Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Suka-Duka Iskandar jadi Spesialis Tukang Las di Dalam Air, Gajinya Wow Banget

Inneke Agustin • Rabu, 7 Februari 2024 | 21:45 WIB
BAWAH LAUT: Iskandar, saat melakukan pengelasan bawah air. Kanan, Iskandar dan peralatannya sebelum bekerja.
BAWAH LAUT: Iskandar, saat melakukan pengelasan bawah air. Kanan, Iskandar dan peralatannya sebelum bekerja.

Mengelas di daratan itu sudah biasa. Tapi jika mengelas di dalam perairan, tentu butuh effort. Inilah yang dilakukan Iskandar, 42, warga Desa Binor, Kecamatan Paiton. Dia sudah lama menjadi spesialis underwater welding.

INNEKE AGUSTIN, Paiton, Radar Bromo

Baju ketat melekat di tubuhnya. Baju itu biasa digunakan para atlet selam atau pehobi menyelam. Inilah yang digunakan Iskandar jika dia bekerja sebagai “tukang las” bawah air.

Pria bertubuh langsing dengan rambut dicat pirang itu, biasa menangani perusahaan-perusahaan besar seperti Pembangkit Jawa Bali (PJB). Tugasnya ya membenahi alat-alat di bawah laut yang butuh dilas.

Pekerjaannya memang tidak mudah. Harus punya skil minimal menyelam dan berenang.

Belum lagi sertifikasi khusus underwater welding yang wajib dikantongi, jika ingin mendapat klien besar.

PENGALAMAN: Iskandar sebelum bekerja di dalam laut.
PENGALAMAN: Iskandar sebelum bekerja di dalam laut.
PUNYA SERTIFIKASI: Jasa Iskandar sering digunakan perusahaan besar. Dia sudah punya sertifikasi akan pekerjaannya.
PUNYA SERTIFIKASI: Jasa Iskandar sering digunakan perusahaan besar. Dia sudah punya sertifikasi akan pekerjaannya.

Welder harus ditraining dulu. Nah ini tergantung weldernya, bisa kadang cepat paham, ada juga yang tidak cepat memahami isi pelatihannya. Tapi kebanyakan bila memang memiliki niat yang besar ingin menjadi pengelas bawah laut biasanya akan lebih cepat paham,” kata Iskandar yang belajar menyelam sejak SD itu.

Iskandar menjelaskan bahwa metode yang digunakan pada underwater welding ini terdapat dua macam.

Yaitu pengelasan basah (wet underwater welding) dan pengelasan kering (dry underwater welding).

Proses pengelasan basah (wet underwater welding) berlangsung dalam keadaan elektrode maupun benda berhubungan langsung dengan air.

Sementara dalam pengelasan kering (dry underwater welding) dilakukan dengan bantuan robot yang disebut dengan Dry Hyperbaric Weld Chamber.

Chamber ini didesain kedap air seperti layak desain kapal selam untuk melakukan pengelasan.

Sehingga metode pengelasan ini tampak tidak berbeda dengan pengelasan pada udara terbuka.

Iskandar mengatakan, untuk rata-rata pengelasan dilakukan untuk pemasangan anode atau katode.

Sementara untuk kedalaman pengelasan yang pernah ia lakukan hingga 20 meter.

Namun bisa juga lebih dalam seperti 50 meter, namun ada aturannya lagi.

Pengelasan dengan kedalaman 50 meter, paling lama dilakukan dalam 20 menit saja.

Kemudian welder harus naik ke permukaan. Bila pengelasan di bawah belum selesai, maka bergantian dengan welder lain.

“Tidak boleh lebih dari 20 menit, bila tak ingin terkena dekompresi. Lalu welder yang sudah turun tadi, aturannya harus istirahat dulu selama 1 hingga 2 jam. Berbeda bila kedalaman hanya 20 meter, mungkin sejam di bawah laut masih kuat,” katanya.

Sebelum melakukan pengelasan, Iskandar menceritakan biasanya dilakukan briefing dan berdoa. Setelah itu terdapat tim yang melakukan pengecekan alat-alat yang akan digunakan.

“Sama dengan helper pada welding darat. Jadi mereka yang melakukan pengecekan alat, sehingga para welder tinggal pakai dan melakukan pengelasan di bawah laut,” katanya.

Selain itu, sebelum dilakukan underwater welding juga dilakukan pengecekan arus laut dan cuaca saat itu. Kemudian dilakukan penentuan titik pengelasan yaitu terkait koordinat lokasi pengelasan. Dalam pengerjaan underwater welding juga disediakan tim rescue yang bertugas menjaga safety bagi welder.

“Bila sudah ketemu titik koordinatnya biasanya dibersihkan dulu kotoran yang menempel termasuk tiram. Agar nantinya tidak menggores kabel alat pengelasan. Bila kabel terkelupas, maka akan berbahaya bagi welder. Bisa-bisa weldernya terbakar di bawah laut,” kata Iskandar.

Profesi ini memiliki risiko yang tinggi. Baik dari faktor lingkungan yang membutuhkan keamanan esktra. Sehingga welder tak sampai mengalami sengatan listrik, ledakan, bahkan tenggelam. Termasuk bahaya dari lokasi pekerjaan, seperti serangan dari satwa laut.

“Kalau serangan hewan laut yang paling banyak dijumpai oleh saya adalah ubur-ubur. Kalau badan mungkin sudah tertutup baju selam, tapi kadang ubur-uburnya menempel di muka seperti bibir. Kadang mereka menyengat, kan jadi kaget. Akhirnya tidak stabil untuk bekerja,” kata Iskandar.

Sementara untuk gelembung udara yang dihasilkan dari proses pengelasan dalam air, menurut Iskandar hal tersebut bukanlah sebuah permasalahan. “Sebab sebelum pengelasan kan sudah dicek arah arusnya kemana. Ya weldingnya mengikuti arus. Bila arusnya bergerak ke barat, ya lasnya dari sisi timur,” katanya.

Dalam proses pengelasan membutuhkan waktu yang bergaram, tergantung jumlah titik yang hendak diperbaiki ataupun dipasang. Menurut Iskandar berdasarkan pengalamannya memasang kurang lebih 100 titik anode maka butuh waktu hingga sebulan hingga semuanya selesai.

“Tergantung kondisi cuaca juga. Musim hujan tidak berpengaruh, yang pengaruh itu ketika ada ombak besar ataupun badai. Sebab kondisi bawah laut ikut goyang,” katanya.

Meski begitu, risiko pada profesi ini juga berbanding lurus dengan penghasilannya. Iskandar mengungkapkan bahwa penghasilan bersih bagi underwater welder bisa mencapai Rp 750 hingga Rp 1,5 juta per hari.

“Tergantung kesepakatan dengan owner, bobot pekerjaan, dan pengalaman kerja seorang welder tentunya. Misal bobot yang akan dilas itu 50 Kg, rata-rata gajinya Rp 750 ribu per hari. Bila bobot sudah mencapi 100 kg, gaji bisa mencapai Rp 900 hingga Rp 1 juta per hari. Itu kan kurs dalam rupiah. Bila digaji dalam kurs dolar dalam setahun bisa mencapai ratusan juta,” kata Iskandar.

Pekerjaan utama Iskandar memang menjadi spesialis tukang las dalam air. Tapi dia juga terbiasa melakukan free dive. “Biasanya untuk cek cek di bawah laut saja,” beber Iskandar. (fun)

Editor : Jawanto Arifin
#tukang las #underwater welding