Reaktif usai Rapid Test, PDP Bayi asal Lekok Dibawa Lari Ortu

LEKOK, Radar Bromo – Entah apa yang ada dalam pikiran Jn dan istrinya, IW. Pasangan suami-istri di Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, ini nekat membawa lari anaknya, UH. Sang anak yang belum genap berusia dua bulan tersebut, dibawa lari dalam kondisi tangan masih diberi selang infus saat dirawat di RSUD Grati, Kabupaten Pasuruan pada Sabtu malam (30/5).

Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kabupaten Pasuruan Anang Saiful Wijaya mengungkapkan, kejadian ini bermula saat RSUD Grati kedatangan seorang pasien yang masih bayi dengan usia satu bulan 25 hari sekitar pukul 20.30. Ia datang bersama kedua orang tuanya beserta kakek dan neneknya.

Mereka mengaku jika bayi bernama UH tersebut sempat dibawa ke bidan desa. Namun, karena kondisinya lemah, mereka diminta untuk membawa UH ke rumah sakit. Dan setelah diperiksa, bayi ini sedang mengalami demam, batuk, pilek, disertai muntah. Bahkan, saat ia sedang buang air besar (BAB) yang keluar dalam bentuk cairan.

“Karena kondisinya yang lemah, dari pihak RSUD meminta agar pasien tersebut dirawat inap. Namun, kedua orang tuanya keberatan. Setelah dibujuk, mereka akhirnya mau,” ungkapnya.

Anang menjelaskan, pihak RSUD lantas melakukan tes lab pada bayi ini. Sesuai prosedur kesehatan yang berlaku, pihaknya juga sempat melakukan rapid test pada bayi ini. Hasilnya, bayi UH dinyatakan reaktif. Karenanya, pihak RSUD langsung mengambil tindakan cepat dan memasukkan pasien ini ke dalam ruang isolasi.

Ternyata, hal ini membuat orang tuanya tidak terima. “Mereka bersikeras jika anaknya tidak mungkin reaktif. Alasannya, mereka tidak pernah bepergian. Sepertinya mereka ingin anaknya itu diperiksa lalu diberi obat dan langsung pulang, bukan diopname,” jelas Anang.

Menurutnya, setelah diberikan pemahaman, mereka akhirnya bersedia anak mereka dimasukkan ke dalam ruang isolasi. Namun, kebetulan malam itu perawat yang melakukan jaga malam sebanyak empat orang dan banyak pasien yang memerlukan tindakan cepat. Sehingga, usai dilakukan penanganan pada UH, salah seorang perawat meminta pada satpam setempat agar menjaga kamar isolasi milik UH. Sebab, perawat itu hendak menangani pasien lainnya.

Tak lama kemudian, satpam ini pergi sebentar sekitar lima menit. Saat ia kembali, kamar isolasi milik UH sudah kosong. Satpam lantas menghubungi perawat dan tenaga medis lainnya dan dilakukan pencarian. Namun, UH beserta keluarganya sudah tidak ditemukan di lingkungan rumah sakit. Dimungkinkan mereka pergi dari pintu belakang di samping RSUD dan langsung pergi dengan menggunakan mobil.

“Mungkin saat satpam pergi sebentar itulah, mereka pergi. Kami sudah sempat melakukan pencarian dan berkoordinasi dengan RSUD Tongas dan RSUD dr R Soedarsono, cuma belum ketemu. Kami harap jika ada masyarakat yang melihat, bisa melapor ke gugus tugas,” sebut Anang.

Camat Lekok Fauzan menjelaskan, KTP dari kedua orang tua UH beralamatkan di Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok, namun mereka juga sempat kontrak di Desa Gejugjati, Kecamatan Lekok. Pihaknya sendiri sudah mencari mereka di dua alamat ini, namun mereka tidak ada. Bahkan, saat dilakukan pencarian ke Grati, pihaknya juga masih belum menemukan keberadaan UH beserta keluarganya.

“Perangkat desa bahkan sempat menyanggong di rumah mereka di Jatirejo dan kontrakan mereka di Gejugjati, tapi mereka tidak pulang. Pencarian terus kami lakukan dengan melibatkan muspika dan pemdes,” terang Fauzan. (riz/fun)