alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Biaya Jamaah Umrah yang Telantar Bervariasi, Ada yang Cuma Rp 9 Juta

SUMBERASIH – Jamaah umrah asal Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih diduga menjadi korban penipuan. Mereka telah membayar sejumlah uang untuk bisa berangkat ke tanah suci Mekkah. Uang pembayarannya pun bervariasi dan dibayar secara berkala.

MASIH DI MAKKAH: Dua dari puluhan jamaah yang masih bertahan di Makkah. (Istimewa)

Hal itu diungkapkan Badrus Sholeh, salah satu keluarga jamaah umrah. Kepada media ini Badrus mengaku, sedari awal dirinya sudah curiga dengan sistem pembayaran pergi umrah itu. Sebab, ayahnya yakni Hartono harus membayar Rp 9 juta lebih dulu ke seseorang bernama Mursida. Kemudian, bapaknya harus membawa empat orang untuk ikut berangkat umrah.

Karena ibunya, Fatimatus Zahro dan Ahmad Thoriq juga ikut. Akhirnya, ibunya dan adiknya juga mencari masing-masing empat orang yang ikut daftar.

”Jadi awal bayar, orang tua saya bayar Rp 27 juta. Kemudian bayar 12 orang yang mau berangkat umrah juga. Semua itu dibayar ke Mursida, orang Bulang, Gending,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo Senin (13/5).

Pertemuan dengan Mursida membuat Hartono semangat untuk bisa ke tanah suci Makkah. Bahkan, Hartono pun mendaftarkan dirinya, istrinya Fatimatus Zahro dan anaknya, Ahmad Thoriq. Itu dibayar Hartono akhir tahun kemarin pada Mursida.

Akibat tidak ada kabar dan kepastian dari Mursida, Hartono pun langsung mendatangi kantor PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour di Sidoarjo. Disitu, Hartono mengetahui setoran biaya umrah ternyata tidak sampai ke pihak travel yakni PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour. Sehingga, disitu Hartono ditawarkan kembali membayar Rp 6,5 juta, ikut pogram bernama Q net, sisanya menggunakan dana talangan.

”Jadi orang tua saya itu bayar dua kali. Pertama masing-masing Rp 9 juta ke Bu Mursida. Dan kedua bayar langsung ke kantor travel masing-masing Rp 6,5 juta. Jadi tiap orang bayar Rp 15,5 juta,” terangnya.

Menurutnya, orang tuanya juga menjadi korban ulah biro travel umrah nakal itu. Sebab, kondisi orang tua dan adiknya juga terlantar di Makkah-Madinah. Bahkan, dirinya juga kebingungan harus bagaimana. ”Bu Mursida selama ini dihubungi tidak pernah angkat. Saya coba chat Whatsapp pun tak dibalas,” ujarnya.

Radar Bromo juga sempat menghubungi Sutima, salah satu anak dari jamaah yang ikut menjadi korban. Sutima mengatakan, ibunya bernama Asmo, berangkat umrah sudah membayar lunas. Bahkan, melebih dari biaya paket umrah 9 hari, Rp 22,5 juta.

Awalnya, Januari 2019 dirinya membayar Rp 9 juta ke Mursida. Nah, ternyata pembayarannya itu tidak disetorkan ke pihak kantor PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour Sidoarjo. Sehingga, dirinya datang sendir ke kantor travel dan membayar secara berkala hingga lunas. ”Saya bayarnya malah lebih dari 22,5 juta mas,” terangnya.

Sementara itu, Mursida yang diduga kuat menjadi makelar PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour Sidoarjo tidak dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, perempuan asal Desa Bulang, Kecamatan Gending itu selalu me-reject panggilan. Saa dihubungi kembali, ponselnya justru bernada sibuk.

Begitu juga dengan Sholehah Madjid, pemilik PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour Sidoarjo. Saat dihubungi via telepon, awalnya menjawab. Namun, saat dikonfirmasi langsung dimatikan dan tak lagi menjawab telpon.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 32 jamaah umrah asal Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih, telantar di Madinah. Mereka kini tertahan di Madinah lantaran biro travel yang memberangkatkan tidak tanggung jawab atas kepulangan para jamaah. Selain itu, mereka pun akhirnya harus menyewa sendiri hotel yang digunakan selama ini. (mas/fun)

SUMBERASIH – Jamaah umrah asal Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih diduga menjadi korban penipuan. Mereka telah membayar sejumlah uang untuk bisa berangkat ke tanah suci Mekkah. Uang pembayarannya pun bervariasi dan dibayar secara berkala.

