Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Petilasan Batu Rantai di Gempol, Tempat Rapat Para Sayid

Jawanto Arifin • Senin, 10 Oktober 2022 | 22:45 WIB
WISATA RELIGI: Petilasan Batu Rantai yang hingga kini dipercaya jadi tempat rapat para sayid. Kondisinya masih terjaga sampai sekarang. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
WISATA RELIGI: Petilasan Batu Rantai yang hingga kini dipercaya jadi tempat rapat para sayid. Kondisinya masih terjaga sampai sekarang. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
SEKILAS, petilasan Batu Rantai tampak seperti batu biasa. Tidak ada yang istimewa, selain ukurannya yang besar. Namun, Batu Rantai dipercaya merupakan tempat rapat para sayid.

Petilasan Batu Rantai terletak di Dusun Jurang Pelen Satu, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Bentuknya berupa batu berukuran besar.

Di sekelilingnya banyak pepohonan. Sehingga tak heran, kondisi di sekitar petilasan Batu Rantai itu rindang. Udaranya juga lumayan sejuk.

Photo
Photo
WISATA RELIGI: Petilasan Batu Rantai yang hingga kini dipercaya jadi tempat rapat para sayid. Kondisinya masih terjaga sampai sekarang. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Namun, tidak banyak yang tahu asal-usul pasti dari Batu Rantai itu. Selain cerita yang bersumber dari pitutur sesepuh desa dan disampaikan secara turun temurun.

“Batu ini sudah dari dulu ada. Namanya, Petilasan Batu Rantai. Cerita leluhur dan sesepuh desa, dulunya batu ini merupakan tempat berkumpulnya para sayid saat rapat,” beber Hasan Yusuf, tokoh masyarakat setempat.



Memang, sekitar 100 meter di sebelah utara petilasan itu ada sejumlah makam sayid. Antara lain, Imam Ghozali, Hamid, Abdulloh, Maulana Abdul Kodir, Ali Basa Sentot Prawirodirjo, Wijoyo Kumolo, Imam Salahudi, dan Hasanudin Tajeni.

Para sayid tersebut merupakan penyiar agama Islam. Mereka berasal dari Arab Saudi dan India. Setelah singgah di Banten, mereka melanjutkan perjalanan. Kemudian menetap di Desa Bulusari, Gempol, untuk menyiarkan agama Islam sampai akhir hayatnya.

“Di sekitaran petilasan ini dulunya ada perkampungan. Para sayid tinggal dan menempati kampung tersebut. Kemudian untuk rapat, pertemuan dan musyarawah ya di atas batu ini. Sekarang kampungnya hilang, jadi hutan mente,” ungkapnya.

Photo
Photo
MAKAM PARA SAYID: Tidak jauh dari lokasi petilasan, ada beberapa makam para sayid. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Batu itu sendiri berukuran panjang 4 meter dan lebar 3 meter. Kemudian tingginya 170 sentimeter hingga 2 meter. Posisi batu itu sendiri tidak menempel di atas tanah, tapi menancap.

“Kalau digali, ukuran batunya lebih besar ketimbang yang terlihat. Karena menancap ke tanah, bukan menempel di atas tanah,” bebernya.



Saat ini, batu sebelah barat sudah pecah. Sebab, sempat dipecah oleh orang-orang yang mencari batu. Namun, dulu batu itu utuh.

“Setelah memecah batunya, orangnya kemudian gila. Tak lama kemudian meninggal. Pasca kejadian itulah, sekarang sudah tidak ada yang berani memecah batu itu lagi,” cetus Kaji Lik, sapaan akrabnya.

Sekitar tahun 2002, dibangun pendapa terbuka untuk melindungi batu itu dari panas dan hujan. Semua warga pun bisa datang ke sana. Asalkan berperilaku sopan dan tidak aneh-aneh.

“Sampai sekarang baru berantai ini menjadi jujukan sejumlah warga dari luar daerah. Mereka datang ke petilasan ini dengan tujuan beragam. Termasuk di antaranya ngalap berkah,” tuturnya.

 

Tempat untuk Sedekah Dusun dan Desa

Lokasi Petilasan Batu Rantai bisa ditempuh dengan menggunakan motor atau mobil. Dari jalan raya nasional di Apollo, jaraknya sekitar tiga kilometer. Semenara dari kantor Desa Bulusari, sekitar dua kilometer saja melewati jalan berpaving.

“Warga dari sekitaran Pasuruan dan luar daerah kalau ke petilasan ini ada yang naik motor dan juga bawah mobil. Parkirnya langsung di depan pendapa Petilasan Batu Rantai,” kata Kades Bulusari Siti Nurhayati.

Selain dikeramatkan oleh warga, terutama di Dusun Jurang Pelen Satu dan Desa Bulusari, petilasan Batu Rantai juga dijadikan punden. Saat ruwat dusun dan desa, acara dilakukan di sekitar petilasan Batu Rantai ini.



“Di lokasi ini jadi tempat hiburan tayubnya. Tradisinya dari dulu memang seperti itu dan tetap berlanjut hingga sekarang,” bebernya.

Pemdes Bulusari sendiri menjadikan Petilasan Batu Rantai sebagai wisata religi di desa setempat. Selain juga Prasasti Cunggrang dan mata air Sumber Wuluh. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin
#petilasan batu rantai