Memiliki hobi panjat tebing membuat Wicaksono, 48, terketuk untuk menjadi salah satu relawan vertical rescue. Hingga kini dirinya dikenal sebagai salah satu relawan vertical rescue paling senior di Kabupaten Probolinggo.
ACHMAD ARIANTO, Kraksaan, Radar Bromo
SOSOK Wicaksono atau lebih populer dipanggil dengan panggilan Bang Jack ini sudah tidak asing bagi para pecinta alam. Pria asal Dusun Slamet, Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan ini kerap turun mengikuti kegiatan pecinta alam.
Mulai dari mendaki gunung, hiking, dan trekking. Serta olahraga lainnya seperti panjat tebing dan canyoning.
Wicaksono mengisahkan, dia mulai mencintai kegiatan pecinta alam sejak tahun 2000. Persis saat dia mulai masuk kuliah jenjang sarjana.
Bersama teman-teman kampusnya, Wicaksono rutin melakukan kegiatan di alam mulai dari mendaki hingga panjat tebing.
Dari situlah dirinya mulai hobi melakukan aktivitas tersebut. Bahkan dia mempelajari olah raga panjat tebing secara mendalam mulai dari peralatan yang dibutuhkan hingga teknik yang digunakan.
“Sejak kuliah sudah menyukai kegiatan pecinta alam. Tapi lebih serius pada panjat tebingnya,” katanya saat ditemui.
Katanya, panjat tebing ini tidak bisa dilakukan oleh orang sembarangan. Hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu saja yang memiliki mental kuat dan tidak phobia ketinggian.
Dua syarat tersebut wajib terpenuhi. Selanjutnya untuk mengasah kemampuan panjat tebing dan keterampilan penggunaan alat yang membutuhkan latihan rutin. Supaya keterampilannya makin terasah.
Wicaksono mengaku, setiap liburan semester dia dan temannya selalu mengagendakan kegiatan panjat tebing.
Kegiatan tersebut biasa dilakukan pada tebing air terjun Kalipedati, Desa Kalianan, Kecamatan Krucil dan tebing air terjun Jaran Goyang Desa Guyangan, Kecamatan Krucil.
“Kalau latihan biasanya di Krucil. Ini perlu dilakukan untuk mengasah kemampuan dan keterampilan. Jika tidak dilatih akan mudah lupa,” ucapnya.
Setelah bertahun-tahun menggeluti kegiatan panjat tebing, sekitar tahun 2018 Wicaksono kemudian terketuk untuk menjadi relawan vertical rescue. Sebab kondisi geografis Kabupaten Probolinggo memiliki beberapa gunung dan tebing.
Sehingga potensi kecelakaan atau insiden yang membuat korban jatuh pada medan sulit terbuka lebar.
Sementara relawan vertical rescue masih cukup terbatas. Sehingga jika ada korban, masih menunggu datangnya tim SAR yang lokasinya di luar Kabupaten Probolinggo.
Vertical rescue merupakan upaya evakuasi, menyelamatkan, atau menangani korban yang berada di medan ekstrem atau terjal. Seperti jurang atau tebing yang sulit untuk dijangkau dengan alat sederhana.
Harus dilakukan oleh orang yang sudah ahli menggunakan alat khusus serta teknik tertentu untuk mengevakuasi korban. Tak heran jika vertical rescue ini biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian dan keterampilan panjat tebing.
“Terketuk untuk jadi relawan vertical rescue karena memang saat ini jumlahnya masih sedikit. Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari. Dapat dikatakan saya yang paling senior,” bebernya.
Menurutnya, menjadi relawan vertical rescue adalah misi kemanusiaan yang tak ternilai harganya. Keselamatan korban tidak bisa ditunggu terlebih lagi ketika berada pada medan ekstrem sehingga perlu ada kecepatan dan ketepatan dalam proses evakuasi.
Sementara potensi terselamatkannya nyawa dapat terhambat karena minim petugas yang ahli.
Pria berambut gondrong ini menjelaskan panjat tebing dengan vertical rescue berbeda. sebelum terjun ke vertical rescue harus memiliki keahlian panjat tebing.
Sebab vertical rescue ini merupakan upaya penyelamatan korban. Tentu memerlukan keahlian yang cukup serta peralatan evakuasi yang komplit. Jangan sampai niatnya mengevakuasi korban dari medan ekstrem, justru relawan yang ikut jadi korban.
“Vertical rescue teknik penyelamatan SAR khusus untuk mengevakuasi korban di medan terjal, tebing, bangunan tinggi, atau ruang terbatas menggunakan sistem tali dan peralatan khusus. Metode ini melibatkan teknik menaikkan atau menurunkan korban ke tempat aman, memerlukan keterampilan tinggi, serta fisik dan psikis yang kuat,” terangnya.
Pria yang saat ini menjabat Ketua Umum FPTI Pengcab Probolinggo sekaligus ketua Vertical Rescue Indonesia Regional Probolinggo ini menuturkan, sejauh ini masih belum ada insiden yang membutuhkan kemampuan vertical rescue.
Sebab beberapa insiden bisa dilakukan dengan evakuasi sesuai standar tidak membutuhkan alat maupun teknik khusus.
Wicaksono menuturkan bahwa dia kerap diminta menjadi narasumber dalam kegiatan vertical rescue. Baik di sekolah, perusahaan swasta maupun kantor dinas. Kemampuan yang dimiliki ia tularkan sebagai bekal jika terjadi hal-hal yang tidak diduga yang mengancam keselamatan atau nyawa.
“Beberapa kali saya itu dalam pencarian korban di gunung dan perairan. Untuk tempat ekstrem masih belum, sebab korban dan lokasinya masih bisa dievakuasi sederhana,” tandasnya. (fun)
Editor : Abdul Wahid