Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pasang Surut Warung Lesehan Pak Sholeh Pandaan

Jawanto Arifin • Rabu, 19 April 2023 | 18:23 WIB
PELOPOR: Warung lesehan ayam goreng Pak Sholeh di Pandaan. Inset berbagai menu yang ditawarkan. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
PELOPOR: Warung lesehan ayam goreng Pak Sholeh di Pandaan. Inset berbagai menu yang ditawarkan. (Rizal Syatori/Radar Bromo)
Berbekal menu racikan sendiri, H.M. Sholeh membuka warung Lesehan Pak Sholeh pada 1996 di Pandaan. Dari awalnya di satu tempat, kini total ada empat warung Lesehan Pak Sholeh yang sudah dibuka. Meski tidak seramai 27 tahun lalu, warung lesehan ini tetap menjadi salah satu warung jujukan pecinta ayam goreng.

RIZAL FAHMI SYATORI, Pandaan, Radar Bromo

Siapa yang tidak kenal dengan Lesehan Ayam Goreng Pak Sholeh? Di tahun 1996 hingga tahun 2000-an, warung ini sangat dikenal. Terutama bagi pecinta kuliner ayam goreng. Bahkan, tidak hanya dikenal di Pasuruan. Namun, hingga ke berbagai daerah di luar provinsi.

Sesuai namanya, Warung Lesehan Ayam Goreng Pak Sholeh didirikan oleh HM. Sholeh, 83, pada tahun 1996. Saat itu bisa dikatakan, dialah pelopor berdirinya warung lesehan di Pasuruan dan sekitarnya. Karena di tahun-tahun tersebut, belum banyak berdiri warung lesehan seperti sekarang.

Yang menarik, lokasi lesehan ini sebenarnya agak masuk. Yaitu di Desa Tunggulwulung, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. jaraknya sekitar satu kilometer dari ruas jalan kabupaten Pandaan–Bangil.

Meski begitu, warung ini selalu ramai pengunjung tiap harinya. Terutama saat weekend, libur nasional, termasuk saat Ramadan dan Lebaran. Mereka yang datang beragam. Ada yang naik motor, mobil pribadi, hinga minibus. Boleh dikata, lesehan ini menjadi jujukan kuliner pemudik dan masyarakat umum penyuka ayam goreng.

Alhamdulillah, lesehan ini sudah buka 27 tahun. Dulu saya sendiri yang mengelola. Sekarang dilanjutkan Nur Fauzia, anak pertama saya sebagai generasi kedua,” ucap Sholeh, beberapa waktu lalu.

Sebelum buka warung lesehan, ia bersama istrinya, almarhumah Rohmawati lebih dulu berjualan rujak ulek pada 1988 hingga 1995. Setahun kemudian pada 1996, mereka memutuskan membuka warung lesehan.

Tentu saja tidak langsung besar seperti saat ini. Pertama merintis, ada tiga gubuk saja untuk lesehan. Kini di Pandaan yang merupakan pusatnya, total ada 27 gubuk untuk lesehan.



“Dari jualan rujak, kami memutuskan untuk membuka warung dan akhirnya berkembang seperti sekarang,” katanya.

Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Sholeh mengaku, yang menginspirasi dirinya membuka warung lesehan ayam goreng itu, justru para tetangganya. Saat itu, di sekitar kampungnya, banyak warga yang menjadi supplier ayam kampung.

Bapak dua anak itu pun melihat hal itu sebagai peluang usaha. Maka, dia membuka lesehan ayam goreng. Agar penyebutannya mudah serta gampang diingat, warung itu pun diberi nama Lesehan Ayam Goreng Pak Sholeh, sesuai dengan nama pendirinya.

Di luar dugaan, respons para pecinta kuliner ternyata luar biasa. Pembeli berdatangan untuk menikmati kuliner khas ini. Tidak hanya dari sekitaran Pasuruan, tapi juga dari berbagai daerah di Jatim. Bahkan, sampai luar provinsi dan luar pulau di Indonesia.

Bahkan, pembeli yang singgah dan menikmati kuliner di lesehan ini beragam. Pernah beberapa menteri di era Presiden Soeharto datang. Juga pejabat dari kabupaten maupun provinsi hingga pusat. Ada juga pengusaha, masyarakat umum, dan masih banyak lainnya.