MASIH DI MAKKAH: Dua dari puluhan jamaah yang masih bertahan di Makkah. (Istimewa)

Hal itu diungkapkan Badrus Sholeh, salah satu keluarga jamaah umrah. Kepada media ini Badrus mengaku, sedari awal dirinya sudah curiga dengan sistem pembayaran pergi umrah itu. Sebab, ayahnya yakni Hartono harus membayar Rp 9 juta lebih dulu ke seseorang bernama Mursida. Kemudian, bapaknya harus membawa empat orang untuk ikut berangkat umrah.

Karena ibunya, Fatimatus Zahro dan Ahmad Thoriq juga ikut. Akhirnya, ibunya dan adiknya juga mencari masing-masing empat orang yang ikut daftar.

”Jadi awal bayar, orang tua saya bayar Rp 27 juta. Kemudian bayar 12 orang yang mau berangkat umrah juga. Semua itu dibayar ke Mursida, orang Bulang, Gending,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo Senin (13/5).

Pertemuan dengan Mursida membuat Hartono semangat untuk bisa ke tanah suci Makkah. Bahkan, Hartono pun mendaftarkan dirinya, istrinya Fatimatus Zahro dan anaknya, Ahmad Thoriq. Itu dibayar Hartono akhir tahun kemarin pada Mursida.

Akibat tidak ada kabar dan kepastian dari Mursida, Hartono pun langsung mendatangi kantor PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour di Sidoarjo. Disitu, Hartono mengetahui setoran biaya umrah ternyata tidak sampai ke pihak travel yakni PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour. Sehingga, disitu Hartono ditawarkan kembali membayar Rp 6,5 juta, ikut pogram bernama Q net, sisanya menggunakan dana talangan.

”Jadi orang tua saya itu bayar dua kali. Pertama masing-masing Rp 9 juta ke Bu Mursida. Dan kedua bayar langsung ke kantor travel masing-masing Rp 6,5 juta. Jadi tiap orang bayar Rp 15,5 juta,” terangnya.

Menurutnya, orang tuanya juga menjadi korban ulah biro travel umrah nakal itu. Sebab, kondisi orang tua dan adiknya juga terlantar di Makkah-Madinah. Bahkan, dirinya juga kebingungan harus bagaimana. ”Bu Mursida selama ini dihubungi tidak pernah angkat. Saya coba chat Whatsapp pun tak dibalas,” ujarnya.

Radar Bromo juga sempat menghubungi Sutima, salah satu anak dari jamaah yang ikut menjadi korban. Sutima mengatakan, ibunya bernama Asmo, berangkat umrah sudah membayar lunas. Bahkan, melebih dari biaya paket umrah 9 hari, Rp 22,5 juta.

Awalnya, Januari 2019 dirinya membayar Rp 9 juta ke Mursida. Nah, ternyata pembayarannya itu tidak disetorkan ke pihak kantor PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour Sidoarjo. Sehingga, dirinya datang sendir ke kantor travel dan membayar secara berkala hingga lunas. ”Saya bayarnya malah lebih dari 22,5 juta mas,” terangnya.

Sementara itu, Mursida yang diduga kuat menjadi makelar PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour Sidoarjo tidak dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi via telepon, perempuan asal Desa Bulang, Kecamatan Gending itu selalu me-reject panggilan. Saa dihubungi kembali, ponselnya justru bernada sibuk.

Begitu juga dengan Sholehah Madjid, pemilik PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour Sidoarjo. Saat dihubungi via telepon, awalnya menjawab. Namun, saat dikonfirmasi langsung dimatikan dan tak lagi menjawab telpon.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 32 jamaah umrah asal Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih, telantar di Madinah. Mereka kini tertahan di Madinah lantaran biro travel yang memberangkatkan tidak tanggung jawab atas kepulangan para jamaah. Selain itu, mereka pun akhirnya harus menyewa sendiri hotel yang digunakan selama ini. (mas/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/