Polres Pasuruan Gagalkan Peredaran Ganja 12,4 Kilogram Milik Jaringan Sindikat asal Medan

SURABAYA, Jawa Pos– Satuan Reskoba (Satreskoba)  Polres Pasuruan belum lama ini berhasil mengungkap peredaran narkoba dengan jumlah cukup besar. Yang terbaru, yakni penangkapan bandar 12,4 kilogram ganja.

Mereka adalah Ali Nadhir Bahanan, Yusuf Duad, dan Rio Warsito. Ketiga orang tersebut merupakan sindikat Medan. Mereka memesan itu, untuk memasarkan di wilayah- wilayah kampus sekitar kota Malang. Sebab, ketiganya mempunyai peran berbeda. Pengungkapan itu, didapat petugas saat menggerebek dua tempat sekaligus.

”Kami tangkap terlebih dahulu di rest area selecta, Kota Batu,” ucap Wadiresnarkoba Polda Jatim AKBP Nasriadi.

Penangkapan itu, dilakukan oleh tim Satreskoba Polres Pasuruan. Saat itu, kata dia, tim memantau adanya pembelian paket ganja. Paket tersebut diambil secara acak. Waktu itu, lokasi yang dicurigai berada di daerah Pasuruan. Nah, dari daerah itu, Polisi mendapatkan dua orang. Yakni Ali dan Yusuf.

Saat itu, Polisi terus melanjutkan pengembangan. Hasilnya, memang ada transaksi lain. Barang tersebut dikumpulkan di satu hotel. Yakni Grand City Batu.”Kami lihat ternyata luar biasa ini sindikat ganja yang selama ini dicari,” kata Nasriadi

Menurut mantan Kapolres Sukabumi itu, penemuan tersebut didapatkan usai memeriksa dua tersangka yang lebih dulu diambil. Mereka menceritakan barang itu, bakal diberikan untuk disebar di beberapa wilayah Kota Malang. Apalagi, banyak kampus daerah tersebut.

Sampai saat ini, polisi belum menemukan jaringan yang ada di Medan. Hanya, perjalanan pengiriman itu, melalui jalur laut dan darat. Mereka, kata Nasriadi, enggan melalui jalur udara. Alasannya, pemeriksaan yang jauh lebih ketat. Sebab, selama ini, pengiriman melalui jalur udara selalu gagal.

”Modus lama sebenarnya. Tapi kami sudah paham, tim sudah memetakan kelompok peredaran tersebut,” ucapnya.

Nah, ganja  tersebut cukup mudah dijangkau oleh kalangan pelajar. Selain bentuknya, seperti tembakau, daun bernamalatin canabis sativa tersebut cukup murah di pasaran.”Makanya produk yang dijual belikan adalah itu,” terang dia kemarin.

Pada bagian lain, Kombes Pol Trunoyudo  Wisnu Andiko, selaku Kabid Humas Polda Jatim mengatakan, Jawa Timur dijadikan sebagai pangsa pasar yang cukup besar. Alasannya, jumlah penduduk, peminat barang haram itu juga cukup banyak. Selama ini, barang-barang seperti ganja, memang berasal dari dua daerah. Yakni Aceh dan Medan. Sedangkan, sabu-sabu berasal dari Malaysia dan Myanmar.

“Produk Indonesia tidak ada. Yang paling banyak dari buatan Tiongkok turun ke Myanmar atau Vietnam. Baru setelah itu ke Indonesia,” ucapnya.

Nah, transit barang haram itu, melalui dua jalur. Pastinya, riau dan Kalimantan, wilayah yang disasar oleh para bandar untuk mengirim barang itu. Untungnya, petugas kepolisian dan badan narkotika nasional banyak menggagalkan pengiriman serbuk haram tersebut. Sehingga, mampu meminimalisir banyaknya pengguna.

”Kami bakal berantas semua jaringan. Karena ini komitmen kami dalam pemberantasan narkoba itu,” tutur perwira tiga melati di pundak itu.  (den/JPG/fun)