Perlu Waktu 4 Jam untuk Jemput Pasien Positif di Kotaanyar

KOTAANYAR, Radar Bromo – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo menjemput tiga warga Kecamatan Kotaanyar yang terkonfirmasi positif korona. Proses penjemputan 3 pasien yang masih memiliki hubungan keluarga tersebut, diwarnai perundingan yang alot. Setelah 4 jam, pasien positif tersebut baru bisa dievakuasi.

Penjemputan itu dilakukan Jumat (31/7) sekitar pukul 14.00. Petugas baik dari Gugus Tugas dan TNI-Polri, berkumpul di kantor kecamatan. Setelah itu mereka langsung ke rumah warga yang dinyatakan positif pada Rabu (29/7).

Proses tersebut tidak mudah. Keluarga pasien positif sempat keberatan, sehingga kemudian dilakukan mediasi yang cukup alot. Baru setelah dua jam, keluarga menerima bahwa pasien positif yang masih satu keluarga itu harus dikarantina.

Ugas Irwanto, koordinator Pengamanan dan Penegakan Hukum Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo mengatakan, pihaknya harus memberikan pengertian kepada keluarga, sehingga mereka menerima untuk dibawa ke tempat karantina.

“Alot komunikasinya. Keluarga keberatan untuk dievakuasi, sehingga perlu memberikan pengertian kepada mereka,” jelasnya.

Meskipun telah mau, dua orang suspect sempat kabur. Dua orang itu kabur ke sawah. Namun, karena upaya pencegahan, petugas rela untuk menunggu. “Kami menunggu. Karena kalau dibiarkan bisa menularkan kepada yang lain,” katanya.

Upaya itu tidak sia-sia. Saat azan Magrib berbunyi, keduanya kembali pulang. Akhirnya, mereka dibawa ke rumah pengawasan karena masuk kategori Orang Tanpa Gejala (OTG).

“Alhamdulillah bersedia. Kemudian kami bawa ke rumah pengawasan. Tetapi, mereka tidak mau dengan ambulans akhirnya dibawa dengan mobil camat,” terangnya.

Ia juga menjelaskan, satgas kecamatan dua kali melakukan negosiasi kepada keluarga yang bersangkutan. Selama itu, selalu ada perlawanan. Terakhir malah minta uang Rp 50 juta dengan alasan untuk ganti rugi karena jika satu rumah diisolasi, tidak ada yang mengurus tembakau dan sapinya.

“Dua kali satgas turun, warga sekitar tidak mendukung isolasi malah menyudutkan satgas. Setelah itu, baru camat menghubungi Gugus Tugas Kabupaten Probolinggo untuk melakukan penjemputan paksa,” tandasnya. (sid/fun)