Ternyata Perempuan Paling Mendominasi Gugat Cerai di Pasuruan

BANGIL – Sampai pertengahan tahun 2018 ini, jumlah pengajuan cerai yang masuk di Pengadilan Agama (PA) Bangil dan Pasuruan masih didominasi gugatan cerai pihak perempuan. Faktor ketidakharmonisan dan ekonomi termasuk gangguan pihak ketiga masih mendominasi alasan perceraian di Pasuruan.

Chafidz Syadiuddin, panitera PA Pasuruan mengatakan, jauh berbeda dengan belasan tahun lalu. Dahulu, pengajuan cerai memang didominasi oleh pihak lelaki. “Tapi dengan kesetaraan gender dan kesadaran hukum serta pihak yang merasa dirugikan memiliki kesadaran hukum, akhirnya membuat cukup banyak pihak perempuan yang melakukan gugatan cerai,” jelasnya.

Sehingga, sudah menjadi tren dalam belasan tahun terakhir ini, pengajuan cerai didominasi gugatan istri. Di PA Pasuruan yang meliputi 4 wilayah Kota Pasuruan dan 13 kecamatan di Kabupaten Pasuruan, terlihat dalam 3 tahun terakhir ini, dominasi gugatan cerai memang mendominasi pengajuan cerai.

Dari data tersebut, alasan perselisihan terus-menurus menjadi faktor terbesar pengajuan cerai. Ketidakharmonisan ini membuat pernikahan berujung gugatan cerai. Selain itu, juga faktor ekonomi dan ditinggalkan oleh pasangannya.

Di PA Bangil,pengajuan gugatan cerai juga tidak berbeda. Perempuan juga mendominasi pengajuan gugatan cerai selama kurun waktu beberapa tahun.

Hal itu diungkapkan Hadiyatullah, wakil panitera Pengadilan Agama (PA) Bangil. Menurut dia, banyak faktor yang melatarbelakangi. Biasanya karena menganggap suami tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan istri seperti ekonomi.

“Faktor tertinggi karena sudah tidak ada keharmonisan lagi, yang kedua karena faktor ekonomi, dan ketiga adalah karena adanya pihak ke tiga,” jelasnya.

Dalam faktor pihak ke tiga, lanjut Hadiyatullah, cukup meningkat dikarenakan kecanggihan teknologi. Kemudahan dalam chatting ataupun bersosial media banyak menjadi faktor pasangan berselingkuh dan berakibat pada perceraian.

Dalam semester pertama di tahun 2018 ini, cukup meningkat jumlah pengajuan cerai dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika pada semester pertama tahun 2017 terdata mencapai 957 pengajuan cerai, di pertengahan tahun 2018 meningkat menjadi 999 pengajuan.

PA Bangil sendiri melakukan upaya agar perceraian di masyarakat bisa ditekan. Salah satunya adalah dengan melakukan mediasi terlebih dahulu agar bisa rujuk kembali. “Biasanya dilakukan 1 bulan setelah sidang pertama dan jika keduanya hadir pada sidang pertama. Harapannya bisa rujuk kembali sehingga menekan angka perceraian,” pungkasnya. (eka/fun)