Warga Pasrepan yang Tewas Dibondet Seharinya Pedagang Sepeda Bekas yang Penyabar, Apa Motif Pelaku?

PASREPAN, Radar Bromo – Teror bondet di Dusun Lemahbang Selatan, Desa Lemahbang, Kecamatan Pasrepan, Kamis (4/6) dini hari, membuat geger banyak pihak. Teror itu membuat Murtadho, 27, tewas. Tapi juga melukai anak serta istrinya. Pelaku nekat masuk ke dalam rumah saat dini hari. Lalu apa kira-kira motif pelaku ?

Akibat dilempar bondet, Murtadho langsung tewas di lokasi kejadian, dengan kondisi kepala pecah. Sedangkan istrinya, Rumaidah, 25, mengalami luka ringan pada bagian telinga kanan.  Sementara anaknya Zakiatun Nabillah, 3, mengalami luka ringan pada kepala karena terkena serpihan pecahan bondet.

Korban yang meninggal dibawa ke kamar mayat RSUD dr R Soedarsono, Kota Pasuruan, untuk divisum. Sedangkan istri dan anak korban dibawa ke Puskesmas Pasrepan untuk perawatan.

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Adrian Wimbarda menjelaskan, Polres Pasuruan sudah mengecek tempat kejadian perkara (TKP). Menurutnya, korban meninggal lantaran lemparan bondet di kepalanya. “Jadi, pelaku memang masuk ke rumah korban dan melempar bondet pada korban,” terangnya.

Saat kejadian, korban tidur bertiga bersama anak dan istrinya. Namun, yang kena lembaran bondet hanya korban. Karena itu, dia mengalami luka parah di kepalanya dan meninggal. Sementara anak dan istrinya hanya luka terkena serpihan bondet.

Sampai Kamis (4/6), petugas masih mendalami keterangan saksi-saksi. Karena itu, belum diketahui berapa jumlah pelaku. Termasuk motif apa yang menyebabkan korban dibondet.

Kapolres Pasuruan AKBP Rofiq Ripto Himawan menegaskan, petugas masih mendalami kasus itu untuk mengejar pelaku. Namun, petugas sudah melakukan olah TKP. Termasuk, menganalisis peristiwa dan fakta hukum apa yang terjadi di lapangan.

“Olah TKP, analisis, dan fakta hukum yang terjadi di lapangan itu kami kembangkan. Semua itu bisa menjadi petunjuk dan alat bukti untuk menangkap pelaku. Termasuk motif dan kronologi yang melatarbelakangi,” terangnya.

Kapolres Pasuruan menegaskan, pihaknya tidak akan main-main pada pelanggar undang-undang kedaruratan. Penggunaan senjata api, termasuk bahan peledak, apalagi sampai mencelakakan orang, dipastikan akan berhadapan dengan kepolisian.

Teror bondet di Dusun Lemahbang Selatan, Desa Lemahbang, Kecamatan Pasrepan, sempat membuat warga terkejut. Apalagi, pelemparan bondet itu terjadi dini hari. Yaitu, pukul 03.15 atau satu jam sebelum subuh.

Saat itu kondisi Dusun Lemahbang Selatan sepi. Sebagian warga masih banyak yang terlelap. Namun, tiba-tiba suara menggelegar terdengar. Disusul kemudian, keributan dan jerit tangis menyayat hari di pagi yang dingin itu.

Nur, 50, seorang tetangga korban Murtadho, 27, memberikan kesaksian. Menurutnya, sekitar pukul 03.15 itu, dirinya sedang tidur. Dia lantas terbangun mendengar suara tangis dan jeritan, tidak jauh dari rumahnya. Nur pun kaget. Dia lantas mencari tahu dengan melihat dari balik jendela. Saat itu dia melihat ada ribut-ribut di rumah tetangganya.

“Waktu kejadian saya pas tidur. Lalu kaget karena ada suara orang jerit-jerit. Kalau suara ledakan bondet, saya gak dengar. Tapi dengar orang jerit keras dan ramai-ramai di luar rumah,” ucapnya.

Nur sendiri mengaku, tidak berani keluar rumah. Dia berdiam di rumahnya hingga hari agak terang. Baru setelah subuh dia tahu, tetangganya meninggal karena dibondet.

SEDIH: Ibunda Murtadho, Maimunah (duduk) yang sempat pingsan saat jenazah anaknya datang. Jenazah Murtadho saat masih di TKP. (Foto: Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Murtadho, menurut Nur bukan warga asli Lemahbang. Hanya saja, korban sudah lama tinggal di sana. Tepatnya setelah menikah dengan seorang perempuan warga setempat.

Abdullah, kepala Desa Lemahbang mengatakan, aksi bondet tersebut diketahui setelah ada laporan dari warga. “Setelah tahu informasi tersebut saya langsung menghubungi Polsek Pasrepan. Dan tak lama saya juga ke lokasi kejadian,” terangnya.

Menurutnya, teror bondet tersebut jelas membuat warga takut. Apalagi bondet yang dilempar sampai membuat korban meninggal.

Meski demikian, sejak pagi ratusan peziarah mendatangi rumah korban. Rumah yang dibondet sudah digaris polisi. Sehingga peziarah banyak memadati rumah mertua korban yang berada di samping rumah korban.

Murtadho sehari-harinya bekerja jual beli sepeda bekas. Sejak dua tahun terakhir, dia memiliki rumah sendiri di Lemahbang dan tinggal bersama anak istrinya. Korban sendiri dikenal sebagai orang yang sabar. Karena itu, dia tidak pernah berseteru dengan tetangganya.

Karin, saudara korban menyebut, selama ini korban tidak punya musuh. Karena itu, dia tidak menyangka ada orang yang tega membondet korban, hingga meninggal.

“Gak pernah ada musuh, bahkan orangnya sabar. Gak tahu kenapa ada yang tega sampai berbuat seperti itu,” ujar warga Mangguan, Kecamatan Pasrepan itu. (eka/hn/fun)