Banyak pebisnis muda yang bermunculan membuat Alya Rahma Puspita, ingin menirunya. Apalagi jika bisnis yang ditekuni adalah hobinya. Dara 18 tahun itu berkecimpung di dunia wewangian yang membuatnya bisa mendapat cuan.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
PILIHAN Alya menekuni pembuatan parfum berawal dari ketidaksengajaan. Saat ia duduk di bangku kelas XI, banyak teman SMA-nya di SMAN 2 Kota Pasuruan, yang sering bertanya terkait aroma parfum yang enak dan tahan lama.
Karena sering berbagi cerita soal parfum, ia dinilai paham dengan dunia wewangian. Bahkan beberapa teman laki-lakinya meminta Alya membuat parfum. Karena mereka suka kopi, mereka menyuruh Alya membuat aroma kopi.
Hingga Agustus 2022, ia mulai melakukan riset. Ia sempat sharing dengan pecinta parfum untuk mencari tahu aroma yang disukai orang. Sebulan berselang, ia memutuskan untuk mencoba menekuni usaha parfum refill.
Ia membuat varian parfum dengan aroma yang hampir mirip dengan parfum mahal. Mulai merek-merek terkenal seperti Gucci, Bacarat hingga Chanel. Ada 40 macam varian dengan kemiripan 75 persen. Parfumnya diberi nama Lyralia Parfum.
“Mulanya saya berkenalan dengan pemilik usaha parfum refill. Terus bulan berikutnya, saya dapat pihak ketiga yang mau membantu mendistribusikan parfum saya,” kata Alya.
Perempuan yang tinggal di Jalan Samidi MS, Kota Pasuruan ini menyebut, animo penjualan parfum miliknya cukup bagus. Di pekan pertama bisa laku 25 buah. Mayoritas pembelinya adalah teman sekolah.
Untuk mendongkrak penjualan, ia melakukan kerja sama dengan sekolah dan beberapa kafe di Kota Pasuruan. Produk parfumnya diletakkan di sana untuk dibantu menjualkan. Mereka mendapatkan komisi setiap produk yang terjual.
Rupanya, hasilnya cukup memuaskan. Dalam sebulan, parfum miliknya bisa laku hingga 100 buah. Paling laku adalah varian Chanel. Rata rata, pembeli suka karena aromanya segar dan sensual.
Ia menjual parfum selama hampir satu tahun. Mulai dari September 2022 hingga Juni 2023. Ia berhenti karena sering cekcok dengan pihak ketiga. Alasannya karena dia ingin membuat aroma khusus yang berbeda.
“Cuma pihak ketiga ini tidak mau dengan alasan karena dia juga memproduksi parfum untuk beberapa orang. Akhirnya, kerja sama saya hentikan,” jelas Alya.
Setelah memutus kontrak, ia pun mengambil sisa parfum yang masih ada di beberapa kafe. Ia sempat membuat surat di kafe tersebut yang ditujukan untuk pelanggannya bahwa dia akan kembali lagi dengan aroma parfum berbeda.
Ia kembali melakukan riset dengan menanyakan ke beberapa pelanggannya. Hasilnya, rata rata mereka suka dengan aroma yang sensual. Ia lalu mencoba membuat parfum dengan aroma sensual namun disukai banyak orang.
Agar tahan lama, ia memutuskan menggunakan varian extrait de parfum. Untuk wewangiannya, ia memilih aroma bunga dan buah. Seperti melati, vanilla, edelweiss hingga rasberi.
Racikan aromanya, ia buat sendiri. Namun ia juga kerja sama dengan industri rumahan di Kabupaten Sidoarjo untuk campuran minyak yang digunakan dalam parfum miliknya.
Agar bisa mendapatkan aroma yang diinginkan, ia melakukan uji coba aroma hingga dua pekan. Ia dan kakaknya bergantian mencoba setiap aroma yang dihasilkan. Sehari, ia bisa melakukan tiga kali percobaan. Bahkan bisa bergadang.
Kendalanya, saat ia menemukan aroma yang enak, wanginya tidak bertahan lama. Namun saat wanginya kuat, aromanya kurang enak. Barulah di hari keempat belas, ia menemukan aroma yang cocok. Ini usai ia menaikkan formulasinya.
“Saya langsung merasa cocok, saat kakak bilang kalau aromanya enak. Karena saya ingin buat aroma yang sensual dan bisa dipakai untuk cowok dan cewek,” tutur perempuan kelahiran Juli 2005 ini.
Ada tiga varian yang dibuatnya. Yaitu betah setiap malam dengan aroma wangi dari bunga edelweiis, ramuan malam jumat dengan aroma spicy dari rasberi dan wangi amber. Serta kharisma malam jumat dengan aroma manis dari bunga melati.
Pekan pertama, ia bisa menjual hingga 23 buah. Yang paling laku adalah ramuan malam jumat. Namun pekan pekan berikutnya, varian terlaris adalah betah setiap malam. Dari sebelumnya hanya laku 15 buah bisa menjadi 30 buah.
Baca Juga: Tiga Siswa SMKN 2 Probolinggo Sabet Juara 3 Nasional di Ajang Civil Creative Competition
Ternyata alasannya, pembeli kurang suka adanya glitter pada varian ramuan malam jumat. Glitter ini menempel pada baju. Keluhan ini direspon olehnya dengan mengurangi glitter.
Tiga varian parfumnya ini dijual 10 ribu untuk varian 12 mililiter. Dalam sebulan bisa terjual hingga 10 buah. Dan varian betah setiap malam masih menjadi favorit hingga saat ini.
“Berbeda dengan parfum sebelumnya, untuk parfum buatan saya ini tidak dijual di kafe kafe. Tapi dari mulut ke mulut dan mengandalkan promosi di instagram,” tuturnya.
Keunikan parfum miliknya, pelanggan bisa meminta varian sesuai keinginannya. Sehingga aroma parfum yang dimiliki tidak didapat oleh orang lain. Varian ini bisa diperoleh dalam parfum special.
Pembeli tinggal bilang ingin aroma yang seperti apa, maka ia akan membuatkannya. Namun harganya lebih mahal. Untuk isi 30 mililiter, harganya sekitar 50 sampai 75 ribu. Sementara 15 mililiter dijual 35 ribu.
”Kendalanya selama ini ya saat kerja sama dengan makloon. Harus pandai memilih makloon yang benar benar mau membantu usaha kita,” tutur bungsu dari dua bersaudara ini. (fun)
Editor : Ronald Fernando