Kebijakan Pemkot Probolinggo menghentikan sementara aktivitas usaha Mie Gacoan Probolingggo, memunculkan pro-kontra. Ada peraturan perizinan yang harus ditegakkan. Di sisi lain, tidak sedikit yang terdampak dengan penutupan sementara Resto Mie Gacoan.
ARIF MASHUDI, Kanigaran - Radar Bromo
KERUCUT lalu lintas yang dulu berjajar rapi di bahu Jalan Suroyo Kota Probolinggo, kini tak lagi terlihat. Tidak ada hiruk-pikuk pengunjung yang mengantre.
Juga tidak ada pelaku ojek online (ojol) yang biasa parkir dan standby di tepi jalan untuk menunggu orderan selesai dibuat.
Tak ada juga suara order dipanggil. Tak ada sajian yang keluar dari dapur dengan aroma pedas khas Mie Gacoan.
Hanya gemerisik pelan dari para pekerja bangunan yang tengah merehab bagian belakang resto untuk dijadikan lahan parkir baru. Selebihnya, sunyi.
Penutupan sementara Mie Gacoan oleh Pemkot Probolinggo bukan sekadar kisah tentang aturan yang ditegakkan. Ia adalah potret kecil dari dampak yang bergulir luas, menghantam banyak sisi kehidupan.
Bagi sebagian pihak, ini mungkin hanya soal perizinan teknis yang belum rampung. Tapi bagi mereka yang menggantungkan hidup dari geliat tempat itu, ini adalah jeda kehidupan yang berat.
Seorang perempuan muda berhijab, salah satu karyawan resto yang enggan disebut namanya, menatap kosong ke arah bangunan tempat ia biasa bekerja. Ia dan rekan-tekannya diminta istirahat dulu sementara waktu. Sambil menunggu informasi lebih lanjut, kapan resto kembali dibuka.
”Kami menunggu kabar dari manajemen yang juga menunggu evaluasi dari Pemkot Probolinggo. Apakah penutupan sementara ini akan benar-benar dilakukan selama sebulan atau tidak,” katanya.
Baginya, yang bukan tulang punggung keluarga, kehilangan pekerjaan meski untuk sementara bukan perkara ringan. Rasanya sebagian tempat bergantung hidup berhenti berputar.
"Apalagi untuk teman-teman laki-laki yang jadi tulang punggung keluarga. Tidak bekerja berarti tidak ada penghasilan. Sementara kebutuhan hidup tidak bisa ikut berhenti," tuturnya lirih.
Harapannya sederhana: agar Resto Mie Gacoan bisa kembali buka. "Ada ratusan karyawan terdampak. Belum lagi tukang parkir, ojek online, dan para pemasok bahan," ungkapnya sambil menatap bangunan resto yang kini tak berpenghuni.
Di sisi lain, roda kehidupan ojek online pun turut terguncang. Samsul, 42, salah satu pelaku ojol mengaku, dia dan rekan-rekannya yang seprofesi kebanyakan dapat order makanan dan minuman dari Resto Mie Gacoan.
Bahkan, dibanding resto-resto lainnya, pesanan dari Mie Gacoan paling banyak. Ditutupnya resto Mie Gacoan membuat orderan makanan dan minuman yang biasa mereka terima tiap hari jadi menurun drastis.
”Penutupan ini terasa sekali efeknya. Semoga saja, nanti ada orderan gantinya. Jadi orderan tetap ramai, baik ojek online ataupun gofood,” kata ojol asal Kota Problinggo itu.
Junaedi, salah satu ojol senior di Probolinggo mengatakan hal serupa. Menurutnya, penutupan Resto Mie Gacoan berdampak luar biasa pada pelaku ojol.
Terutama ojol yang khusus mengantar jasa makanan dan minuman. Apalagi, orderan dari Resto Mie Gacoan selama ini paling ramai dibanding yang lain.
”Kami (ojol) kehilangan ratusan orderan per hari. Bisa dicek di Resto Mie Gacoan, berapa per hari orderan untuk antar makanan. Banyak ojol yang menggantungkan hidupnya dari jasa antar makanan. Ini saja seharian baru dapat satu orderan,” katanya.
Bayangkan saja, satu ojol minimal dapat 10 orderan. Bila dikalikan 30 ojol yang biasa mangkal di sana, berarti ada 300 orderan. Jika dalam sehari, tidak sampai dapat 10 orderan, maka ojol dinilai tidak dapat orderan atau tidak punya penghasilan dari jasa antar makanan.
Junaedi menerangkan, ada ojol yang spesialis antar makanan, tidak mengambil orderan penumpang. Sehingga, saat Mie Gacoan ditutup sementara, efeknya sangat besar.
Kondisi ini bukan hanya menekan pendapatan mereka. Tapi juga memaksa para ojol untuk mengambil jenis layanan lain yang sebenarnya bukan spesiaisasinya.
“Yang biasa antar makanan, sekarang terpaksa ambil order penumpang. Akhirnya mengganggu ojol yang spesialis penumpang juga. Efeknya jadi berantai,” ujarnya.
Junaedi pun berharap ada empati dari pemerintah. Ia dan rekan-rekannya mengusulkan agar pegawai pemkot, setidaknya sekali seminggu, menggunakan layanan ojol untuk berangkat dan pulang kerja. “Itu akan sangat membantu,” tambahnya.
Di tengah dinamika ini, pemerintah tetap pada sikapnya. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Probolinggo Muhammad Abas menegaskan, penghentian aktivitas Mie Gacoan bersifat sementara. Dengan batas maksimal 30 hari.
"Jika dalam waktu itu PT. Pesta Pora Abadi bisa memenuhi dan melengkapi seluruh syarat izin teknis, maka penghentian akan dicabut dan aktivitas usaha bisa kembali berjalan," terangnya.
Maka, semua kini berada dalam fase menunggu. Menunggu keputusan, menunggu lampu hijau dari pemerintah, menunggu roda ekonomi kembali bergerak.
Jalan Suroyo pun terus terdiam, menyimpan sunyi yang mendalam di balik dinding-dinding resto yang untuk sementara berhenti berdenyut. Semoga, tak lama lagi suara ramai dan aroma pedas itu kembali mengisi udara. Menjadi tanda bahwa harapan belum padam. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi