Radar Bromo

Trenggiling hingga Buaya Muara, Inilah Satwa Dilindungi yang Diamankan Polisi saat Gerebek Rumah di Pandaan

BANGIL, Radar Bromo – Anggota Satreskrim Polres Pasuruan menggerebek sebuah rumah yang berisi belasan satwa dilindungi di Dusun Jatianom, Desa Karangjati, Kecamatan Pandaan. Penggerebekan dilakukan lantaran binatang-binatang dilindungi itu dipelihara tanpa memiliki izin.

Dari penggerebekan itu, petugas mengamankan belasan satwa hidup dan satwa yang telah diawetkan. Tak hanya jenis burung, seperti Kakaktua Jambul Kuning. Tetapi juga binatang air, seperti buaya muara. Petugas juga mengamankan seorang tersangka, SY, yang diduga menjadi pemilik satwa-satwa tersebut.

Kapolres Pasuruan AKBP Rofik Ripto Himawan menyampaikan, penggerebekan itu berlangsung Kamis (5/12) sore. Awalnya, petugas memperoleh informasi dari warga bahwa SY memelihara buaya berukuran besar. Informasi itu diperoleh petugas, sehari sebelum penggerebekan, Rabu (4/12).

Petugas pun menindaklanjuti informasi tersebut dengan melakukan penyelidikan. Hingga penyelidikan itu, mengerucut pada kebenaran.

Petugas kemudian berkoordinasi dengan BKSDA Jatim untuk melakukan penggerebekan. Penggerebekan pun dilakukan bersama tim BKSDA Jatim, pukul 17.00, Kamis (5/12).

“Mulanya kami memperoleh laporan dari masyarakat. Kalau tersangka SY ini memelihara buaya berukuran besar. Begitu memperoleh informasi itu, petugas melakukan penyelidikan. Begitu yakin, penggerebekan dilakukan,” kata Rofik, sapaan Rofik Ripto Himawan.

Saat penggerebekan, petugas mendapati kolam yang berisi buaya. Kolam tersebut berada di dalam rumah tersangka. Ada empat buaya hidup yang dipelihara di sana.

TAK MILIKI IZIN: Kapolres Pasuruan Rofik Ripto Himawan mengecek hewan yang berhasil diamankan di rumah SY. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Empat buaya jenis buaya muara itu, memiliki panjang berbeda. Ada yang panjangnya satu meter, ada pula yang sampai 2,5 meter. Dengan bobot buaya tersebut, paling besar sampai 1 kuintal.

Petugas juga menemukan beberapa sangkar burung milik tersangka yang diisi sejumlah burung. Ada tiga ekor burung Kakaktua Jambul Kuning, ada pula seekor burung kakaktua jenis Mollucan dan seekor burung Nuri Kepala Hitam. Bukan hanya itu, petugas juga menemukan seekor kukang di rumah tersangka.

Selain satwa hidup, petugas juga menemukan satwa-satwa yang telah diawetkan. Ada penyu berukuran besar, ada pula seekor trenggiling, satu buaya berukuran kecil, dua berang-berang, hingga sebuah tengkorak beserta tanduk rusa.

“Dalam penggerebekan bersama BKSDA, ada satwa hidup dan satwa mati dan diawetkan yang kami temukan,” imbuh Rofik.

Atas temuan itu, tersangka kemudian digiring ke Mapolres Pasuruan untuk menjalani pemeriksaan. Hanya saja, dalam pres rilis kemarin, tersangka tidak dihadirkan. Alasannya, tersangka mengalami hipertensi, sehingga tidak memungkinkan untuk menjalani pres rilis.

“Tersangka kami amankan bersama barang bukti yang kami temukan. Tapi, mohon maaf, tersangka tidak bisa kami hadirkan karena mengalami hipertensi,” sambung Rofik.

Dikatakan Rofik, pihaknya masih mendalami penemuan satwa-satwa dilindungi itu. Pendalaman tersebut berkaitan dengan, dari mana tersangka memperoleh satwa hingga untuk apa satwa-satwa tersebut dikumpulkan. Petugas mencurigai, tersangka terlibat dalam jual-beli hewan yang dilindungi.

“Masih kami dalami. Apakah tersangka merupakan jaringan jual-beli hewan dilindungi. Termasuk pula, dari mana ia memperoleh satwa-satwa tersebut. Karena dari pengakuannya, satwa-satwa itu dipeliharanya hanya untuk koleksi. Tentu saja, kami tidak akan begitu saja mempercayainya,” jelasnya.

Rofik menguraikan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan BKSDA Jatim. Rencananya, barang bukti yang diamankan tersebut akan diserahkan ke BKSDA untuk ditangani dengan baik.

Tersangka sendiri, dijerat pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) huruf a UU RI Nomor 5 Tahun 1990 untuk satwa hidup yang dimiliki ataupun dipeliharanya. Sementara untuk yang satwa mati, tersangka dijerat pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) huruf b UU RI Nomor 5 Tahun 1990.

“Atas perbuatan yang dilakukannya itu, tersangka terancam hukuman lima tahun penjara,” jelasnya.

Kasi Konservasi BKSDA Provinsi Jatim Wilayah VI Mamat Ruhimat menyampaikan, memelihara hewan yang dilindungi harus mengajukan izin ke Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Sementara untuk memelihara satwa yang tidak dilindungi, harus mengajukan izin penangkaran, baik secara perorangan ataupun badan hukum. Pengajuannya dilakukan ke BKSDA Jatim di Surabaya.

“Artinya, untuk memelihara satwa yang dilindungi harus memiliki izin penangkaran. Di mana, izin penangkaran tersebut harus diperpanjang lima tahun sekali,” tuturnya.

Mamat melanjutkan, saat ini barang bukti berupa satwa-satwa hidup yang diamankan, akan ditampung di balai konservasi TSI Prigen atau Batu. Sementara untuk yang mati, akan dikomunikasikan ke kantor BKSDA Jatim.

“Untuk yang mati, nantinya akan dimusnahkan. Ini untuk mencegah penyalahgunaannya. Kami akan bawa ke kantor dulu untuk kami komunikasikan dengan pimpinan,” pungkasnya. (one/hn/fun)