Soal Perburuan Kera Liar Oleh Warga di Probolinggo, Ini Kata BKSDA

KANIGARAN – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) seksi 6 Probolinggo menanggapi perburuan kera yang dilakukan komunitas dan warga. Perburuan dengan cara menembak dibolehkan dengan catatan jika terpaksa. Alasannya, sudah beberapa kali dilakukan penangkapan, namun masih membandel.

Hal itu disampaikan Sudartono, kepala BKSDA seksi 6 Probolinggo pada Jawa Pos Radar Bromo, Senin (12/11). “Tidak apa-apa (ditembak, Red). Itu memang sudah kondisi terpaksa. Sebab, sudah beberapa kali kami jerat, tetapi tidak pernah kapok,” terangnya. Tujuannya, agar monyet ekor panjang itu tidak lagi meresahkan warga.

Menurutnya, BKSDA sudah lebih dari tiga kali menangkap monyet ekor panjang itu dengan perangkap. Kera itu oleh BKSDA kemudian dipindah ke daerah yang lebih aman dan jauh dari permukiman warga. Setelah itu, kera tersebut tak kembali mengganggu warga.

“Setelah dua bulan ini, dia kembali lagi dan menyerang balita. Oleh karena itu, mengambil langkah dengan melakukan penembakan itu boleh dilakukan,” katanya.

Saat ditanya kenapa tidak dilakukan pembiusan, Sudartono menjelaskan, ketika kera tersebut di alam liar, sangat sulit untuk melakukan pembiusan itu. Jika membawa 10 amunisi berisi obat bius hanya satu yang diperkirakan kena. “Keranya itu banyak. Jadi, tidak bisa untuk dilakukan pembiusan. Dan terpaksa itu ditembak,” jelasnya.

Sementara itu, Senin (12/11) warga Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, masih melakukan perburuan terhadap monyet itu. Sebelumnya, warga berhasil menembak seekor monyet. Sedangkan kali ini, tidak ada kera yang bisa ditangkap. Rencananya, monyet itu akan terus diburu, hingga tak lagi meresahkan warga. (sid/rf/mie)