Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warga Gadingrejo Ini Manfaatkan Limbah Tetangga Jadi Kerajinan Tangan

Muhamad Busthomi • Kamis, 6 Juli 2023 | 19:40 WIB
MANFAATKAN LIMBAH: Salah satu karya Lilis Setyawati dari limbah plastik. Dia memanfaatkan limbah dari yang paling kecil.
MANFAATKAN LIMBAH: Salah satu karya Lilis Setyawati dari limbah plastik. Dia memanfaatkan limbah dari yang paling kecil.

Sekecil apapun, Lilis Setyawati berperan mengurangi limbah plastik. Di balik keindahan dan keunikan produk kerajinan tangan yang dibuatnya, ada keterampilannya yang mampu mengubah limbah menjadi rupiah.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Bila sudah berkreasi, ruang tamu rumahnya nyaris tak pernah terlihat rapi. Sisa-sisa potongan bekas bungkus kopi berserak di mana-mana. Sementara Lilis Setyawati dengan telaten melipati lembaran-lembaran kecil limbah plastik tersebut.

Dengan keterampilannya, ia merangkai limbah bungkus plastik menjadi berbagai barang bernilai manfaat atau kerajinan tangan. Seperti tas, tempat tisu, dan tempat minuman. Perjalanan kreatif Lilis dimulai pada 2015. Tepatnya ketika ia melihat kreasi dari ibu-ibu Persatuan Istri Tentara (Persit).

Sebagian besar hidupnya memang banyak dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan organisasi tersebut. Selama 17 tahun ia mendampingi suaminya, Mayor Purn Agus Riyanto yang dulunya berdinas di TNI AD.

Selama aktif di Persit, Lilis banyak mengikuti kegiatan. Salah satunya pengembangan keterampilan. Di antaranya dengan memanfaatkan limbah.

”Daripada diam di rumah kan ngantuk. Makanya saya mencoba membuat kerajinan sendiri setelah melihat beberapa hasil karya ibu-ibu Persit,” ungkap warga Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan itu.

Bahkan, produk kerajinannya seringkali dibawa ke ajang pameran Kodam Brawijaya. Namun, sebelum benar-benar mahir seperti sekarang, sebenarnya bukan hal mudah bagi Lilis untuk bisa terampil. Ketika di rumah, biasanya dia hanya membikin produk minuman herbal.

”Jadi kebiasaannya di dapur. Kalau bikin kerajinan awalnya nggak telaten,” kata ibu tiga anak itu.

Bahkan, ia butuh waktu hingga sebulan untuk dapat membuat barang sesuai dengan harapannya. Tidak sekali mencoba lantas berhasil. Selama sebulan, Lilis beberapa kali gagal. Tetapi, lantaran bahannya mudah dibongkar, ia tak harus membuang bahan cuma-cuma.

Tas berbahan limbah bungkus kopi adalah produk pertama yang ia buat. Kemudian tempat tisu, dan akhirnya ia tertarik untuk membuat beragam produk kerajinan. ”Semakin besar ukuran produk yang saya buat, semakin banyak pula limbah yang saya butuhkan,” ungkapnya.

Sebab, bahan yang dipakai seperti bungkus kopi ukurannya relatif kecil. Sehingga, untuk merangkai menjadi serupa lembaran kain juga harus mengumpulkan bahan sebanyak mungkin.

”Misalnya, untuk membuat tempat minuman saja, saya membutuhkan sekitar 150 lembar bungkus kopi,” cerita Lilis.

Lilis mengumpulkan limbah dengan cara mencarinya dari tetangga-tetangganya. Ia bahkan berpesan kepada beberapa tetangganya yang gemar mengonsumsi kopi saset agar tidak membuang bungkusnya begitu saja. Satu per satu, limbah tersebut dikumpulkan. Dan setelah bahan-bahan lengkap, Lilis mulai bekerja.

”Yang terpenting adalah mencuci limbah tersebut hingga bersih. Sebab jika tidak, saat proses merangkainya hasilnya mungkin tidak akan rapi,” paparnya.

Proses pembuatan barang-barang ini juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Mulai dari dua hingga empat hari harus dilalui untuk menciptakan karya-karya unik ini.

Meski bermula dari niatan untuk mengisi waktu luang, kegiatan itu ternyata juga bisa menghasilkan cuan. Hasil kerajinan buatan Lilis dijual dengan harga antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.

”Sebagian besar produk saya dikirim ke Surabaya dan ada juga pelanggan tetap dari pegawai pemerintah,” tambah perempuan 58 tahun itu.

Kreativitas dan ketekunan Lilis membuktikan bahwa limbah bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Dengan kreasinya, Lilis tidak hanya mengurangi jumlah limbah plastik yang berakhir di tempat pembuangan sampah. Tetapi, juga membuktikan pentingnya mendaur ulang dan memanfaatkan limbah sekecil apapun.

”Tanpa saya sadari, ini juga langkah untuk menjaga lingkungan serta menciptakan nilai manfaat dari hal-hal yang dianggap sepele,” katanya. (hn)

Editor : Jawanto Arifin
#kerajinan tangan