Disidang, 2 Terdakwa Begal pada Siswa SMKN Winongan Ngotot Tak Salah

BANGIL – Dua terdakwa kasus pembegalan terhadap siswa SMKN Winongan, Kabupaten Pasuruan, kembali diadili di Pengadian Negeri (PN) Bangil, Kamis (3/1). Mereka disidang dengan agenda pemeriksaan keterangan terdakwa. Dalam persidangan, kedua terdakwa tetap mengaku tidak bersalah.

Kedua terdakwa itu sama-sama warga Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Yakni, Supangkat, 43, warga Desa Sumberejo dan Sunardi, 39, Desa Sruwi. Mereka diperiksa secara bergantian dengan didampingi penasihat hukumnya, Deli Andriono.

Persidangan yang diketuai oleh Ketua Majelis Hakim Hadi Ediyarsyah itu dimulai pukul 14.00. Supangkat mendapatkan giliran pertama untuk diperiksa. Dalam kesempatan itu, Supangkat sejak awal menolak disebut sebagai pelaku dan dituding membegal korban.

“Karena saya pulang kerja dari menjaga tambang saja pukul 06.30 di daerah Banyu Biru, Winongan. Saya pulang juga bersama rekan kerja, Bambang,” ujarnya.

Majelis hakim juga mencecar terdakwa dengan sejumlah pertanyaan. Salah satunya terkait pertemuannya dengan Sunardi. Kepada majelis hakim, Supangkat sempat mengaku tidak kenal dengan Sunardi. Namun, akhirnya dia mengakui kenal dan bertemu dengan Sunardi.

Sebelumnya, dia juga mengaku pada 5 September 2018 atau pada saat kejadian sama sekali tidak bertemu dengan Sunardi. Namun, akhirnya ia mengaku bertemu Sunardi di rumahnya sekitar pukul 14.00.

Hakim juga mempertanyakan kenapa saat ditelepon kepala desanya dan dituduh sebagai pelaku begal ia langsung berkunjung ke rumah Sunardi. Sehingga, malam itu juga mereka ditangkap bersamaan. Mendapati pertanyaan itu, Supangkat tak menjawab jelas.

Selain itu, Supangkat juga mengaku mencari rumput merupakan pekerjaan satu-satunya baginya. Pernyataan itu seakan mematahkan pernyataannya sendiri yang sebelumnya menjadi penjaga tambang.

Setelah memeriksa Supangkat sekitar 1,5 jam, majelis hakim melanjutkan dengan memeriksa Sunardi. Dari sana hakim mendapatkan banyak keterangannya yang tidak sinkron dengan keterangan Supangkat. Salah satunya waktu mereka bertemu.

Supangkat mengaku bertemu di rumah Sunardi pukul 14.00, sedangkan Sunardi mengaku baru bertemu pukul 18.00. Itu, sebelum akhirnya mereka dibekuk anggota Polres Pasuruan di warung di Desa Lebak, Kecamatan Winongan.

Jalannya persidangan memakan waktu cukup panjang. Sehingga, sekitar pukul 16.00, majelis hakim menskors persidangan. Persidangan yang juga dihadiri keluarga korban dan warga Desa Toyaning, Kecamatan Rejoso, ini baru dilanjutkan usai Magrib.

Diketahui, 5 September 2018 lalu, Hirman Humaini, 17, warga Desa Toyaning, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, menjadi korban keberingasan dua orang begal. Ia dibegal saat hendak berangkat ke sekolahnya di SMKN Winongan, Kabupaten Pasuruan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hanis Aristya Hermawan juga menemukan kejanggalan dalam keterangan terdakwa, Supangkat. Salah satunya soal kepemilikan motor Supra Fit. Dalam berita acara pemeriksaan (BAP) polisi, Supangkat mengakui sepeda motor itu miliknya. Namun, dalam persidangan dia menyebut motor itu milik rekannya, Bambang.

Penasihat hukum kedua terdakwa, Deli Andriono dalam persidangan harus bisa menunjukkan minimal 2 alat bukti. Bila itu tidak ada, pihaknya berharap majelis hakim memutuskan sesuai hati nuraninya. “Dalam persidangan harus menunjukkan minimal 2 alat bukti, baik saksi, ahli, surat, sampai keterangan terdakwa. Nanti biar hakim yang memutuskan sesuai keyakinan hakim,” ujarnya. (eka/rud)