Sampean, Losmen Tertua di Bangil yang Masih Bertahan Sampai Sekarang

Losmen Sampean cukup legendaris di Bangil, Kabupaten Pasuruan. Maklum, losmen ini merupakan penginapan pertama di Bangil. Seiring banyaknya penginapan lain yang lebih modern, losmen tersebut tak lagi jadi pilihan warga luar kota untuk menginap. Meski begitu, ahli waris tetap akan mempertahankan keberadaan penginapan tersebut.

ERRI KARTIKA, Bangil

TAK ada warga Bangil yang tak mengetahui Losmen Sampean. Letaknya yang berada di jalur strategis, yakni Jl. Ahmad Yani, losmen ini memang mudah dijangkau. Terutama bagi pelancong yang turun bus di halte Pegadaian, Bangil. Setiap hari pintu gerbang losmen selalu terbuka lebar. Meskipun tak setiap hari pengunjung datang.

Jawa Pos Radar Bromo kemarin (13/8) mengunjungi losmen yang usianya sekitar 70 tahun itu. Tiba di losmen, calon penginap akan disambut sebuah papan petunjuk bertuliskan “Losmen Sampean”, dari arsitekturnya, bangunan ini terlihat seperti rumah tua. Hampir sama dengan rumah-rumah kuno yang ada di sekitarnya.

Arsitektur losmen ini seperti rumah desain kolonial pada umumya. Ada dua tiang besar di teras. Ukuran pintu dan jendela cukup tinggi dan lebar. Sementara tinggi bangunan itu sekitar 4-5 meter. Yang menarik, corak dan desain lantai masih seperti awal dibangun. Bahkan, perabot yang dipakai, merupakan perabot tua.

“Hampir semua perabot di sini masih asli warisan dari kakek saya. Usia perabot ini jauh lebih tua dari saya,” ujar Ahmad Khoiri, 47, pengelola Losmen Sampean membuka pembicaraan. Dalam mengelola losmen warisan itu, Khoiri dibantu adik kandungnya yang bernama Sahril, 36.

Hanya mereka berdua yang mengerjakan seluruh tetek bengek losmen. Mereka berdua bergantian berjaga siang dan malam. Termasuk membersihkan rumah, mencuci, dan menyambut tamu. Tidak ada pegawai lain selain mereka.

Khoiri mengatakan, Losmen Sampean ini memang warisan dari kakeknya yang bernama Rasuki. Yang membuat kakak-beradik ini bertahan mengelola losmen ini, hanyalah pesan sang kakek. “Kakek meminta agar losmen ini dirawat dan dikelola. Itu, wasiatnya sebelum meninggal dunia,” katanya.

Saat itu di Bangil bahkan di Pasuruan masih belum ada penginapan. Sang kakek melihat para pedagang kesulitan mencari penginapan kalau tiba di Bangil malam hari. Karena itulah, muncul ide mendirikan penginapan. “Akhirnya dibuatlah Losmen Sampean,” ceritanya.

Sampean dipilih sebagai nama losmen, agar pengunjung lebih akrab. Sampean dalam bahasa Indonesia artinya Anda atau kamu. Sehingga, bisa diartikan Anda bisa datangi kalau butuh menginap. Tahun 1970-an, Losmen Sampean menjadi satu-satunya penginapan di Bangil.

Dulunya, losmen ini menjadi tempat menginap artis ibu kota yang tengah show di Pasuruan. Sebut saja sang raja dangdut Rhoma Irama, Rita Sugiarto, sampai pelawak Didik Mangkuprojo. “Dulu saat kejayaan Pabrik Kancil Emas di Bangil, kalau ada acara selalu mengundang artis. Nah, artisnya pasti nginap di sini,” ceritanya.

Sampai akhirnya tahun 2000-an, muncul hotel baru. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 5 hotel di Bangil dengan konsep modern. Keberadaan hotel-hotel baru tersebut, tentu secara langsung maupun tidak langsung, berdampak pada Losmen Sampean. Meski begitu, kakak-beradik Khoiri dan Sahril tidak lantas menyerah.

“Losmen ini tetap kami pertahankan. Selain karena warisan, ini sudah menjadi bisnis keluarga,” jelasnya.

Saat ini Losmen Sampean memiliki 10 kamar. Tak setiap hari ada pengunjung yang menginap. Bahkan, lebih sering kosong. Losmen Sampean “panen” pengunjung saat musim jemputan santri yang mondok atau saat haul. “Ada juga pelanggan lama seperti sales dari luar kota yang tetap menginap di sini,” jelasnya.

Meski murah dan minim pengunjung, jangan anggap penginapan ini bisa diinapi sembarang orang. Konsep yang diusung tetap syariah. Lelaki dan perempuan yang bukan mahram, dilarang menginap satu kamar.

Soal harga, jangan bandingkan dengan hotel lainnya. Pengunjung cukup merogoh kocel Rp 60-80 ribu tergantung jumlah tempat tidurnya. Setara dengan harga, fasilitasnya terbatas. Hanya ada tempat tidur dan almari. Tidak ada kipas ataupun pendingn ruangan. (rf)