Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ponpes Cangaan di Bangil Banyak Melahirkan Ulama dan Tokoh Agama

Ronald Fernando • Rabu, 15 Februari 2023 | 15:12 WIB
MASIH DIPERTAHANKAN: Sebagian bangunan di Ponpes Cangaan adalah bangunan lawas. Tapi sebagian lagi sudah dimodernisasi. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
MASIH DIPERTAHANKAN: Sebagian bangunan di Ponpes Cangaan adalah bangunan lawas. Tapi sebagian lagi sudah dimodernisasi. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
Pondok pesantren Cangaan menjadi salah satu ponpes tertua di Indonesia. Sebelum harlah seabad, bahtsul masail digelar di pondok ini. Konon banyak ulama besar yang pernah mondok di sini. Salah satunya, KH. Syaikhona Kholil dari Bangkalan. Bahkan pendiri NU, Mbah Hasyim Ashari disebut-sebut pernah mondok di Cangaan Bangil.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

------------------------------------------------------------------------------------------------------

BANGUNANNYA masih tampak kuno. Joglo pada langgar yang masih memakai kayu. Disana juga ada pentongan khas pondok pesantren jaman dulu.

Nuansa itulah yang tergambar di ponpes  yang berlokasi di Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil. Fisik bangunan tua tersebut memang dipertahankan hingga sekarang. Mirip bangunan tua di era penjajahan Belanda dulu.

Memang ada sedikit perombakan yang dilakukan. Seperti pada lantainya. Tidak lagi menggunakan tanah ataupun semen. Melainkan sudah dipasangi keramik berwarna putih. Sehingga tampak ada sentuhan modernisasi pada bangunan tua itu.

Pengurus ponpes Cangaan memang sengaja mempertahankan bangunan tua yang ada. Karena menjadi salah satu citra di mana ponpes tersebut, merupakan bagian dari sejarah. Serta tempat perjuangan para ulama dalam menimba keilmuan di sana.

“Sebagian besar memang masih mempertahankan bangunan tua. Ada perubahan mikro yang dilakukan, untuk penyesuaian. Seperti lantainya yang menggunakan keramik. Sementara untuk bangunan, hampir tidak ada perubahan dan memang dipertahankan hingga sekarang,” kata Dewan Yayasan Ponpes Cangaan Bangil, KH. Kholili Kholil.

Photo
Photo
KH Kholil Kholili, salah satu pengurus ponpes Cangaan. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Gus Kholil-sapaannya menguraikan, bangunan tua di area ponpes Cangaan memang menjadi ciri khas. Karena keberadaan ponpes Cangaan memang sudah melintasi banyak zaman.

Meski tidak ada catatan pasti, keberadaan ponpes Cangaan disebut-sebut sudah ada sejak 1660 silam. Tak heran, jika keberadaan ponpes Cangaan, akhirnya dinobatkan sebagai salah satu ponpes yang masuk empat besar tertua di Indonesia oleh PB NU.

“Bukti fisik berdirinya Ponpes Cangaan tahun 1660 memang tidak kami temukan. Tapi kami percaya kalau berdirinya memang di era itu. Sementara, dalam manuskrip yang ada, memang tertulis tahun 1.700 sebagai berdirinya ponpes Cangaan. Dan hal itulah, yang akhirnya dijadikan dasar pendirian ponpes Cangaan,” cerita Gus Kholil.

Cerita pendirian ponpes Cangaan dimulai dari kehadiran KH Abdul Khodir atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Lowo Ijo datang ke Bangil. Mbah Lowo Ijo merupakan santri dari Sunan Bonang.

Konon, Sunan Bonang memerintahkan dua santrinya untuk menjelajah ke wilayah timur. Keduanya baru diperkenankan berhenti, setelah menemukan kayu untuk material bangunan. “Di sinilah (Cangaan, red), salah satu santri Sunan Bonang, yakni Mbah Lowo Ijo menetap dan mendirikan pondok Cangaan,” ungkap Gus Kholil.

Keberadaan ponpes Cangaan, sudah turun dari generasi ke generasi. Setelah Mbah Lowo Ijo meninggal, ponpes diteruskan oleh putranya, KH. Syaidin. Begitupun berikutnya, KH Syaidin akhirnya memasrahkan ponpes Cangaan ini ke putranya KH Abdul Latif di kisaran tahun 1.800 silam.

Pondok itupun diteruskan oleh KH Asyiq Abdullatif setelah KH Abdul Latif meninggal dunia. Hingga bertahun-tahun lamanya KH Asyiq Abdullatif mengurus ponpes Cangaan. Ia akhirnya menyerahkan ponpes tersebut kepada cucunya, KH Akhmad Kholili.

KH Akhmad Kholili sendiri merupakan salah satu putra dari Mbah Solkhah atas buah pernikahannya dengan KH Ali asal Wonorejo. Baru kemudian, KH Fahrurrozi menjadi penerus perjuangan abahnya, hingga kini KH Akhmad Kholili menjadi pengasuh ponpes.

“Sekitar tahun 2019 lalu, kepengurusan ponpes akhirnya diserahkan kepada KH Ridhoi, paman saya karena faktor kesehatan abah,” jelas Gus Kholil.

Dari generasi ke generasi, tak terhitung berapa banyak santri yang sudah dicetak dari ponpes Cangaan tersebut. Bahkan, beberapa di antaranya merupakan ulama kondang. Seperti KH. Syaikhona Kholil dari Bangkalan atau pun pendiri NU, KH Hasyim Ashari atau Mbah Hasyim.

Menurut Gus Kholil, adanya Mbah Hasyim pernah mondok bahkan diceritakan oleh mendiang Gus Dur. “Bahkan, banyak pula pendiri ponpes di Indonesia yang pernah nyantri di ponpes Cangaan,” terangnya.

Gus Kholil menguraikan, dulunya ponpes Cangaan hanya menerima santri laki-laki. Namun hal itu berubah. Di tahun 1987 silam ponpes Cangaan mulai menerima santriwati. Hal ini dilakukan, lantaran banyak masyarakat yang meminta untuk memondokkan anak putrinya. Saat ini ada ada sekitar 300 santri yang yang mondok di Cangaan. Ada lelaki dan perempuan.

Sejak berdiri, ponpes Cangaan memegang teguh konsep yang dibangun pendahulunya. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kesalafiaan pondok.

Seperti mengaji kitab kuning dengan cara lesehan. Atau ngaji khilapan di mana, ngaji cepat setiap Ramadan. Karena, pesantren bukan hanya identik dengan mencari ilmu. Tetapi di ponpes juga ada pengabdian santri kepada pondoknya.

Pengabdian santri yang dimaksudnya, seperti dengan mempertahankan ketradisionalan pondok. Mulai masak sendiri, menimba air dan lainnya. “Hal itu kami pertahankan. Meski, juga menyesuaikan perkembangan jaman. Termasuk dalam dunia pendidikan. Kami memadukan tradisional dengan modern. Jadi, selain mondok, santri juga bisa sekolah untuk menimba ilmu umum,” sampainya. (fun) Editor : Ronald Fernando
#ponpes tua di indonesia #Ponpes Cangaan #ponpes pasuruan