alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Sebelum Ambruk, Petugas Kebersihan di SDN Gentong Sempat Bersihkan Atap usai Diminta Dispendik

GADINGREJO, Radar Bromo – Insiden ambruknya atap di 4 ruang kelas SDN Gentong, terjadi dalam sekejap. Dalam hitungan detik, suasana belajar mengajar di SDN Gentong berubah mencekam.

Empat ruang kelas yang ambruk yaitu ruang kelas 2B, 2A, 5B, dan 5A. Empat kelas ini berada di satu lokal. Terletak di bagian depan sekolah, berjejer dari selatan ke utara. Posisi lokal ruangan menghadap ke barat atau menghadap ke Jalan Raya Jl. KH. Sepuh.

Belum diketahui penyebab utama ambruknya atap ruangan empat kelas tersebut. Namun, kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Akibat insiden itu, ada dua korban jiwa. Keduanya adalah Sevina Arsy Wijaya, 19, pegawai tidak tetap (PTT), warga Jalan Slamet Riyadi RT 09/RW 08, Kelurahan Mandaranrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Korban meninggal karena pendarahan otak akibat tertimpa batu bata yang jatuh dari atap kelas.

Satu korban yang lain adalah Irza Almira, 8, warga Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo. Gadis kecil itu meninggal setelah tertimpa galvalum dan asbes. Dia mengalami pendarahan di belakang kepala dan memar di wajah. Sisanya ada 14 anak (sebelumnya tertulis 11) yang terluka.

BERSERAKAN: Rangka atap dari galvalum di empat ruang kelas yang roboh. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Mereka adalah M. Zidan Izzulhaq, 8; Alysa, 7; Aisya, 7; Siti Rohmania, 8; Ahmad Gerhana Putra, 8; Mukhamad Putra, 8; AD, 8; Nada Fathiya, 8; Kina, 8; Akbar, 8; Zahra Salsabila, 9. Semua korban ini adalah siswa kelas 2B dan 2A. Sementara tiga korban lainnya adalah siswa kelas 5A. Yaitu, Abdul Mukti, 11; Wildamul F, 11; dan Dina Hilda Andin, 10.

Berdasarkan data Jawa Pos Radar Bromo di lapangan, sekitar pukul 07.30, seorang pembantu pelaksana, Budi Santoso, menaiki atap ruang kelas 5B. Ia memotong ranting cemara, karena ranting-ranting cemara menimpa genting ruang kelas tersebut.

Usai memotong ranting, Budi lantas membersihkan potongan ranting dengan menggunakan sapu di genting itu. Saat menyapu ini, ia bergerak dari atap ruang kelas 5B yang terletak di sisi utara ke selatan menuju atap ruang kelas 5A.

Tiba-tiba, ia merasakan atap yang dipijaki bergetar. Tak lama kemudian, atap itu pun ambruk. Budi sendiri jatuh tertelungkup dari genting ke lantai kelas 5B. Akibatnya, Budi mengalami luka lecet pada jempol kaki kanan dan betis kiri.

Yang miris, bukan hanya atas kelas 5A dan 5B yang ambruk. Namun, atas kelas 2B dan 2A juga ambruk. Semua atas empat kelas itu terbuat dari galvalum dan asbes. Selain ambruk, tembok di keempat sisi ruangan juga retak.

Kontan, peristiwa ini membuat siswa dan guru yang berada di ruangan lain langsung kaget. Mereka semua lari keluar, melihat empat ruang kelas yang atapnya ambruk.

Dalam sekejap, suasana sekolah berubah mencekam dengan teriakan histeris. Semua siswa dan guru berlarian dan menangis. Kepanikan terjadi mengetahui atap empat ruang kelas itu ambruk. Atap dan asbes ini menimpa puluhan siswa yang berada di bawahnya. Akibatnya, 14 siswa luka-luka. Lalu, satu siswa dan satu PTT meninggal dunia.

Sebanyak 14 korban luka-luka ini dibawa ke RSUD dr R Soedarsono Kota Pasuruan. Termasuk korban meninggal dunia, Irza Almira. Sementara PTT yang meninggal dunia, Sevina Arsy Wijaya, dilarikan ke RS Graha Medika Pasuruan.

