alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Satu Orang di Kab Probolinggo Meninggal Dunia Kena Leptospirosis di Awal tahun

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

KRAKSAAN, Radar Bromo– Jumlah warga Kabupaten Probolinggo yang menderita penyakit Leptospirosis diawal tahun ini mencapai enam orang. Dari enam orang yang terjangkit penyakit yang biasa disebut dengan kencing tikus tersebut, satu orang meninggal dunia.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, di bulan Januari 2020, terdapat sejumlah 6 kasus penderita leptospirosis.  Satu diantaranya meninggal dunia yang berasal dari Kecamatan Dringu.

“Ada enam kasus dan satu diantaranya meninggal, ” kata Kasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes, Dewi Veronica.

Menurut perempuan yang akrab disapa Dewi itu,pPenyakit kencing tikus disebabkan oleh bakteri leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Ada beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa leptospirosis. Yaitu, anjing, hewan pengerat seperti tikus, dan kelompok hewan ternak seperti sapi atau babi.

Bagi masyarakat, yang harus diwaspadai, Januari hingga Maret menjadi bulan paling rawan penularan penyakit ini. Sebab, saat itu sedang masuk musim hujan. “Penyakit kencing tikus ini menyebar saat musim hujan,” katanya.

Ia memaparkan, di Kabupaten Probolinggo belum banyak ditemukan penderita kencing tikus. Namun, tidak lantas masyarakat bisa mengentengkan penyakit tersebut.

“Untuk di Probolinggo, kasusnya belum begitu banyak. Hanya beberapa yang kami temukan,” terangnya.

Pada 2017, misalnya, hanya ada dua penderita. Satu di antaranya meninggal dunia. Sedangkan pada 2018, penderitanya ada 11 orang. Satu dari 11 penderita itu, juga meninggal dunia. Pada 2019 ditemukan sekitar ada empat kasus kencing tikus.

Penyakit kencing tikus, lanjutnya, menyebar melalui genangan air. Karena itu, yang rawan terkena penyakit tersebut adalah masyarakat yang saat musim hujan sering terkena air.

“Yang wajib mewaspadai adalah masyarakat yang daerahnya rutin terkena banjir. Seperti di Dringu. Pada 2017 satu kasus ditemukan di Dringu dan penderitanya meninggal,” ujarnya.

Warga lain yang rentan terkena penyakit ini adalah petani. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini, aktivitas pertanian meningkat. Mengingat tikus di daerah persawahan juga cukup banyak.

“Jadi, kami harapkan semua masyarakat untuk menjaga kebersihan. Selain itu, juga menghindari daerah yang ada genangannya untuk bisa terhindar dari penyakit leptospirosis,” tuturnya. (sid/fun)

 

Mobile_AP_Rectangle 1

KRAKSAAN, Radar Bromo– Jumlah warga Kabupaten Probolinggo yang menderita penyakit Leptospirosis diawal tahun ini mencapai enam orang. Dari enam orang yang terjangkit penyakit yang biasa disebut dengan kencing tikus tersebut, satu orang meninggal dunia.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, di bulan Januari 2020, terdapat sejumlah 6 kasus penderita leptospirosis.  Satu diantaranya meninggal dunia yang berasal dari Kecamatan Dringu.

“Ada enam kasus dan satu diantaranya meninggal, ” kata Kasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes, Dewi Veronica.

Mobile_AP_Half Page

Menurut perempuan yang akrab disapa Dewi itu,pPenyakit kencing tikus disebabkan oleh bakteri leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Ada beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa leptospirosis. Yaitu, anjing, hewan pengerat seperti tikus, dan kelompok hewan ternak seperti sapi atau babi.

Bagi masyarakat, yang harus diwaspadai, Januari hingga Maret menjadi bulan paling rawan penularan penyakit ini. Sebab, saat itu sedang masuk musim hujan. “Penyakit kencing tikus ini menyebar saat musim hujan,” katanya.

Ia memaparkan, di Kabupaten Probolinggo belum banyak ditemukan penderita kencing tikus. Namun, tidak lantas masyarakat bisa mengentengkan penyakit tersebut.

“Untuk di Probolinggo, kasusnya belum begitu banyak. Hanya beberapa yang kami temukan,” terangnya.

Pada 2017, misalnya, hanya ada dua penderita. Satu di antaranya meninggal dunia. Sedangkan pada 2018, penderitanya ada 11 orang. Satu dari 11 penderita itu, juga meninggal dunia. Pada 2019 ditemukan sekitar ada empat kasus kencing tikus.

Penyakit kencing tikus, lanjutnya, menyebar melalui genangan air. Karena itu, yang rawan terkena penyakit tersebut adalah masyarakat yang saat musim hujan sering terkena air.

“Yang wajib mewaspadai adalah masyarakat yang daerahnya rutin terkena banjir. Seperti di Dringu. Pada 2017 satu kasus ditemukan di Dringu dan penderitanya meninggal,” ujarnya.

Warga lain yang rentan terkena penyakit ini adalah petani. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini, aktivitas pertanian meningkat. Mengingat tikus di daerah persawahan juga cukup banyak.

“Jadi, kami harapkan semua masyarakat untuk menjaga kebersihan. Selain itu, juga menghindari daerah yang ada genangannya untuk bisa terhindar dari penyakit leptospirosis,” tuturnya. (sid/fun)

 

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2