Forensik Mebs Polri Sebut Mutu Beton Buruk jadi Penyebab Atap di SDN Gentong Ambruk

PASURUAN, Radar Bromo – Ambruknya empat atap ruang kelas SDN Gentong disebabkan gagal konstruksi dan human error. Pelaksana proyek dinilai tak memiliki dasar teknis dalam pembangunan gedung tersebut. Akibatnya, struktur bangunan amburadul.

Hal itu disampaikan ahli dari Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Surabaya Kompol Handi Purwanto dalam sidang lanjutan ambruknya empat atap ruang kelas SDN Gentong. Sidang berlangsung di Pengadilan Negeri Pasuruan, kemarin (13/2).

Handi mengatakan, Tim Labfor lebih dulu menentukan titik awal ambruknya atap ruang kelas. Dari pengamatan itu, diketahui pola tarikan bangunan yang ambruk berawal dari ruang kelas IIb. “Tarikan terjauh ada di kelas IIb tenggara,” ungkapnya.

Tim Labfor juga mengambil dua potongan beton sebagai sampel. Lalu mengukur kekuatannya menggunakan hammer test. Pihaknya membandingkan kekuatan beton itu dengan ketentuan yang ada dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) dan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Sampai berita acara dikeluarkan, tidak dikasih gambar teknik. Sudah minta beberapa kali tidak dikasih, akhirnya kami simpulkan gambar teknik tidak ada dan kami mengacu pada PBI dan SNI,” jelasnya.

Kualitas beton paling buruk, kata Handi, berukuran 20. Namun beton yang dipakai pada konstruksi ruang kelas SDN Gentong yang ambruk hanya sekitar 10 hingga 11. “Bisa komposisi yang salah, pasirnya jelek, atau spek dikurangi,” terang dia.

Majelis hakim kemudian bertanya apakah faktor usia bisa mempengaruhi ambruknya bangunan. Handi menjawab tidak. Sebab, kecenderungan beton semakin lama semakin keras. Dia lantas membandingkan kondisi bangunan runtuh di Jember.

“Material betonnya bagus, jadi tidak pecah. Tapi di sini (SDN Gentong) habis,” ujarnya.

Menurut Handi, kualitas beton itulah penyebab utama bangunan ambruk. Sedangkan kualitas dan teknik pemasangan galvalum menjadi faktor pendukung, sehingga bangunan mudah ambruk.

“Pemasangan kerangka galvalum itu diambil jarak maksimal. Antara 1,4 meter sampai 1,2 meter. Harusnya 0,2 meter,” paparnya.

Dalam sidang Kamis, juga dihadirkan Muji Irmawan sebagai ahli teknik sipil struktur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Ia pernah membuat kajian teknis sebagai bahan penyelidikan yang dilakukan Polda Jawa Timur mengenai ambruknya bangunan sekolah itu. “Dalam kajian teknis itu saya simpulkan, mutu beton yang sangat rendah sekali,” jelas Muji.

Ia bahkan tak menguji kualitas beton itu menggunakan alat. Muji menggambarkan buruknya mutu beton yang sudah hancur hanya dengan sentuhan tangan. “Tidak ada kerikilnya. Padahal, struktur beton itu harus ada kerikil, semen, dan pasir. Tapi ini seperti campuran untuk plester. Dan semennya sedikit,” ucap Muji.

Di samping itu, menurut Muji, sistem penyambungan galvalum kurang baik. Sehingga, berakibat tidak stabilnya struktur kerangka baja itu.

“Penyambungannya nggak nyokot. Cuma ditempel, tidak dikaitkan. Jadi ya tinggal menunggu waktu saja,” pungkasnya. (tom/hn/fun)