Pansus Minta Check Point Dibubarkan, Pemkot Sebut Masih Diperlukan

PURWOREJO, Radar Bromo – Keputusan Pemkot Pasuruan mengevaluasi dan menutup lima check point Covid-19 di kota setempat, ternyata dinilai belum cukup efektif. Pansus DPRD Kota Pasuruan malah minta Pemkot membubarkan lima check point yang tersisa saat ini.

Wakil Ketua Pansus Covid-19 DPRD Kota Pasuruan Ismu Hardiyanto menilai, keberadaan check point sejauh ini tak efektif. Tujuan awalnya, beberapa check point yang didirikan di wilayah perbatasan kota itu memang untuk memperketat keluar-masuknya warga. Terutama agar pengguna jalan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sehingga, bisa mengantisipasi penyebaran virus korona.

“Namun, kami melihat selama ini titik pantau yang dilaksanakan di jalan-jalan tidak efektif,” ungkap Ismu.

Karena itu, pihaknya menilai bahwa check point itu tak diperlukan lagi. Sehingga, anggaran yang semula dikucurkan untuk kebutuhan di check point bisa digunakan untuk memaksimalkan penanganan Covid-19. Mengingat, saat ini jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Pasuruan semakin meningkat.

“Akan lebih baik kalau check point itu ditiadakan. Anggarannya bisa dialihkan untuk mendukung penanganan hal lain. Misalnya, operasi kepatuhan protokol kesehatan di lokasi yang telah ditentukan dan di pasar-pasar,” beber Ismu.

Sementara itu, Pemkot Pasuruan justru memiliki pandangan berbeda. Plt Asisten Pemerintahan Kokoh Arie Hidayat menegaskan, keberadaan check point saat ini masih diperlukan. Pihaknya juga akan memaksimalkan fungsi check point itu sendiri guna menekan kasus Covid-19.

“Prinsipnya, lima check point sekarang kami maksimalkan fungsinya. Terutama menekankan pengguna jalan yang masuk agar selalu memakai masker. Kalau tidak pakai masker, kami suruh kembali,” ungkapnya.

Dia juga menggambarkan, peningkatan jumlah kasus yang terjadi di Kota Pasuruan tak lepas dari upaya semua pihak. Di samping itu, juga tersedianya fasilitas yang menunjang penekanan kasus. Salah satunya yakni keberadaan check point yang sebelumnya tersebar di 10 titik.

Memang, dalam beberapa waktu terakhir lonjakan kasus positif Covid-19 terbilang drastis. Itu, menurutnya, terjadi setelah beberapa kawasan dilonggarkan dan lima check point ditiadakan.

“Selama diperketat, lonjakan kasusnya tidak begitu tinggi. Namun, setelah dilonggarkan sekarang, lonjakan kasusnya tajam,” tambah Kokoh.

Karena alasan itu pula, ia menyebut lima check point yang ada di kota saat ini masih sangat diperlukan. Petugas yang berada di check point juga diminta untuk melakukan operasi kepatuhan pengguna jalan terhadap protokol kesehatan.

“Ini berkaitan dengan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan. Menurut kami, lima check point masih diperlukan. Tetapi, kami juga akan terus melakukan evaluasi terhadap check point itu, efektivitasnya seperti apa,” tandasnya. (tom/fun)