Penggunaan kostum saat karnaval membuat acara lebih meriah. Tentu hal ini tidak terlepas dari sosok pembuat kostum karnaval. Salah satunya, Baimin, 39, yang sudah belasan tahun membuat kostum karnaval.
ACHMAD ARIANTO, Maron, Radar Bromo
Deretan kostum karnaval berjejer rapi. Sebagian dikenakan pada manekin, lainnya tersimpan di balik lemari kaca. Sehingga bisa dilihat oleh setiap orang yang datang.
Ruangan itu menyerupai galeri kecil namun penuh cerita. Di sanalah Baimin, 39, merawat karya-karya yang lahir dari ketekunan dan kecintaannya pada dunia karnaval. Warga Dusun Krajan, Desa Maron Kulon, Kecamatan Maron, ini begitu telaten menata kostum tersebut.
Baimin atau akrab disapa Baim, bukan nama asing bagi para pegiat karnaval, khususnya di Probolinggo dan sekitarnya. Tangan kreatifnya telah melahirkan puluhan kostum yang kerap menghiasi parade budaya dan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Dari ruang sederhana itulah, karya-karya yang memadukan sentuhan adat dan kreasi masa kini bermula.
“Semua kostum di sini saya buat sendiri sejak belasan tahun lalu. Jumlah pastinya saya tidak pernah hitung, mungkin sekitar 90-an. Untuk berbagai usia ada,” tutur Baim.
Perjalanan Baim menekuni dunia kostum dimulai pada 2012. Kala itu, ia bergabung dengan sebuah komunitas busana di Kota Probolinggo yang kerap mengikuti kontes.
Dari lingkungan tersebut, ia belajar dasar-dasar desain busana, mengolah detail, dan memadukan berbagai elemen agar kostum tampak selaras. Pengetahuan itu menjadi bekal penting sebelum akhirnya ia melangkah lebih jauh.
Hingga tiga tahun berselang atau pada 2015, Baim memutuskan untuk belajar kreasi kostum secara otodidak. Kegemarannya menonton karnaval menumbuhkan keinginan untuk mencipta kostum karnaval, bukan sekadar mengagumi.
Tahun 2015, menjadi titik awal ia membuat kostum karnaval secara mandiri. Tanpa target bisnis, tanpa hitung-hitungan keuntungan.
“Awalnya saya membuat murni karena hobi. Tidak pernah terpikir untuk disewakan atau dijual,” ujarnya singkat.
Inspirasi Baim datang dari banyak hal, terutama dari kostum-kostum yang pernah tampil di karnaval. Namun ia tidak sekadar meniru. Setiap karya dimodifikasi sesuai versinya sendiri. Dengan ciri khas memadukan unsur tradisi dan sentuhan modern.
Kain dan kaus menjadi dasar. Sementara spons, foam, mika, lem bakar, dan berbagai pernak-pernik lain melengkapi bentuk. Hasilnya, kostum tampil mencolok, tetapi tetap nyaman dipandang.
Bagi Baim, proses mencipta bukan beban. Satu set kostum bisa dikerjakan dalam waktu satu minggu hingga satu bulan, tergantung tingkat kerumitan dan ketersediaan bahan. Rata-rata, dua minggu sudah cukup untuk menyelesaikan satu karya.
Saat tidak ada pesanan, Baim tetap berkarya. Setiap dua bulan sekali, ia hampir selalu membuat kostum baru di sela waktu santainya.
Konsistensinya itu membuat koleksinya terus bertambah dan makin beragam. Hingga akhirnya, banyak orang datang untuk menyewa atau memesan kostum.
Memasuki bulan Agustus, galeri kecil itu berubah menjadi ruang sibuk. Permintaan melonjak, dan Baim kerap kewalahan. Ia pun menyarankan pelanggan datang langsung agar bisa memilih dan mencoba kostum yang paling sesuai.
“Biasanya mulai ramai sejak Mei, puncaknya Agustus. Pernah benar-benar kewalahan,” katanya.
Pesanan bahkan datang dari luar daerah, hingga Jawa Barat. Meski sebagian karyanya pernah mendapat apresiasi sebagai kostum terbaik, Baim menegaskan bahwa kostum-kostum itu dibuat bukan semata untuk kontes.
Di balik gemerlap karnaval, ada ketekunan seorang perajin yang bekerja dalam diam. Dari ruang sederhana di Maron, Baimin terus merawat hobi yang telah menjelma menjadi jalan hidup—menghidupkan perayaan, satu kostum demi satu kostum. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi