Belajar Daring Sulit Bagi Siswa Inklusi-Orangtua Tak Punya Smartphone

ALAT PELINDUNG: Siswa yang mengikuti pengenalan sekolah mengenakan face shield. Setelah pengenalan sekolah, siswa akan melanjutkan pembelajaran di rumah via daring. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Hari pertama masuk sekolah di Kota Probolinggo Senin (13/7), mendapat atensi dari jajaran pejabat. Bahkan Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin yang didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Moch Maskur, melakukan pemantauan kepada sejumlah lembaga pendidikan yang menggelar kegiatan pembekalan siswa baru. Dalam pemantauan ini, ditemukan beberapa permasalahan yang terjadi saat kegiatan belajar dilakukan secaa daring.

“Ada beberapa kendala yang ditemukan. Seperti orangtua tidak memiliki ponsel android untuk melakukan pembelajaran secara daring. Begitu juga bagi anak-anak kelas 1 SD yang belum bisa membaca menulis. Ini juga sulit untuk belajar melalui jarak jauh, sehingga perlu pendampingan dari orangtua,” ujar Hadi Zainal Abidin, Wali Kota Probolinggo setelah datang ke SDN Jati 1 kemarin.

Selain itu, bagi sekolah yang mengadakan kegiatan sekolah inklusif, perlu ada peraturan khusus terkait pembelajaran bagi siswa. Wali Kota meminta kepada Disdikbud untuk mengeluarkan SE terkait pelaksanaan pendidikan bagi sekolah inklusif.

PAKAI INTERNET: Contoh pembelajaran via daring yang dilakukan di SD Al Uswah Bangil. (Foto: Istimewa)

“Di beberapa sekolah yang ada kegiatan sekolah inklusif berbeda-beda cara untuk mengadakan kegiatan pendidikan inklusif. Sehingga perlu bagi Disdikbud mempersiapkan SE terkait teknisnya,” terangnya.

Sedangkan bagi orangtua yang tidak memiliki smartphone berbasis android, Habib Hadi menyarankan, bagi siswa dengan kondisi keluarga tidak mampu memiliki, bisa diberikan kesempatan belajar di sekolah. Tentunya belajar di sekolah ini dengan protokol kesehatan.

“Tentunya jumlah siswa dengan kondisi seperti ini (tidak memiiki smartphone, Red) tidak banyak. Tapi saya tekankan tidak boleh ada siswa yang sampai terbengkalai pendidikannya. Mereka semua punya kesempatan belajar yang sama,” ujarnya.

Sementara itu Moch Maskur, menjelaskan bahwa kegiatan pelajaran daring bagi siswa kelas 1 SD dan SMP mulai dilakukan hari ini. “Tapi untuk yang kelas 2-6 SD dan kelas 2-3 SMP pelajaran daring dilakukan sejak besok,” ujarnya.

Terkait pembelajaran daring ini, Pemkot Probolinggo melalui Disdikbud juga memberikan subsidi pulsa paket data baik bagi guru dan siswa. Meskipun tidak menyebutkan anggaran untuk pulsa ini, setiap bulan per orang mendapat subsidi Rp 50 ribu.

“Baik guru dan siswa subsidi paket data sebesar Rp 50 ribu per bulan. Sesuai dengan instruksi dari Peraturan menteri pendidikan nasional,” ujarnya. (put/fun)