Budi sendiri menjelaskan, dia membersihkan daun cemara karena diminta. “Pekan lalu ada pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Pasuruan meminta agar ranting pohon cemara dipotong. Sebab, ranting ini sudah menimpa genting kelas 5. Nah, waktu saya menyapu tiba-tiba atap ambruk. Saya jatuh di kelas 5B,” jelas Budi. (riz/fun)

GADINGREJO, Radar Bromo – Insiden ambruknya atap di 4 ruang kelas SDN Gentong, terjadi dalam sekejap. Dalam hitungan detik, suasana belajar mengajar di SDN Gentong berubah mencekam.

Empat ruang kelas yang ambruk yaitu ruang kelas 2B, 2A, 5B, dan 5A. Empat kelas ini berada di satu lokal. Terletak di bagian depan sekolah, berjejer dari selatan ke utara. Posisi lokal ruangan menghadap ke barat atau menghadap ke Jalan Raya Jl. KH. Sepuh.

Belum diketahui penyebab utama ambruknya atap ruangan empat kelas tersebut. Namun, kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Akibat insiden itu, ada dua korban jiwa. Keduanya adalah Sevina Arsy Wijaya, 19, pegawai tidak tetap (PTT), warga Jalan Slamet Riyadi RT 09/RW 08, Kelurahan Mandaranrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Korban meninggal karena pendarahan otak akibat tertimpa batu bata yang jatuh dari atap kelas.

Satu korban yang lain adalah Irza Almira, 8, warga Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo. Gadis kecil itu meninggal setelah tertimpa galvalum dan asbes. Dia mengalami pendarahan di belakang kepala dan memar di wajah. Sisanya ada 14 anak (sebelumnya tertulis 11) yang terluka.

BERSERAKAN: Rangka atap dari galvalum di empat ruang kelas yang roboh. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Mereka adalah M. Zidan Izzulhaq, 8; Alysa, 7; Aisya, 7; Siti Rohmania, 8; Ahmad Gerhana Putra, 8; Mukhamad Putra, 8; AD, 8; Nada Fathiya, 8; Kina, 8; Akbar, 8; Zahra Salsabila, 9. Semua korban ini adalah siswa kelas 2B dan 2A. Sementara tiga korban lainnya adalah siswa kelas 5A. Yaitu, Abdul Mukti, 11; Wildamul F, 11; dan Dina Hilda Andin, 10.

Berdasarkan data Jawa Pos Radar Bromo di lapangan, sekitar pukul 07.30, seorang pembantu pelaksana, Budi Santoso, menaiki atap ruang kelas 5B. Ia memotong ranting cemara, karena ranting-ranting cemara menimpa genting ruang kelas tersebut.

Usai memotong ranting, Budi lantas membersihkan potongan ranting dengan menggunakan sapu di genting itu. Saat menyapu ini, ia bergerak dari atap ruang kelas 5B yang terletak di sisi utara ke selatan menuju atap ruang kelas 5A.

Tiba-tiba, ia merasakan atap yang dipijaki bergetar. Tak lama kemudian, atap itu pun ambruk. Budi sendiri jatuh tertelungkup dari genting ke lantai kelas 5B. Akibatnya, Budi mengalami luka lecet pada jempol kaki kanan dan betis kiri.

Yang miris, bukan hanya atas kelas 5A dan 5B yang ambruk. Namun, atas kelas 2B dan 2A juga ambruk. Semua atas empat kelas itu terbuat dari galvalum dan asbes. Selain ambruk, tembok di keempat sisi ruangan juga retak.

Kontan, peristiwa ini membuat siswa dan guru yang berada di ruangan lain langsung kaget. Mereka semua lari keluar, melihat empat ruang kelas yang atapnya ambruk.

Dalam sekejap, suasana sekolah berubah mencekam dengan teriakan histeris. Semua siswa dan guru berlarian dan menangis. Kepanikan terjadi mengetahui atap empat ruang kelas itu ambruk. Atap dan asbes ini menimpa puluhan siswa yang berada di bawahnya. Akibatnya, 14 siswa luka-luka. Lalu, satu siswa dan satu PTT meninggal dunia.

Sebanyak 14 korban luka-luka ini dibawa ke RSUD dr R Soedarsono Kota Pasuruan. Termasuk korban meninggal dunia, Irza Almira. Sementara PTT yang meninggal dunia, Sevina Arsy Wijaya, dilarikan ke RS Graha Medika Pasuruan.

Budi sendiri menjelaskan, dia membersihkan daun cemara karena diminta. “Pekan lalu ada pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Pasuruan meminta agar ranting pohon cemara dipotong. Sebab, ranting ini sudah menimpa genting kelas 5. Nah, waktu saya menyapu tiba-tiba atap ambruk. Saya jatuh di kelas 5B,” jelas Budi. (riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/