Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cara SDN Randusari Grati Tingkatkan Minat Literasi pada Siswa, Kenalkan Dongeng hingga Tularkan Kebiasaan Membaca dan Bercerita

Fahrizal Firmani • Rabu, 11 Desember 2024 | 03:15 WIB
Para guru di SDN Randusari saat mendongeng Si Randu.
Para guru di SDN Randusari saat mendongeng Si Randu.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serbacepat ini, ada banyak cara untuk menumbuhkan minat literasi pada anak-anak. Seperti yang dilakukan UPT SDN Randusari, Gadingrejo, Kota Pasuruan. Dengan penuh kreativitas, sekolah ini mengenalkan aktivitas mendongeng sebagai sarana untuk membangkitkan rasa cinta anak-anak terhadap cerita dan literasi.

 

FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo

PADA pagi yang cerah di Rabu 4 Desember, suasana di halaman SDN Randusari tampak berbeda. Sejumlah siswa duduk bersila, penuh perhatian, menunggu cerita yang akan dibawakan.

Di depan mereka, berdiri sebuah rumah boneka dengan bentuk kotak persegi panjang, tempat di mana tokoh-tokoh imajinasi bersemayam. Tiba-tiba, dari balik rumah boneka itu muncul dua boneka tangan, Rara dan Dudu.

Dua tokoh ini segera mengundang tawa dan perhatian anak-anak. Dengan antusias, para siswa mendengarkan percakapan lucu antara kedua tokoh boneka itu.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Rabu Literasi (Grasi) yang digelar di SDN Randusari.

Setiap Rabu pekan kedua dan keempat, siswa diajak untuk mendengarkan dongeng serta bergantian mendongeng, menggunakan rumah boneka keluarga Si Randu.

Kegiatan mendongeng ini sudah berjalan selama tiga bulan, dimulai sejak September.

Setiap pekannya, cerita yang disampaikan berbeda-beda. Ada cerita tentang perkenalan keluarga Si Randu dan sahabat-sahabat mereka.

Ada pula cerita tentang kepedulian sosial dan nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil sebagai teladan.

"Cerita-ceritanya bermacam-macam, ada yang tentang keluarga Si Randu, sahabat-sahabat mereka, hingga kisah kepedulian terhadap sesama," jelas Kurnia Assdin Maharani, salah satu penggiat Grasi.

Rani–panggilannya–menjelaskan, sesi mendongeng ini berlangsung selama dua jam, dimulai pukul 07.00 hingga 09.00. Dalam waktu tersebut, mereka membawakan berbagai cerita dari kehidupan "Keluarga Si Randu."

Cerita itu tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai pendidikan yang relevan dengan materi di sekolah.

Siswa-siswa yang mendengarkan dongeng diminta untuk merangkum dan menceritakan kembali cerita yang baru saja mereka dengar.

Setiap anak dipersilakan maju, dengan penuh percaya diri, untuk memerankan kembali tokoh yang ada dalam cerita. Tentu saja, dengan bantuan boneka yang sudah dikenalkan sebelumnya.

"Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkenalkan literasi kepada siswa sejak dini. Mereka diajak untuk senang membaca dan menulis, dan yang terpenting, bisa menceritakan cerita itu kembali kepada teman-temannya," ujar Rani.

Di balik cerita-cerita menarik itu, terdapat empat tokoh utama dalam keluarga Si Randu.

Rara, sang anak pertama yang ceria dan penuh semangat, diperankan oleh Kurnia sendiri. Dudu, anak kedua yang pemberani, diperankan oleh Panji Kusuma.

Sejumlah siswa asyik mendengarkan dongeng Keluarga si Randu.
Sejumlah siswa asyik mendengarkan dongeng Keluarga si Randu.

Sasa, anak ketiga yang bijaksana dan lemah lembut, diperankan oleh Dewi. Dan Riri, anak bungsu yang manja namun mudah bergaul, diperankan oleh Nurul M, Plt kepala SDN Randusari.

Tak hanya itu, ada pula tokoh-tokoh pendamping lainnya yang memperkaya cerita, seperti Akung Kris, sang kakek bijak; Nini Cici, sang nenek; serta tokoh-tokoh multi-etnis, seperti Koko Aris dan Cici Iis, yang memperkenalkan keragaman budaya dan etnis kepada para siswa.

Melalui kehadiran tokoh-tokoh seperti Koko Aris dan Cici Iis, yang berasal dari etnis Tionghoa, cerita-cerita keluarga Si Randu tidak hanya menanamkan nilai-nilai persatuan.

Namun, juga mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menghargai perbedaan suku, agama, dan budaya.

Tokoh-tokoh lain, seperti Ustad Sobiri dan Bu Lina, yang hadir dalam cerita sebagai figur panutan, semakin memperkaya keberagaman cerita yang dihadirkan.

Di luar kegiatan mendongeng itu sendiri, ada pula aktivitas menarik lainnya. Setiap siswa yang terlibat dalam mendongeng diminta untuk menuliskan rangkuman cerita yang mereka dengar, yang kemudian dipajang di mading kelas.

"Tujuannya agar siswa merasa bangga dengan karyanya, dan teman-teman yang lain dapat membaca dan mengapresiasi karya mereka. Ini merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan semangat literasi di kalangan siswa," ungkap Plt Kepala SDN Randusari Nurul M.

Salah satu cerita yang menarik perhatian siswa adalah cerita asal-usul Kelurahan Randusari, yang dibawakan pada pekan pertama bulan Desember.

Diceritakan, Desa Randusari merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.

Awalnya desa itu bernama Randumangu. Karena banyak tumbuh pohon Randu. Ada pula pohon Randu yang sangat besar dinamai Randu Alas.

Namun dengan bersatunya empat pedukuhan, desa ini berganti nama menjadi Randusari. Randu mempunyai makna terdapat banyak pohon randu. Sedangkan sari bermakna kehidupan warga yang sangat makmur.

Sekilas pada masa awal penjajahan,  Belanda memasuki wilayah Desa Randusari. Namun, dihalang oleh Mbah Mujahid yang sangat sakti. Beliau adalah kiai dari Winongan yang menyebarkan agama Islam di Desa Randusari.

Ia mengajarkan Islam pada warga yang masih dangkal tentang pemahaman agama Islam.

Kemudian dibangunlah Masjid Mujahidin yang sampai sekarang berdiri dengan megahnya. Seiring berjalannya waktu, membuat Desa Randusari mengalami penurunan ekonomi.

Warga beralih menjadi perajin ukiran kayu saat pendatang dari Jepara membuka usaha di Desa Randusari. Warga pun mulai menekuni ukiran kayu khas Jepara, Jawa Tengah. Alhasil, produk-produk yang dibuat masyarakat Randusari memiliki khas jepara dan bernilai tinggi.

"Banyak siswa antusias saat mendengar asal usul Randusari. Walau mereka kelahiran Randusari, namun banyak yang baru tahu," tutur Nurul.

Dari cerita ini, siswa tidak hanya belajar tentang sejarah desa mereka. Mereka juga dikenalkan tentang nilai kebersamaan, perjuangan, dan semangat untuk melestarikan budaya.

Kegiatan mendongeng ini, meskipun terkesan sederhana, telah memberikan dampak besar dalam menumbuhkan rasa cinta anak-anak terhadap literasi.

Dengan cerita yang penuh warna dan tokoh-tokoh yang hidup, setiap anak di SDN Randusari diajak untuk tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berpartisipasi dalam dunia literasi yang lebih luas.

Begitulah, melalui dongeng yang sederhana namun penuh makna, SDN Randusari berusaha menumbuhkan minat literasi di kalangan siswa.

Mengajak mereka untuk merasakan keajaiban kata-kata, dan menghidupkan kembali cerita-cerita yang penuh dengan pesan moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#membaca #literasi #Grati #dongeng #anak #menulis