Sedihnya Siswa Pasuruan-Probolinggo saat Hari Pertama Masuk Sekolah

MPLS: Siswa baru memeriksa buku panduan pembelajaran dari sekolah di ruang kelas SMPN 4 Kota Pasuruan, Senin (13/6) pagi. Awal tahun ajaran baru ini siswa tingkat SMP dan SMA mulai menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) secara virtual maupun tatap muka dengan penerapan protokol kesahatan yang ketat. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Pandemi yang masih berlanjut hingga kini membuat kegiatan belajar mengajar di sekolah sejak Maret lalu, jelas terganggu. Pemerintah daerah belum berani menerapkan pembelajaran konvensional, dengan alasan mengikuti kebijakan pusat. Tak diperbolehkan apabila belum zona hijau. Kondisi ini berlanjut saat tahun ajaran baru. Suasana sekolahpun kini berbeda.

——————-

Kembali belajar dari rumah (BDR). Inilah yang dilakukan siswa di Pasuruan dan Probolinggo di tahun tahun ajaran baru 2020/2021. Kondisi yang sudah pernah mereka alami hampir empat bulan terakhir. Kondisi tersebut ternyata juga cukup membuat anak-anak jenuh.

Meski mereka tetap mendapatkan materi pelajaran dengan pembelajaran jarak jauh. Tetapi, sistem BDR juga terbilang menjenuhkan. Sebagian anak-anak bahkan merasa sedih lantaran belum bisa bersekolah seperti sebelumnya.

Salah satunya diungkapkan oleh Anindya Adenaisyah Sofyan. Belia yang masih duduk di bangku kelas 5 SDN Kebonsari itu memang sudah terbiasa dengan BDR. Di sisi lain, juga merasa sedih. “Karena tidak bisa ketemu guru dan teman,” ungkap dia.

Selama ini, anak dari A Sofyan Sauri itu memang selalu didampingi orangtuanya selama BDR. Bahkan, jika ada materi pelajaran yang dirasa sulit dipahami, dia juga aktif bertanya kepada orangtuanya. Akan tetapi, bagi Anindya, tetap saja kondisi itu jauh berbeda ketika belajar di sekolah.

Menurut dia, suasana belajar di sekolah terasa lebih nyaman. Terutama dalam menyerap materi pelajaran yang diberikan guru. “Walau ayah bunda bisa mengajari materi yang diberikan, tapi tidak sejelas penjelasan guru di sekolah,” tutur dia.

TATAP MUKA: Guru dan siswa di SDN Mangunharjo 1 saat kegiatan pengenalan sekolah. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Hampir sama juga yang dirasakan oleh Raihan Pandunaran Meazza. Kemarin, merupakan hari pertama Raihan mengenakan seragam putih biru. Dia resmi menjadi pelajar di SMPIT Bina Cendekia Kota Pasuruan setelah lulus dari bangku SD. Kendati demikian, Raihan tetap harus berada di rumah di hari pertamanya sebagai pelajar SMP.

Memang, di sekolahnya tengah mengadakan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Akan tetapi hal itu juga dilakukan secara virtual. Dengan mengenakan seragam putih biru, Raihan menatap layar laptop untuk mengikuti MPLS dengan didampingi Marwan Andrianto, ayahnya.

Dia juga menceritakan pengalamannya ketika menjelang masa kelulusan SD, harus mengikuti BDR. Raihan sendiri merasakan perbedaan BDR dengan sekolah tatap muka. Menurutnya, BDR yang selama ini dirasakan, membuatnya justru kesulitan berkonsentrasi. Terutama ketika menerima materi pelajaran.

“Lebih enak belajar tatap muka, jadi ilmunya bisa dipahami sepenuhnya. Kalau dari rumah kadang kan sulit konsentrasi,” terang dia.

Ervan, salah satu pelajar kelas VII di SMPN 4 Kota Pasuruan juga sama sekali belum menginjakkan kakinya di sekolahnya yang baru. Dia dijadwalkan mengikuti MPLS pada 15 Juli esok. Selama diterapkannya BDR, Ervan juga mengaku kurang menyenangkan. Alasannya, materi pelajaran yang diterima tak selengkap dibandingkan belajar tatap muka dengan guru di sekolah.

“Soalnya kan nggak ketemu sama temen-temenku. Nggak bisa bercandaan. Pokoknya nggak bisa feeling good, gitu,” kata Ervan.

Cara konvensional memang dirindukan siswa, maupun orangtua siswa. Lewat daring, pelajaran memang bisa tersampaikan. Tapi butuh proses lebih untuk memahami. Tak terkecuali bagi siswa SMP sekalipun, yang semestinya terbiasa dengan gadget.

Rusdi misalnya, siswa SMPN 10 Kota Pasuruan. Dia mengaku, saat BDR diterapkan, sekolahnya lebih sering menggunakan grup WhatsApp untuk belajar. Bagi dia, tugas dan pekerjaan rumah dari guru, memang bisa diperoleh. “Tapi untuk memahami tugas yang ada rumusnya itu kan, terkadang perlu bertatap muka dengan guru. Tidak sekadar di-share materinya, kemudian kita belajar sendiri,” katanya.

Ketika mau bertanya, diskusi via grup juga tak efektif bisa terjawab oleh gurunya. Terkadang, guru juga bingung menjelaskan materi, kemudian ada pertanyaan yang masuk dari kawannya. Otomatis, dia mengandalkan pesan pribadi ke gurunya. “Solusinya pernah pakai zoom (aplikasi pihak ketiga). Tapi juga bingung, karena lebih banyak diam mendengarkan, tidak ada yang bertanya. Termasuk saya. Hehe,” kata Rusdi. (tom/fun)