Banyu Mili di lingkungan Bekacak, Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil, menjadi destinasi wisata baru yang dikembangkan warga setempat. Aliran sungai yang tenang, dimanfaatkan sebagai sarana wisata river tubing. Meski demikian, tak mudah bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banyu Mili untuk mengembangkannya.
IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo
Dua tebing setinggi 8 meter mengapit sungai setempat. Rerumputan dan tanaman liar menghiasi sekitaran sungai. Nuansa asri pun terpancar.
Dengan lebar 5 meter, sungai setempat memiliki aliran yang begitu tenang. Airnya pun mengalir hingga sepanjang 1,2 km. Di mana, baru sekitar 600 meter yang dimanfaatkan warga untuk dijadikan wisata.
Sungai yang merupakan aliran inspeksi pengairan DAM Bekacak tersebut kini dikembangkan sebagai asrana wisata. Pemandangan yang asri di sekitarnya, dimanfaatkan warga untuk wisata air. Salah satunya, dengan menjadikannya river tubing.
Sudah beberapa tahun terakhir, warga sekitar bahu membahu mengembangkan wisata yang dinamai Banyu Mili itu. Beberapa infrastruktur mereka bangun. Seperti spot untuk pemberangkatan. Hingga spot untuk pemberhentian.
Beberapa penunjang wisata juga dibangunnya. Termasuk tempat semacam rest area yang dimanfaatkan warga untuk berwisata.
Ketua Pokdarwis Banyu Mili Bahrozi mengungkapkan, wisata river tubing di kawasan Banyu Mili memanfaatkan aliran inspeksi pengairan DAM Bekacak. Sungai sepanjang 1,2 km tersebut, merupakan aliran dari Sungai DAM Plesteran Bekacak, Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil.
Pengembangan wisata river tubing ini dilakukan sejak 2016. Keberadannya yang potensial menjadi alasan untuk dikembangkan menjadi wahana wisata.
“Kami terinspirasi Gua Pindul di Gunung Kidul. Akhirnya, terpikirkan untuk mengembangkan wisata river tubing di sini,” beber dia.
Ia dan beberapa warga pun melakukan analisis. Untuk kemudian mengajukan konsep tersebut ke kelurahan hingga kecamatan. Dari situlah, beberapa fasilitas penunjang disiapkan. Salah satunya, ban untuk pendukung river tubing.
“Mulanya memang sebatas karet ban untuk menunjang wisata yang kami siapkan. Belum ada sarana lainnya,” ungkap dia.
Meski hanya sebatas ban karet, kunjungan wisata cukup banyak. Beberapa warga berdatangan. Untuk menikmati sensasi wisata air di wilayah setempat.
Namun, ketika mulai menanjak, persoalan di internal pengurus wisata bergejolak. Hingga akhirnya, wisata setempat “mati suri”. Terlebih, datangnya Pandemi Covid-19. Membuat kunjungan semakin sepi.
“Sempat vakum, karena pandemi dan polemik pengurusan di internal. Akhirnya wisata ini sempat tidak lagi eksis,” aku lelaki 47 tahun tersebut.
Baru sekitar 2021, lelaki yang juga ketua RW di lingkungan Bekacak ini berinisiatif kembali mengangkat potensi sungai setempat. Ia pun mengajak warga lainnya untuk ikut mengembangkan potensi Banyu Mili.
Pengembangan infrastruktur pun dilakukan. Tidak sekadar spot untuk pemberangkatan ataupun pemberhentian. Ia bersama warga membangun rest area atau kafe di kawasan setempat. Dana sekitar Rp 147 juta digulirkan.
“Ini merupakan swadaya warga. Ada gapura di pintu masuk, tempat duduk, kafe, dan yang lainnya. Kami siapkan semua untuk penunjang wisata,” beber dia.
Bahrozi mengaku, wisata setempat hanya dibuka Sabtu dan Minggu. Pengunjung bisa menikmati wisata river tubing sepanjang 600 meter di aliran sungai setempat. Harga tiketnya senilai Rp 20 ribu per orang.
Sejak dioperasikan, pengunjung yang datang tidak hanya dari wilayah Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga dari daerah lain. Seperti Mojokerto, Sidoarjo, hingga Surabaya.
“Kami buka Sabtu dan Minggu karena di hari lain, rata-rata pengelola sibuk bekerja. Saat buka rata-rata ada 35 orang, bahkan lebih dalam seharinya,” imbuh dia.
Pengurus wisata river tubing Banyu Mili lainnya, Arifin mengaku, keberadaan wisata setempat dikonsepkan untuk menunjang ekonomi sekitar. Karena di saat ramai kunjungan, warga sekitar bisa membuka lapak untuk berdagang. Atau sekadar menitipkan makanan di kafe yang telah dikembangkan.
“Tentunya keberadaan wisata Banyu Mili ini menjadi harapan bagi warga untuk meningkatkan perekonomiannya. Makanya, kami berharap agar ada dukungan dari pemerintah untuk pengembangan wisata. Mengingat saat ini, kami lakukan swadaya untuk pengembangannya,” papar dia. (hn)
Editor : Jawanto Arifin