alexametrics
25C
Probolinggo
Thursday, 21 January 2021

Kebijakan Belajar di Rumah-WFH Bikin Pengeluaran Meningkat Lipat Dua

Kebijakan belajar di rumah untuk pelajar dan bekerja dari rumah (work from home) untuk karyawan, mengubah rutinitas hampir 180 derajat. Memindah aktivitas di sekolah dan pekerjaan kantor ke rumah, menimbulkan banyak konsekuensi. Salah satunya, pengeluaran sehari-hari meningkat hingga dua kali lipat.

————–

Belajar di rumah dan work from home (WFH) memang diambil untuk mencegah penyebaran virus korona. Namun, tentu saja bukan tanpa konsekuensi.

Selama tiga minggu terakhir, kebijakan ini dirasa mulai memberatkan. Tidak hanya rutinitas di rumah yang berubah. Pengeluaran sehari-hari juga meningkat. Bahkan, peningkatannya sampai dua kali lipat dibanding kondisi normal.

Yang paling terasa peningkatannya adalah pengeluaran untuk jajan anak dan kebutuhan internet. Orang tua menambah gizi bagi anggota keluarga untuk menguatkan imun tubuh. Cara ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mencegah virus korona.

Erri Wahyu, 36, warga Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan mengatakan, pengeluaran rumah tangga meningkat dua kali lipat sejak pemberlakuan physical distancing. Memang, dirinya tidak lagi memberi uang saku untuk sekolah anak. Namun, di rumah anaknya dibelikan makanan ringan atau camilan agar tidak bosan. Bahkan, jumlah lebih banyak dari uang jajan sekolah.

“Jadi jajan anak justru meningkat. Mereka kan membeli makanan ringan di minimarket,” tuturnya.

Yang paling terasa menurutnya adalah biaya listrik. Sebelumnya, token Rp 500 ribu bisa dipakai 20 hari. Sekarang, token Rp 500 ribu cukup dipakai untuk 10 hari saja atau meningkat dua kali lipat.

Selain itu, untuk meningkatkan imun tubuh, keluarganya banyak membeli suplemen. Seperti Zinc dan suplemen makanan. Juga buah yang banyak mengandung vitamin C dan D, agar imun tubuh lebih kuat.

Untuk kebutuhan suplemen dan zinc saja, keluarganya sudah menghabiskan Rp 600 ribu dalam tiga minggu. Padahal, sebelumnya tidak pernah ada pengeluaran ini.

Dan ini belum termasuk vitamin yang bersumber dari buah-buahan. Untuk buah, biasanya keluarganya hanya mengonsumsi pisang. Saat ini, beragam buah tersedia di rumah demi meningkatkan daya tahan tubuh. Seperti jambu, apel, jeruk, dan buah naga.

Karena semua anggota keluarga di rumah, bahan makanan yang dimasak di rumah juga lebih banyak. Otomatis, pengeluaran untuk makan juga bertambah.

“Termasuk mainan jadi makin sering beli, karena anak di rumah terus. Dulu sebulan sekali, sekarang seminggu paling tidak dibelikan mainan agar tidak bosan,” jelasnya.

Nadira Filia, 35, warga Pogar, Kecamatan Bangil juga mengakui hal serupa. Yang paling terasa meningkat yaitu jajanan anak.

Biasanya, sehari dia memberikan dua anaknya masing-masing Rp 10 ribu. Sekarang justru Rp 20 ribu sehari untuk satu anak.

“Karena bosan dan tugas banyak kan. Jadi kalau bosan mereka jajan di sebelah rumah. Untuk nyemil biar nggak capek juga,” ujarnya.

Sedangkan Nurhidayat, warga Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan mengatakan, jajan anaknya justru naik tiga kali lipat. “Dulu sekolah dan ngaji Rp 10 ribu cukup. Sejak libur justru lebih banyak sehari bisa habis Rp 25 ribu bahkan bisa lebih,” ujarnya.

Nurhidayat yang seorang single parent, juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk guru les. Karena sibuk bekerja di luar, dia tidak bisa mendampingi anaknya menyelesaikan tugas-tugas dari sekolah, selama belajar di rumah.

Agar anaknya tetap bisa mengerjakan semua tugas, dia pun mendatangkan guru les. Namun, biaya guru les pun meningkat. Dulu, sekali pertemuan hanya Rp 5 ribu. Saat ini, per 30 menit bianya Rp 10 ribu.

Sebab, ternyata kebutuhan akan guru les meningkat selama pelajar belajar di rumah. Karena itu, biaya untuk membayar guru les pun naik.

“Kalau tugas banyak, sehari bisa Rp 40 ribu. Yang penting bisa membantu menyelesaikan tugas anak,” terangnya.

Namun tak semua orang tua ekonominya beruntung saat wabah korona ini. Untuk pekerja harian seperti sopir grab, pendapatan mereka turun.

Inilah yang dirasakan Samuel Julian, 39, warga Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Pendapatannya anjlok 90 persen setelah wabah korona ini.

“Karena banyak masyarakat yang WFH dan kampus juga libur, berimbas pada pendapatan ojek online. Rata-rata semua turun hingga 90 persen,” terangnya.