“Awal buka dari tahun 1996 hingga tahun 2010-an, pembeli yang datang selalu ramai. Sehari bisa habis sampai 2 ribu ekor ayam kampung. Namun, beberapa tahun terakhir memang menurun. Sehari rata-rata hanya 500 ekor ayam saja atau lebih,” jelasnya.

Menu ayam goreng pun menjadi andalan. Ada ayam goreng madu dan goreng laos. Sementara minuman yang banyak disukai yaitu beras kencur.

“Ayamnya ayam kampung. Per porsi untuk makanan aneka ayam Rp 70 ribu. Untuk beras kencurnya hanya Rp 7 ribu,” tuturnya.

Meski demikian, lesehan ini juga menyediakan menu lain selain ayam goreng. Ada ikan segar seperti gurami, mujaer, dan udang. Ada juga menu bebek goreng.



Yang juga khas yaitu sayuran yang disertakan bersama menu yang ada. seperti terong, cah kangkung, dan masih banyak lainnya.

“Menu andalan adalah ayam goreng dan beras kencur. Yang lain ada sebagai menu pelengkap bagi yang ingin mencoba menu selain ayam. Tergantung selera masing-masing pengunjung,” bebernya tersenyum.

Tidak hanya sebagai pendiri. Sholeh juga yang meracik resep ayam goreng di warungnya itu. Resep yang akhirnya melegenda. Sebab, ayam goreng racikannya terkenal empuk dan gurih dengan bumbu yang masih segar.

“Selain pakai bumbu segar, ada perlakuan khusus untuk daging ayam sebelum digoreng ataupun dibakar. Sehingga, saat dimakan dagingnya empuk atau lunak. Selain itu, daging tidak lengket dengan tulangnya,” kata Sholeh.

Tidak heran. Sholeh memang gemar memasak sejak remaja. Bahkan, sejak saat menjadi santri di Ponpes Sidogiri. Di sini, dia sudah sering memasak. Dari sinilah, hobi memasak itu dia kembangkan.

Kini keuntungan dari bisnis warung lesehan itu, dia investasikan di sejumlah tempat. Mulai investasi tanah, memelihara dan merawat kuda pacu, naik haji dan umrah, menghidupi keluarga, serta masih banyak lainnya.

Bahkan anak keduanya, Agung Fathur Rohman, sukses menjadi kades di Desa Tunggulwulung. Kini Agung masih menjabat kades. “Membuka warung lesehan ini berkah tersendiri bagi saya dan keluarga. Apalagi, warung ini juga menyerap tenaga kerja warga sekitar,” jelasnya.

Sampai saat ini, warung lesehan di Desa Tunggulwulung, Kecamatan Pandaan, menjadi pusatnya. Namun, untuk memudahkan para pelanggan dari luar daerah, Sholeh selalu membuka lesehan serupa di sejumlah daerah.



Tak tanggung-tanggung, cabangnya ada tiga. Yaitu di Karangploso, Kabupaten Malang; di Rest Area Tongas, Kabupaten Probolinggo; dan di Kabupaten Mojokerto.

“Total ada warung lesehan di empat lokasi. Semuanya dikelola anak sebagai penerus. Sementara resepnya tetap dari saya. Saya sebatas kontrol dan mengawasi saja. Sudah tidak cawe-cawe memasak,” ucapnya.

Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke Lesehan Pak Sholeh di Pandaan, pengunjung ramai berdatangan. Mereka rata-rata berbuka bersama keluarga, rekan-rekan, dan kerabat. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Kota Pasuruan, Malang, Mojokerto, hingga Sidoarjo dan Surabaya. Semua gubuk bahkan terisi.

“Saya dan keluarga sudah sering makan ke sini, tidak pernah bosan. Paling suka ayam goreng madu. Karena selain enak, daging ayamnya lunak. Minumnya beras kencur biar segar,” cetus Hasanudin, 42, asal Kota Surabaya. (hn)
Photo
Photo
Editor : Jawanto Arifin
#kuliner legendaris