Tahun Ini Pemkab Probolinggo Dijatah 295 CPNS, Ini Formasinya

KRAKSAAN – Kuota rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemkab Probolinggo, akhirnya turun. Tahun ini Pemkab Probolinggo mendapatkan kuota rekrutmen 295 CPNS. Kuota ini lebih banyak dibanding dengan jumlah yang diajukan Pemkab Probolinggo, 271 CPNS.

Dari kuota 295 CPNS untuk Kabupaten Probolinggo, itu paling banyak untuk formasi guru. Mencapai 282 CPNS. Artinya, hanya ada 13 kursi untuk CPNS lainnya. “Dapat kuota 295 CPNS. Lebih banyak dibanding yang kami ajukan sebanyak 271 CPNS,” ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Probolinggo Abdul Halim.

Selain guru, ada tenaga medis, tenaga teknis, dan teknik informatika. “Semuanya syarat usia minimal 18 tahun dan maksimal 35 tahun,” ujarnya.

Menurutnya, sistem pendaftaran rekrutmen CPNS ini semuanya dilakukan secara online langsung ke Pemerintah Pusat. Sedangkan, pelaksanaan tesnya, Pemkab Probolinggo memilih menggelarnya di kantor regional Surabaya.

Alasannya, pemkab tidak memiliki fasilitas untuk melaksanakan tes di daerah. Menurut Halim, bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas tes, pelaksanaan tesnya dilaksanakan di kantor regional. Nah, untuk Kabupaten Probolinggo, ikut di kantor regional Surabaya.

“Kami sebenarnya ada fasilitas untuk UKG. Tapi, semua itu harus di-update, standarisasi dengan pusat. Komputernya harus standar, jaringan, listrik, dan virusnya harus dibersihkan. Karena itu, lebih aman Kabupaten Probolinggo ikut tes di Surabaya,” ujarnya.

Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, bedasarkan hasil verifikasi, Pemkab Probolinggo membutuhkan cukup banyak PNS guru dan paramedis. Mencapai sekitar 3.300 PNS. Dari jumlah itu, paling banyak dari tenaga guru, lebih dari 2.500 PNS.

Banyaknya kebutuhan PNS guru dan paramedis ini tidak lepas dari dampak memoratorium rekrutmen CPNS. Demi mengatasi masalah ini, Pemkab Probolinggo telah mengangkat guru tidak tetap (GTT) berdasarkan SK Bupati. Jumlahnya mencapai 2.300 guru. Namun, jumlah ini belum mampu memenuhi kekurangan guru di SD sampai SMP. (mas/rud/mie)