Akibatnya pendapatan kotornya yang dulu bisa Rp 200 ribu, sekarang hanya Rp 20 ribu – Rp 30 ribu per hari. Itupun hanya datang dari order food. Sehingga sehari-hari, Samuel justru ditopang istrinya yang berjualan nasi.

Diapun menghemat pengeluaran untuk semua kebutuhan selama wabah korona ini terjadi. “Jajan anak sementara tidak ada, hanya untuk kebutuhan tugas dan internet. Kebutuhan pulsa internet naik menjadi 50 persen dibanding hari biasanya,” ujarnya.

Sebab, biasanya anak saat sekolah hanya memakai HP saat akhir pekan. Mereka juga Cuma mengakses youtube di akhir pekan. Namun, saat ini bisa mengakses 1-2 jam per hari.

Belanja Makanan-Listrik Meningkat

Di Probolinggo, sejumlah warga mengaku mengalami hal serupa. Belajar di rumah dan WFH membuat pengeluaran menignkat. Salah satunya yang mengalami peningkatan tinggi adalah anggaran untuk belanja makanan rumah tangga.

Seperti diungkapkan Arini Nur Hamidah, warga kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Sabtu (4/4). Arini tidak membiasakan keluarganya makan di luar. Semua dimasak di rumah. Karena itu, biaya untuk masak meningkat.

“Jelas ada peningkatan pengeluaran selama anak-anak belajar di rumah. Kami memang tidak membiasakan untuk membeli makan di luar. Jadi mau tidak mau memasak terus,” ujarnya.

Belanja yang dilakukan oleh Arini adalah belanja online yang disediakan beberapa supermarket di Kota Probolinggo. “Di Ketapang ada supermarket yang menyediakan belanja online dengan ongkir gratis. Kalau untuk belanja bahan makanan ya ada mlijo ke sini. Karena beli di mlijo akhirnya harga lebih mahal daripada di pasar,” ujarnya.

Selain bahan makanan, pengeluaran listrik juga lebih banyak daripada sebelumnya. Hal ini karena listrik lebih banyak digunakan saat belajar di rumah.

“Biasanya kami pulang itu kan sore sekitar jam 17.00, baru listrik banyak digunakan. Kalau sekarang listrik sudah banyak digunakan sejak pagi hingga malam. Akhirnya pemakaian listrik juga bertambah,” ujarnya.

Kenaikan pemakaian listrik menurutnya, 1 kwh. Jika biasanya sehari 9 kwh, saat ini menjadi 10 kwh.

Kenaikan yang sedikit ini karena Arini juga memilih agar baju dilaundry. Hal ini berbeda ketika pembatu rumah tangganya bekerja di rumah.

“Saat pembantu rumah tangga masih aktif atau sebelum wabah, cuci baju dan setrika di rumah. Tapi sekarang dibawa ke laundry,” jelasnya.

Hal senada dirasakan Rusiani, warga Keurahan Kanigaran. Ia merasakan pengeluaran lebih meningkat untuk bahan makanan dan listrik.

Selama belajar di rumah, Rusiani memang tidak mengeluarkan uang saku. Namun, tiap hari dia harus menyediakan camilan di rumah.

“Anak-anak banyak di rumah. Supaya betah sering saya buatkan makanan ringan atau camilan. Jika biasanya camilan buatan sendiri dibuat saat Sabtu dan Minggu, sekarang buatnya hampir setiap hari,” ujarnya.

Memang camilan sederhana. Namun, toh tetap ada pengeluaran tambahan. Seperti gorengan, puding, es buah, pisang rebus atau pun kacang rebus.

“Biasanya masak seperti ini hanya Sabtu dan Minggu. Saya buatkan bakso atau gorengan. Tapi sekarang anak-anak di rumah. Jadi buat camilan hampir setiap hari,” ujarnya.

Meski demikian, dua anaknya yang masih SD kerap meminta uang jajan. Walaupun, Rusiani tidak bersedia memberikan uang saku.

“Kecuali kalau pas diajak ke pasar atau toko, anak minta es masih saya belikan. Maksimal Rp 10 ribu buat dua anak,” ujarnya.

Yang paling terasa juga menurutnya, yaitu pengeluaran listrik meningkat. “Anak-anak sering pakai buat nonton film di laptop. Kadang dari pagi sampai siang, kemudian istirahat. Dilanjut sore lagi,” ujarnya.

Warga kelurahan Kebonsari Kulon ini mengaku sebelum wabah Korona, biaya listrik bulan Februari hanya Rp 110 ribu. Namun, di bulan Maret biaya listrik jadi Rp 145 ribu.

“Lumayan naiknya. Cuma nggak tahu naiknya karena apa. Apa karena anak-anak sering nonton film atau karena ada tambahan mesin cuci,” jelasnya.

Sementara untuk biaya paket data internet, Rusiani tidak memberikan gadget kepada anak-anaknya. Ponsel hanya digunakan Rusiani dan suaminya untuk beraktifitas.

“Anak-anak nonton film di laptop atau game yang ada di laptop. Tapi saya jeda satu hari nggak boleh pakai laptop dan digunakan untuk main dakon atau monopoli,” ujarnya. (eka/put/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU