Tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil bawang merah dan mangga. Probolinggo juga dikenal dengan angin gendingnya. Ia selalu diceritakan sebagai angin yang keras dan penanda perubahan musim. Namun kini angin gending bukan sekadar angin yang lewat. Ia ditangkap, diolah, dan dikonversi menjadi energi.
AGUS FAIZ MUSLEH, KRAKSAAN, Radar Bromo
Di tengah bentangan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi, berdiri sebuah instalasi yang mencuri perhatian. Bentuknya menyerupai seni instalasi yang mirip dengan pohon logam.
Bagian atas pohon itu dikelilingi daun-daun hijau yang berputar mengikuti arah angin, menangkap dan menghempaskanya kembali.
Inilah hybrid wind tree. Sebuah pembangkit listrik berbasis energi terbarukan yang kini menjadi simbol energi hijau yang dikembangkan PT Jasa Marga Probolinggo-Banyuwangi.
Bagi Jasa Marga, ini bukan sekadar proyek teknologi. Namun juga pernyataan sikap bahwa pembangunan infrastruktur besar bisa berjalan seiring dengan kepedulian pada lingkungan.
Direktur Utama PT Jasa Marga Probolinggo-Banyuwangi Adi Prastyanto menyebut, hybrid wind tree sebagai bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung efisiensi energi. Sekaligus pemanfaatan sumber daya alam yang ramah lingkungan.
“Hybrid wind tree ini memanfaatkan potensi angin gending yang selama ini dikenal cukup kuat dan stabil. Kami kombinasikan dengan tenaga surya agar lebih optimal,” ujar Adi.
Hybrid wind tree bekerja dengan mengawinkan dua sumber energi alam: angin dan matahari. Angin Gending ditangkap melalui sistem aero lift dan bilah-bilah wind tree, sementara cahaya matahari diserap oleh panel surya. Dari perpaduan itu, dihasilkan listrik yang mengalir pelan namun pasti.
Total daya yang mampu dihasilkan dari instalasi hybrid wind tree ini mencapai 12.400 watt.
Energi tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di kawasan fasilitas tol (fastro) dan kantor operasional Jasa Marga Probowangi, tepatnya di gerbang tol Kraksaan.
“Kalau kapasitas maksimalnya 12.400 watt. Tapi untuk kebutuhan di kawasan sendiri, saat ini pemakaiannya baru sekitar 60 persen. Jadi masih sangat mencukupi,” jelas Adi.
Dengan teknologi ini, Jasa Marga menargetkan efisiensi penggunaan listrik dari PLN hingga sekitar 10 persen. Meski demikian, Adi menegaskan bahwa saat ini pemanfaatan hybrid wind tree masih dalam tahap evaluasi.
“Pemanfaatannya masih untuk kawasan sendiri. Kami evaluasi dulu dampaknya, efisiensinya seperti apa. Harapannya memang bisa menghemat sekitar 10 persen dari listrik PLN,” katanya.
Pemilihan lokasi di kawasan Kraksaan bukan tanpa alasan. Fenomena angin gending sudah lama dikenal masyarakat setempat.
Angin ini memiliki karakter embusan yang relatif konsisten, sehingga ideal dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.
“Di Probolinggo, fenomena anginnya memang cukup kuat. Itu yang kami manfaatkan supaya angin ini tidak hanya lewat, tapi juga menghasilkan listrik,” tutur Adi.
Hybrid wind tree yang dipasang di ruas Tol Probolinggo-Banyuwangi ini tercatat sebagai yang pertama di Indonesia. Baik di lingkungan Jasa Marga maupun di sektor jalan tol secara umum.
Inovasi ini bahkan mengantarkan Jasa Marga Probolinggo-Banyuwangi memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).
“Ini yang pertama di Indonesia. Baik di jalan tol maupun di kawasan lainnya. Kami baru pasang satu titik dulu sebagai prototype,” ungkap Adi.
Sebagai proyek percontohan, hybrid wind tree ini memang belum dipasang secara masif. Namun peluang pengembangan terbuka lebar.
“Kalau nanti dari hasil evaluasi menunjukkan manfaat yang optimal, ada potensi untuk dipasang di titik-titik lain di jalan tol Jasa Marga,” imbuhnya.
Di balik berdirinya Hybrid wind tree, ada kolaborasi lintas negara. Untuk teknologi utama, Jasa Marga bekerja sama dengan vendor dari luar negeri. Sementara itu, PT Adhikarya dipercaya sebagai kontraktor pemasangan dan konstruksi.
Nilai investasi untuk satu unit hybrid wind tree ini berkisar antara Rp 5 miliar–Rp 6 miliar. Angka yang tidak kecil, namun dinilai sepadan dengan manfaat jangka panjang yang diharapkan.
“Karena ini, teknologi baru dan kami datangkan dari luar negeri, biaya konstruksinya memang sekitar itu. Tapi ini investasi jangka panjang, bukan hanya untuk hari ini,” kata Adi.
Hybrid wind tree dirancang untuk digunakan selama masa operasional jalan tol Probolinggo-Banyuwangi. Kontraktor memberikan masa pemeliharaan dan garansi selama lima tahun. Setelah itu, perawatan akan dilanjutkan oleh pengelola tol.
“Lifetime-nya mengikuti masa operasional tol. Jadi selama jalan tol ini beroperasi, pembangkit ini akan terus dipelihara,” jelasnya.
Dari sisi teknologi, hybrid wind tree memang memiliki kemiripan dengan pembangkit listrik tenaga surya. Namun penggabungan dengan tenaga angin membuatnya lebih adaptif terhadap kondisi alam.
“Kalau tenaga surya hanya mengandalkan matahari. Di sini kami kombinasikan dengan angin. Jadi saat matahari kurang optimal, angin gending tetap bisa bekerja,” terang Adi.
Saat ini, listrik dari Hybrid wind tree masih digunakan untuk kebutuhan internal kawasan. Mulai dari penerangan kantor, operasional, hingga fasilitas pendukung di area tol. Namun Jasa Marga membuka kemungkinan pemanfaatannya diperluas.
“Kalau nanti dari evaluasi terbukti efisien, ke depan bisa saja digunakan untuk kebutuhan di main road atau titik lain di ruas tol,” ujarnya.
Langkah ini menjadi penting di tengah meningkatnya kesadaran akan krisis energi dan tuntutan pengurangan emisi karbon. Jalan tol, yang selama ini identik dengan konsumsi energi besar, kini mulai diarahkan menjadi ruang inovasi energi hijau.
Hybrid wind tree menjadi simbol perubahan itu. Sebuah pohon buatan yang tumbuh di tengah aspal, menyerap angin dan matahari, lalu mengubahnya menjadi cahaya.
Angin Gending kini tak lagi sekadar fenomena alam. Ia telah menjadi bagian dari sistem penghasil listrik. Menjadi penanda bahwa pembangunan dan kelestarian alam bisa berjalan beriringan.
Di ruas Tol Probolinggo-Banyuwangi, Hybrid wind tree berdiri tegak. Menangkap angin, memproduksi energi. Menyuarakan harapan tentang masa depan infrastruktur yang lebih hijau dan berkelanjutan. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi