alexametrics
25.7 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Diperkirakan 500 Orang Warga Leces yang Masih Tertahan di Wamena

LECES, Radar Bromo – Gelombang eksodus warga pendatang dari Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, masih terus berlangsung sepekan pasca kerusuhan. Di antara pendatang tersebut, di antaranya ada yang berasal dari Kabupaten Probolinggo. Bahkan diperkirakan, jumlah mereka mencapai 500 orang.

Saat situasi Wamena kembali mencekam, ratusan warga tersebut kini diliputi rasa kekhawatiran. Sebab, penyerangan permukiman masih kerap terjadi. Sebagian dari mereka ada yang harus tinggal di tempat pengungsian, seperti Makodim, Polres hingga tempat ibadah. Mereka ada yang berkeinginan pulang, meski ada pula yang berharap situasi Wamena bisa reda. Supaya bisa kembali ke rumah, dan bekerja seperti sedia kala.

Dari jumlah ratusan warga Kabupaten Probolinggo di Wamena, sebagian besar berasal dari Desa Jorongan, Kecamatan Leces. Bahkan Pemdes Jorongan mencatat, ada sekitar seratus warga Jorongan, yang tertahan di Wamena. Hal ini menjadi perhatian serius pemdes Jorongan.

Kepala Desa Jorongan Masuni yang mengatakan bahwa masih ada sekitar 100 orang warganya yang masih tertahan di pos-pos pengungsian darurat di Wamena. Jumlah itu diperkirakan, baru dari Jorongan. Belum dari desa lain di Kecamatan Leces. Termasuk warga Kecamatan Bantaran, yang informasinya juga banyak bekerja di Wamena maupun Jayapura.

“Tadi pagi (30/9, Red) saya berkomunikasi dengan ketua paguyuban yang ada di Wamena, warga saat ini menyelamatkan diri ke Kodim, Polres dan Masjid. Warga yang ketakutan berharap bisa dipulangkan,” ujarnya saat ditemui.

ADA BANYAK: Suasana perkampungan di Desa Jorongan, Leces. Di desa ini saja, ada 100 warganya yang bekerja di Wamena. Inset, pendatang di Wamena yang hendak dipulangkan. (Foto: Istimewa)

Kondisi pengungsian pun serba terbatas. Makanan dan pakaian yang mereka gunakan seadanya. Menurut informasi yang didapat oleh Masuni dari ketua paguyuban warga Leces di Wamena, saat ini kondisi masih kondusif. Namun warga tetap waspada karena penyerangan, bisa dilakukan secara tiba-tiba. Sebab Wamena belum sepenuhnya kondusif.

“Warga Desa Jorongan disana berdagang, membuka kios sembako, dan berkerja sebagai ojek. Saat ini mereka sudah tidak memikirkan harta benda yang mereka punya, saat ini yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya bisa pulang ke kampung halaman dengan selamat,” ujarnya.

Masuni menyebutkan, memang banyak warganya yang bekerja di tanah Papua. Itu terjadi sejak 10 tahun lalu. Mereka kian banyak kesana, karena tertarik untuk mengais rezeki. Ada yang berangkat sendiri, ada pula yang diajak kerabat ataupun tetangga, yang sudah lebih dahulu ada di Wamena.

Umumnya, mereka yang sudah ada di sana, memilih tinggal dengan mengontrak atau membeli rumah. Mereka yang sukses, bisa membangun rumah meski harganya tinggi. Sementara yang masih dalam proses perbaikan ekonomi, tinggal dengan mengontrak. Tak sedikit pula, yang akhirnya mengajak keluarganya di sana.

Saat gelombang kerusuhan mulai sering terjadi, sejumlah warga ada yang ingin pulang ke kampung halaman. Tetapi, keinginan itu tidak bisa dilakukan dengan instan.

Masuni yang juga pernah bekerja di Wamena mengatakan, proses pemulangan warga jika menggunakan biaya pribadi membutuhkan biaya yang cukup besar.

Untuk itu dirinya sangat berharap agar warganya dapat dipulangkan dengan bantuan Pemkab Probolinggo. Masuni pun sudah menjalin komunikasi dengan jajaran pemerintahan Kecamatan Leces. Dengan harapan, pemerintahan dapat membantu.

Salah satu warga yang kini resah ialah Mardanto, 55. Warga Dusun Krajan 1 RT 3/RW 2, Desa Jorongan tersebut mengaku, ketiga anaknya bekerja di Wamena. Dia pun sangat berharap agar anak-anaknya dapat dipulangkan. “Penyerangan kerap terjadi. Saya khawatir. Saya berharap mereka bisa pulang dengan selamat,” ujarnya.

Mardanto mengatakan jika dia terakhir berkomunikasi Minggu (29/9) malam dengan salah satu anaknya yang bekerja disana. Saat itu sang anak mengatakan bahwa situasi sudah kondusif. Namun ketakutan masih saja dialami mengingat kejadian penyerangan pemukiman dilakukan tiba-tiba.

“Mereka disana hidup dalam ketakutan. Mau kemana-mana serba waswas. Jadi saya berharap mereka bisa pulang dengan segera,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Leces Krsitina Yuliani mengatakan bahwa permohonan pemulangan warga Leces yang bekerja di Wamena akan ditindaklanjuti secepatnya. Proses pemulangan berkoordinasi dengan Pemkab Probolinggo melalui Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo.

