menduga penyidik kami mendiamkan kasus ini dengan pertimbangan ancaman yang dilakukan tertuduh bukan terkategori ancaman serius. Hanya sebatas emosional keluarga karena menyangkut adik kandungnya,” tandasnya

Dengan demikian, kasus ini didiamkan penyidik dan tidak dilanjutkan. Tujuannya, menurut Kapolresta, memberi waktu kedua belah pihak untuk introspeksi hingga mampu menyelesaikan kasus ini secara damai dan kekeluargaan. (rpd/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU