Terjerat OTT, Ini Laporan Harta Kekayaan Wali Kota Setiyono Terakhir

PASURUAN – Wali Kota Pasuruan Setiyono yang terjerat operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terakhir melaporkan harta kekayaannya pada 29 Juli 2015. Atau 5 bulan sebelum Pilkada Kota Pasuruan digelar. Dalam Laporan Kekayaan Harta Penyelenggara Negara (LKHPN) yang dimiliki KPK, harta Setiyono saat itu sekitar Rp 4.627.101.810.

Rinciannya, harta tidak bergerak yang terdiri atas 7 bidang tanah Rp 3.620.225.000; harta bergerak berupa 1 motor dan 1 mobil senilai Rp 267 juta; harta bergerak lainnya berupa logam mulia senilai Rp 33.050.000; serta giro senilai Rp 706.826.810. Dalam laporannya, Setiyono tercatat tidak memiliki utang.

LHKPN per 29 Juli itu turun angkanya dari LHKPN yang tercatat 17 November 2014. Saat itu harta Setiyono dilaporkan mencapai Rp 4.738.396.083. Penurunan itu terletak pada turunnya nilai giro dan harta tidak bergerak.

Meskipun ada kenaikan di harta bergerak, namun nilainya tidak terlalu signifikan. Setelah resmi menjabat sebagai wali kota, Setiyono belum sekalipun melaporkan harta kekayaannya.

Di sisi lain, karir Setiyono sebagai birokrasi murni maupun politisi cukup matang. Sebelum dikenal sebagai politisi Partai Golkar, pria kelahiran Nganjuk, 63 tahun silam itu pernah menjabat posisi strategis di Pemkot Pasuruan. Dari Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) hingga sekretaris daerah.

Setelah pensiun, Setiyono kemudian bergabung dengan Partai Golkar. Bekal pengalaman yang dipunyai selama berada di jajaran birokrasi pun cukup mempengaruhi statusnya sebagai kader partai berlambang pohon beringin itu. Setiyono pun berhasil menempati posisi ketua DPC Partai Golkar Kota Pasuruan.

Pada 2010, Setiyono pun maju dalam kontestasi Pilwali sebagai calon wakil wali kota. Ia mendampingi Hasani sebagai calon wali kota. Pasangan yang diberangkatkan oleh PKB, Partai Golkar, dan PPP pun mampu memenangkan Pilwali. Keduanya dilantik menjadi pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pasuruan periode 2010-2015.

Setelah menjabat wakil wali kota selama satu periode, Setiyono kembali mengasah peruntungannya. Ia mendeklarasikan diri sebagai calon wali kota pada Pilwali 2015. Kali ini, suami dari Rini Widjajati itu menggandeng politisi muda PDIP, Raharto Teno Prasetyo.

Setiyono bersaing dengan Hasani untuk memperebutkan suara masyarakat Kota Pasuruan. Dalam Pilkada 2015, ada tiga pasangan calon yang bertarung. Di antaranya Hasani-Moch Yasin (Berhasil), Setiyono-Raharto Teno Prasetyo (Sehat), dan Yus Samsul Hadi Subakir-Agus Wibowo (Iya) dari jalur independen.

Pasangan Setiyono-Raharto Teno Prasetyo lalu keluar sebagai pemenang dengan perolehan 62.789 suara. Disusul oleh pasangan Berhasil dengan perolehan suara 49.086 suara. Disusul pasangan Iya yang hanya mendapat 1.231 suara. Setiyono-Raharto Teno resmi dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pasuruan pada Februari 2016.

OTT KPK yang menyeret nama Setiyono cukup mengejutkan. Pasalnya, selama memimpin, Pemkot Pasuruan meraih predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Setidaknya, predikat tersebut telah diterima dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama dua tahun berturut-turut. Selain prestasi-prestasi lainnya yang tercatat sejak kepemimpinannya. (tom/rf/mie)