Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Samsul, Guru asal Pasuruan yang Jadi Wasit Sepak Bola Nasional

Jawanto Arifin • Selasa, 9 Mei 2023 | 22:20 WIB
WASIT NASIONAL: Samsul Efendi (mengambil bola) saat memimpin pertandingan beberapa waktu lalu. Beberapa kali dia menjadi wasit dalam pertandingan Piala Soeratin dan Liga 3. (Istimewa)
WASIT NASIONAL: Samsul Efendi (mengambil bola) saat memimpin pertandingan beberapa waktu lalu. Beberapa kali dia menjadi wasit dalam pertandingan Piala Soeratin dan Liga 3. (Istimewa)
Samsul Efendi sebenarnya seorang guru. Tetapi, banyak orang lebih mengenalnya sebagai wasit sepak bola. Boleh dibilang, ia satu-satunya pengadil lapangan terbaik di Pasuruan. Muda, berlisensi nasional, dan langganan memimpin liga.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pasuruan, Radar Bromo

Olahraga beregu yang satu ini memang sangat populer di dunia. Hampir semua anak laki-laki sudah pasti pernah memainkannya. Termasuk, Samsul Efendi yang sudah gemar bermain sepak bola sejak usia dini.

Semasa duduk di bangku SD, pria asal Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, ini sudah aktif jadi pesepak bola cilik. Dia lalu bergabung dengan SSB WP FC yang merupakan klub internal Askab PSSI Pasuruan.

Menjadi seorang wasit sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya. Mula-mula dia hanya mengikuti jejak seniornya sesama pehobi sepak bola. Setamat SMA pada 2015, Fendi mengikuti kursus C3.

“Dasarnya kan harus paham aturan main. Dan ketika itu sudah lumayan paham. Apalagi sering diskusi dengan teman-teman wasit yang senior juga,” ungkap dia.

Tak lama setelah mengantongi lisensi C3, Fendi langsung fokus mengejar level yang lebih tinggi. Karena itu, dia harus melakoni beberapa pertandingan agar bisa mengikuti kursus C2. Yang tidak kalah penting, juga menyiapkan stamina tubuh.

“Latihan yang utama adalah lari. Karena seorang wasit harus punya fisik yang kuat,” kata lulusan Universitas Kahuripan Kediri tersebut.

Apalagi ketika tes kursus C2, dia harus berlari sepanjang 400 meter dalam 8 kali putaran. Sedangkan untuk memiliki lisensi C1, syaratnya lebih berat lagi. Yakni, harus mencapai waktu terbaik pada 15 detik untuk lari jarak 75 meter dan 18 detik untuk lari jarak 25 meter.



“Kalau melebihi itu, otomatis nggak lolos. Karena ketika fisiknya kurang baik, berpengaruh juga terhadap konsentrasi ketika memimpin pertandingan,” ungkap Fendi.

Meski tidak begitu dinikmati oleh para pecinta sepak bola, kata Fendi, wasit memiliki peran penting dalam sebuah pertandingan. Bahkan, boleh dibilang, tugas mereka jauh lebih berat dibanding para pemain.

Tanggung jawabnya besar. Mereka harus menjaga dan mengatur supaya permainan sepak bola berjalan sesuai rule of the game.

“Di samping itu, juga kan memegang tanggung jawab penuh selama 90 menit dengan atmosfer suporter yang terkadang cukup tinggi,” ujarnya.

Di Indonesia, wasit yang menjadi inspirasinya adalah Thoriq Alkatiri yang cukup dikenal tegas. Menurut Fendi, seorang wasit memang seharusnya berkarakter semacam itu. Dengan pembawaan yang tenang, tetapi tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

“Kalau menghadapi protes itu kan biasa. Cukup diberi pemahaman, nggak perlu terbawa emosi. Tetapi kalau sudah sampai teguran diabaikan, baru bisa kasih peringatan,” katanya.

Kendati gandrung dengan sepak bola sedari kecil, Fendi ternyata lebih banyak mengurangi bermain sepak bola setelah menjadi wasit. Sebab, dia harus benar-benar menjaga fisiknya. Jika tetap asyik bermain sepak bola, kemungkinan mengalami cedera pasti ada.

“Makanya latihan saya sekarang ya cuma lari,” tutur guru olahraga di SDN Kurung 1 itu.



Setidaknya, dia harus berlatih minimal dua hari sekali. Latihan itu juga terkadang dilakukan di tengah kesibukannya mengajar. Terutama ketika ada waktu luang. Seperti jam istirahat maupun menjelang pulang sekolah.

Jarak antara sekolah tempatnya mengajar dengan rumahnya di Wonorejo cukup ideal bagi Fendi untuk menjaga fisiknya tetap mapan. Biasanya, dia berlari sejauh 6 kilometer dari sekolah ke rumah.

“Selebihnya ya ikut memimpin pertandingan teman-teman yang lagi sparing,” bebernya.

Fendi sendiri sudah langganan memimpin pertandingan. Ia menjadi pengadil lapangan dalam beberapa pertandingan Liga 3. Juga Piala Soeratin. Kendati sebenarnya dia sudah boleh memimpin pertandingan nasional. Terutama setelah mendapatkan lisensi C1 pada 2021 lalu.

“Tantangan sekarang inginnya naik Liga. Tetapi, kalau sudah dipercaya insyaallah pasti ditunjuk memimpin pertandingan yang berat,” bebernya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#wasit sepak bola #guru berprestasi