“Saat ini kami masih meminta paguyuban pekerja Leces yang bekerja di Wamena melakukan pendataan. Menurut informasi dari paguyuban warga di Leces di Wamena sementara ada sekitar 500 warga yang berada disana. Ini akan kami pastikan kembali, kemudian kami lanjutkan dengan membuat surat permohonan,” ujarnya. (ar/fun)

LECES, Radar Bromo – Gelombang eksodus warga pendatang dari Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, masih terus berlangsung sepekan pasca kerusuhan. Di antara pendatang tersebut, di antaranya ada yang berasal dari Kabupaten Probolinggo. Bahkan diperkirakan, jumlah mereka mencapai 500 orang.

Saat situasi Wamena kembali mencekam, ratusan warga tersebut kini diliputi rasa kekhawatiran. Sebab, penyerangan permukiman masih kerap terjadi. Sebagian dari mereka ada yang harus tinggal di tempat pengungsian, seperti Makodim, Polres hingga tempat ibadah. Mereka ada yang berkeinginan pulang, meski ada pula yang berharap situasi Wamena bisa reda. Supaya bisa kembali ke rumah, dan bekerja seperti sedia kala.

Dari jumlah ratusan warga Kabupaten Probolinggo di Wamena, sebagian besar berasal dari Desa Jorongan, Kecamatan Leces. Bahkan Pemdes Jorongan mencatat, ada sekitar seratus warga Jorongan, yang tertahan di Wamena. Hal ini menjadi perhatian serius pemdes Jorongan.

Kepala Desa Jorongan Masuni yang mengatakan bahwa masih ada sekitar 100 orang warganya yang masih tertahan di pos-pos pengungsian darurat di Wamena. Jumlah itu diperkirakan, baru dari Jorongan. Belum dari desa lain di Kecamatan Leces. Termasuk warga Kecamatan Bantaran, yang informasinya juga banyak bekerja di Wamena maupun Jayapura.

“Tadi pagi (30/9, Red) saya berkomunikasi dengan ketua paguyuban yang ada di Wamena, warga saat ini menyelamatkan diri ke Kodim, Polres dan Masjid. Warga yang ketakutan berharap bisa dipulangkan,” ujarnya saat ditemui.

ADA BANYAK: Suasana perkampungan di Desa Jorongan, Leces. Di desa ini saja, ada 100 warganya yang bekerja di Wamena. Inset, pendatang di Wamena yang hendak dipulangkan. (Foto: Istimewa)

Kondisi pengungsian pun serba terbatas. Makanan dan pakaian yang mereka gunakan seadanya. Menurut informasi yang didapat oleh Masuni dari ketua paguyuban warga Leces di Wamena, saat ini kondisi masih kondusif. Namun warga tetap waspada karena penyerangan, bisa dilakukan secara tiba-tiba. Sebab Wamena belum sepenuhnya kondusif.

“Warga Desa Jorongan disana berdagang, membuka kios sembako, dan berkerja sebagai ojek. Saat ini mereka sudah tidak memikirkan harta benda yang mereka punya, saat ini yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya bisa pulang ke kampung halaman dengan selamat,” ujarnya.

Masuni menyebutkan, memang banyak warganya yang bekerja di tanah Papua. Itu terjadi sejak 10 tahun lalu. Mereka kian banyak kesana, karena tertarik untuk mengais rezeki. Ada yang berangkat sendiri, ada pula yang diajak kerabat ataupun tetangga, yang sudah lebih dahulu ada di Wamena.

Umumnya, mereka yang sudah ada di sana, memilih tinggal dengan mengontrak atau membeli rumah. Mereka yang sukses, bisa membangun rumah meski harganya tinggi. Sementara yang masih dalam proses perbaikan ekonomi, tinggal dengan mengontrak. Tak sedikit pula, yang akhirnya mengajak keluarganya di sana.

Saat gelombang kerusuhan mulai sering terjadi, sejumlah warga ada yang ingin pulang ke kampung halaman. Tetapi, keinginan itu tidak bisa dilakukan dengan instan.

Masuni yang juga pernah bekerja di Wamena mengatakan, proses pemulangan warga jika menggunakan biaya pribadi membutuhkan biaya yang cukup besar.

Untuk itu dirinya sangat berharap agar warganya dapat dipulangkan dengan bantuan Pemkab Probolinggo. Masuni pun sudah menjalin komunikasi dengan jajaran pemerintahan Kecamatan Leces. Dengan harapan, pemerintahan dapat membantu.

Salah satu warga yang kini resah ialah Mardanto, 55. Warga Dusun Krajan 1 RT 3/RW 2, Desa Jorongan tersebut mengaku, ketiga anaknya bekerja di Wamena. Dia pun sangat berharap agar anak-anaknya dapat dipulangkan. “Penyerangan kerap terjadi. Saya khawatir. Saya berharap mereka bisa pulang dengan selamat,” ujarnya.

Mardanto mengatakan jika dia terakhir berkomunikasi Minggu (29/9) malam dengan salah satu anaknya yang bekerja disana. Saat itu sang anak mengatakan bahwa situasi sudah kondusif. Namun ketakutan masih saja dialami mengingat kejadian penyerangan pemukiman dilakukan tiba-tiba.

“Mereka disana hidup dalam ketakutan. Mau kemana-mana serba waswas. Jadi saya berharap mereka bisa pulang dengan segera,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Leces Krsitina Yuliani mengatakan bahwa permohonan pemulangan warga Leces yang bekerja di Wamena akan ditindaklanjuti secepatnya. Proses pemulangan berkoordinasi dengan Pemkab Probolinggo melalui Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo.

“Saat ini kami masih meminta paguyuban pekerja Leces yang bekerja di Wamena melakukan pendataan. Menurut informasi dari paguyuban warga di Leces di Wamena sementara ada sekitar 500 warga yang berada disana. Ini akan kami pastikan kembali, kemudian kami lanjutkan dengan membuat surat permohonan,” ujarnya. (ar/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/