Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Putri Alvio Tekuni Bisnis Pakaian Anak, Modalnya Rp 200 Ribu

Ronald Fernando • Senin, 10 April 2023 | 16:01 WIB
BANYAK BELAJAR: Putri Alvio dengan pakaian anak yang dijualnya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
BANYAK BELAJAR: Putri Alvio dengan pakaian anak yang dijualnya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Berawal dari modal Rp 200 ribu, kini Putri Alvio, 30, warga Jalan Taman Makam Pahlawan, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, sukses menekuni bisnis pakaian anak. Kini ia berhasil menjual ribuan model pakaian setiap bulannya. Omzetnya mencapai ratusan juta rupiah.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Fahrizal Firmani, Kanigaran, Radar Bromo

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebenarnya Putri Alvio tidak sengaja menekuni bisnis pakaian anak. Awalnya, pada 2018, anak perempuannya membutuhkan baju baru. Ia pun membeli secara online. Ternyata harganya murah, mulai dari Rp 20 ribu.

Karena harganya terjangkau, ia pun sekalian membeli dalam jumlah banyak untuk dijual lagi. Dengan modal Rp 200 ribu, ia bisa mendapatkan enam pakaian. Pakaian ini dijual secara eceran dan ditawarkan ke teman-temannya.

Dalam beberapa hari, semua pakaian itu laku. Melihat animo yang cukup tinggi, ia pun kulakan lebih banyak lagi. Ternyata, lagi-lagi kulakan pakaian anak itu terjual dalam beberapa hari. Dan itu berulang hingga awal tahun 2020.

"Jumlah yang saya kulak terus meningkat. Dari awalnya cuma Rp 200 ribu, terus naik hingga berani kulakan sampai jutaan. Jualnya ke teman kantor dan teman main," ungkapnya.

Mulai 2020 itulah, ia memberanikan diri untuk menekuni pakaian anak dengan desain sendiri. Ia membeli kain kiloan. Lalu membuat desain dengan melihat model pakaian anak yang ada. Tentunya, dengan diubah sesuai seleranya. Model yang dibuatnya lantas diserahkan ke penjahit.

Photo
Photo
BANJIR ORDER: Putri Alvio dan produk yang siap dikirimnya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Pertama kali kulakan kain, ia membeli 10 kilo untuk jenis kain rayon. Kain 10 kilo ini menghasilkan 20 buah baju. Baju ini dijual mulai Rp 30 ribu dan dipasarkan melalui WhatsApp. Dengan dibantu satu admin, 20 baju ini bisa laku dalam satu bulan.

Bisnisnya pun terus berkembang. Meski sempat menurun karena terdampak pandemi Covid-19, ia tidak putus asa. Meski ekonomi saat itu bisa dibilang melambat, tapi pembelian baju anak masih tetap tinggi setiap bulannya. Ia pun mengubah ruang tamunya menjadi gudang.

Lalu sejak 2022, ibu dua anak ini kulakan kain hingga 4.000 yard dalam sebulan. Jenis kainnya pun beragam, mulai rayon, katun, hingga krinkel. Jumlah sebanyak ini bisa dibuat menjadi lima ribu pakaian. 

Ia pun menambah admin dan karyawan. Ia memiliki toko yang diberi nama Babyjeshop. Saat ini, ia dibantu oleh 25 orang.

"Pemasarannya melalui media sosial. Mulai dari facebook, Instagram, WhatsApp hingga TikTok. Pernah punya akun shopee, tapi tidak terlalu jalan. Jadi dinonaktifkan," jelas Putri.

Mulai Februari 2022, ia belajar mengikuti tren. Ia menggunakan reseller. Mereka bisa memesan secara grosir, eceran, hingga partai. Ada pula jasa afiliator. Di mana orang lain memasarkan produknya di toko mereka secara online. Afiliator ini mendapat komisi 10 persen untuk satu baju. 

Kelebihan dari baju rancangannya adalah ia menggunakan bahan premium. Untuk harga dan model bisa bersaing. Bahkan, beberapa item lebih murah dari toko lain. 

Harga jualnya mulai Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu. Rata-rata dalam sebulan baju anak buatannya bisa laku hingga 3.000 buah.

"Untuk momen tertentu, seperti Ramadan atau akhir tahun, malah lebih ramai lagi. Selama Ramadan ini, saya pernah menjual hingga 879 paket dengan seribu buah pakaian terjual dalam sehari," katanya.

Eks karyawan perbankan di Kota Probolinggo ini mengaku pernah mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan. Ia pernah menggunakan sistem cash on delivery (COD), tapi ada pembeli nakal. 

Ia tidak jadi membeli, namun paketnya sudah dibuka dan diganti dengan barang lain. Sementara baju yang ia pesan diambil oleh orang itu. Namun, ia memilih merelakan karena harganya cuma Rp 40 ribu. 

Ia pernah juga ditipu saat kulakan kain secara online dari sebuah toko di Bandung, Jawa Barat. Padahal, sebelumnya toko itu sudah menjadi langganannya. Ia sudah membayar Rp 7 juta, tapi kainnya tidak dikirim. 

Ia sempat hendak melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib, tapi akhirnya ia memilih ikhlas. Tapi, ia tidak memakai jasa toko itu lagi.

"Untungnya waktu itu saya masih memiliki gaji bulanan sebagai karyawan perbankan. Kalau sekarang, saat saya murni jadi pebisnis, ya mungkin nangis. Karena uang itu bisa buat modal," jelas istri dari Angga Pramudya ini.

Belajar dari pengalaman tersebut, kini ia lebih berhati-hati. Ia selalu meminta KTP dan nomor rekening untuk pihak yang diajak bekerja sama. Termasuk foto orangnya pun ia pinta. Bagi pembeli secara tunai melalui WhatsApp, ia selalu meminta bukti transfer sebelum mengirim barang yang diminta.

Meski pernah tertipu, ia mengaku sangat menyenangi bisnis baju anak yang ditekuninya. Ia memiliki waktu yang lebih fleksibel. Meski saat menjadi karyawan, ia mendapatkan gaji yang pasti. Namun, saat ini nilai uang yang diperolehnya lebih besar. Cuma karena bisnis, kadang tinggi dan kadang turun. 

"Omzet saya dalam sebulan itu paling kecil Rp 150 juta, kadang bisa Rp 250 juta. Selain itu, saya dibantu reseller dan afiliator untuk pemasarannya. Jadi lebih banyak sukanya," terang Putri.

Perempuan kelahiran Juni 1992 ini mengatakan, ia memiliki target agar bisnisnya lebih berkembang dengan meningkatkan kuantiti baju yang dihasilkan. Rata-rata dalam sehari ia bisa menjual lebih dari 100 baju. Pemasarannya tidak hanya di wilayah Probolinggo, tapi juga sampai ke Kalimatan dan Aceh.

Bagi yang ingin menekuni bisnis, ia menyarankan agar menjadi reseller dahulu. Tujuannya untuk mengenal produk dan menguasai pasar. Setelah mengetahui target pasar, maka bisa membuka pasar sendiri. Tentunya, untuk modal tidak harus langsung besar.

"Bisa dari modal kecil dulu. Kalau semakin banyak yang mengenal produk kita, baru modal bisa ditambah. Saya memulai dari modal Rp 200 ribu dengan memanfaatkan ruang tamu," pungkasnya. (hn) Editor : Ronald Fernando
#bisnis pakaian anak